ppmindonesia.com.Bogor– Indonesia dikenal sebagai negeri religius. Rumah ibadah berdiri megah, kitab suci dibaca merdu, dan slogan-slogan spiritual terpasang di mana-mana. Namun, di tengah gegap gempita simbol-simbol keagamaan itu, kita menyaksikan kontradiksi yang mencolok: krisis kejujuran, korupsi merajalela, keadilan tak merata, dan empati yang kian tumpul.
Masyarakatnya beragama, tapi tak bersungguh-sungguh.
Fenomena ini bukan sekadar kelalaian individu, tetapi gejala sosial yang menunjukkan bagaimana kemunafikan telah menjelma menjadi budaya diam—dilihat, dirasakan, namun dibiarkan. Semua tahu ada yang salah, tapi tak ada yang bicara. Semua hafal rukun iman, tapi lupa menerapkannya dalam hidup.
Iman yang Tak Mengakar dalam Tindakan
Dalam QS Al-Baqarah [2]:8-9, Allah mengungkap perilaku orang-orang yang mengaku beriman padahal tidak:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ ٨يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ ٩
“Dan di antara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak sadar.”
Ayat ini menyentuh akar masalah kita hari ini. Kita terlalu sering menyamakan ucapan dengan iman, padahal iman yang sejati menuntut kesungguhan dalam amal dan konsistensi dalam kejujuran.
Jika agama hanya menjadi bagian dari rutinitas formal—tanpa kesungguhan moral, tanpa keberanian menegakkan kebenaran—maka itu bukan keberagamaan, tapi hanya topeng identitas.
Munafik: Bukan Sekadar Sifat Pribadi
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanat ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hari ini, tiga ciri itu bukan hanya ditemukan pada individu, tapi telah merembes ke dalam struktur sosial dan budaya politik. Kita menyaksikan pemimpin yang ingkar janji, lembaga yang penuh dusta, dan publik yang acuh terhadap pengkhianatan amanah.
Yang lebih mengkhawatirkan, sikap ini sudah dianggap biasa. Kemunafikan tidak lagi dianggap aib. Ia hanya dibisikkan, tak pernah disuarakan. Ia menjadi bagian dari budaya diam yang melembaga—diam terhadap korupsi, terhadap ketidakadilan, terhadap kebohongan publik.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
“Kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.”
Dan lebih dari itu, kebenaran yang diam adalah kebenaran yang dikhianati.
Beragama Tanpa Komitmen: Sebuah Bahaya
Di banyak ruang, agama hanya dipakai sebagai pelengkap pidato, hiasan baliho, atau alat legitimasi. Ia tidak lagi menjadi daya dorong perubahan moral. Ketika agama kehilangan roh perjuangannya, maka ia tak lagi mampu menggerakkan nurani umat. Agama menjadi bahan pertunjukan, bukan pembebasan.
وَيَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالرَّسُوْلِ وَاَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَۗ وَمَآ اُولٰۤىِٕكَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ ٤٧
“Dan mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).’ Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, dan mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS An-Nur [24]: 47)
Ayat ini memberi isyarat penting: bahwa iman yang tidak konsisten dengan amal adalah bentuk pengingkaran yang nyata.
Maka tidak heran jika bangsa ini terus terpuruk bukan karena krisis ekonomi semata, tetapi karena krisis kejujuran spiritual. Kita punya banyak orang beragama, tapi sedikit yang bersungguh-sungguh dalam menegakkan amanah agama.
Diamnya Orang Baik, Bangkitnya Kezaliman
Kita menyaksikan pula fenomena diamnya orang baik. Para pemuka agama enggan bicara lantang karena takut dianggap oposan. Aktivis kehilangan daya karena dibungkam atau dikriminalisasi. Masyarakat awam belajar untuk tidak peduli karena merasa semua sudah biasa.
Padahal, sebagaimana kata Martin Luther King Jr:
“The ultimate tragedy is not the oppression and cruelty by the bad people but the silence over that by the good people.”
Di sinilah letak kemunafikan struktural: ketika sistem sosial membuat orang-orang saleh menjadi pasif, dan membiarkan yang salah terus berjalan.
Saatnya Menjadi Umat yang Bersungguh-sungguh
Jika umat ini ingin keluar dari krisis moral dan kejumudan sosial, maka langkah pertama adalah meninggalkan budaya kemunafikan diam-diam.
Kita perlu menghidupkan kembali agama sebagai kekuatan etis dan spiritual, bukan hanya simbol dan seremonial.
Allah telah memperingatkan:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”
(QS An-Nisa [4]: 145)
Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menggugah kesadaran kolektif: bahwa keimanan yang tidak dilandasi kesungguhan, bukanlah cahaya, melainkan kegelapan yang menipu.
Bangkitnya bangsa dimulai dari bangkitnya hati.
Dan hati yang hidup adalah hati yang jujur dalam iman, teguh dalam kebenaran, dan berani menolak kemunafikan—baik yang disuarakan, maupun yang dibungkam oleh budaya diam.(husni fahro)
* Husni Fahro; peminat kajian Nasionalis Religius dan solidarits sosial, alumni IAIN Sumatera Utara tinggal di Bogor.



























