Scroll untuk baca artikel
BeritaSejarah

Jaka Susuru dan Tanjung Singuru: Kerajaan yang Dilupakan Waktu

369
×

Jaka Susuru dan Tanjung Singuru: Kerajaan yang Dilupakan Waktu

Share this article

ppmindonesia.com.Jakarta– Di balik aliran deras Sungai Cisokan yang membelah Bojongpicung Kabupaten Cianjur Jawa Barat —atau Bonjopi, begitu penduduk lokal menyebutnya—terdapat kisah yang nyaris terlupakan: sebuah kerajaan megah bernama Tanjung Singuru, tempat Jaka Susuru memulai takdirnya sebagai raja.

Nama Jaka Susuru mungkin asing bagi telinga generasi kini, namun dalam khazanah lisan dan teks Pantun Sunda kuno, ia adalah anak dari Prabu Siliwangi VII, utusan dari Pajajaran untuk membangun kerajaan di timur: di hutan ganggong si magonggong, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sukarama.

Dengan bantuan para dewata dan jimat Makuta Siger Kancana, sebuah kerajaan ajaib berdiri lengkap dengan benteng lima lapis, prajurit puluhan ribu, dan takhta bagi sang raja muda. Namun kisah Jaka Susuru bukan sekadar soal pendirian kerajaan—ia adalah tentang cinta, pengkhianatan, dan kekuatan janji yang menembus zaman.

Kerajaan dari Awan dan Angin

Tanjung Singuru bukan kerajaan biasa. Dalam cerita turun-temurun, istana Jaka Susuru berdiri di antara awan dan tanah, tersembunyi dari pandangan manusia biasa. Bentengnya lima lapis: satu dari bambu petuk, satu dari akar pohon mindi, satu dari tiupan embun dini hari, satu dari asap dupa yang tak pernah padam, dan yang terakhir dari doa yang terpatri dalam mantra para karuhun.

Setiap hari, raja muda itu duduk di bale paseban, ditemani dua istrinya: Dewi Ayu Kaesih, putri jin penunggu gunung, dan Nyi Sawitri, gadis dari bumi yang telah diselamatkannya dari gangguan makhluk halus. Dari persandingan mereka lahirlah dua anak: Sagara dan Lasmini, masing-masing mewarisi kemampuan berbeda—yang satu mengendalikan air, satunya lagi bicara dengan pohon dan binatang.

Namun kebahagiaan itu tak abadi. Seorang patih dari Pajajaran datang membawa kabar: Prabu Siliwangi mangkat, dan terjadi perebutan takhta. Tanjung Singuru diminta bergabung kembali ke induk kerajaan. Tapi Jaka Susuru menolak, menganggap kerajaannya sebagai amanat pribadi dari ayahandanya, bukan sekadar provinsi bawahan.

Kudeta di Tengah Kabut

Penolakan itu menjadi awal dari bencana. Suatu malam, kabut tebal menyelimuti kerajaan. Dalam gelap, para prajurit yang telah disusupi pengaruh patih Pajajaran memberontak. Mereka membakar paseban, menculik Dewi Kaesih, dan menyeret Nyi Sawitri keluar istana. Jaka Susuru berjuang sekuat tenaga, namun kekuatan mistik yang dulu melindunginya perlahan memudar.

Dalam pelarian, ia menyembunyikan anak-anaknya di dalam gua batu di tepi Cisokan, dan kembali bertarung seorang diri. Namun benteng doa yang melindungi istananya telah patah: tak ada yang tersisa selain abu, dan cerita yang terdesir lirih dalam angin.

Silsilah yang Membisik

Hingga kini, masyarakat Bojongpicung masih menyimpan kisah ini. Dalam lisan tetua, dalam pantun tua yang dilagukan anak-anak di tepian sawah. Ada yang percaya keturunan Jaka Susuru masih hidup, menyamar sebagai manusia biasa. Ada yang mengatakan Lasmini menjadi roh penunggu hutan Ciawitali, dan Sagara adalah penunggu mata air Cisokan.

Cerita ini tak tercatat dalam sejarah resmi. Namun sejarah tak selalu dibentuk oleh tinta dan kertas. Kadang, ia mengalir dalam darah, bergema dalam nyanyian bambu, dan hidup dalam ingatan orang-orang yang tak pernah melupakan tanah leluhurnya.

Jaka Susuru mungkin tak ditemukan dalam buku sejarah, tapi namanya hidup dalam denyut Bojongpicung. Dan selama sungai masih mengalir, dan angin masih berbisik di antara pohon-pohon, cerita itu akan terus berlanjut.(acank)

Example 120x600