Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Caring dan Sharing: Koperasi untuk Kesejahteraan Pesisir

309
×

Caring dan Sharing: Koperasi untuk Kesejahteraan Pesisir

Share this article

Penulis : emha | Editor : asyary

Usup Supriyana dan Menik Soemasroh hadir sebagai narasumber dalam Pelatihan Kader Dakwah Bil Hal, 5 Juli 2025 – Menginspirasi gerakan dakwah melalui pemberdayaan dan aksi nyata."(foto.doc ppm)

ppmindonesia.com.Jakarta– Laut di negeri ini membentang luas, penuh dengan rezeki yang dijanjikan Tuhan. Namun, di balik birunya air dan riuh debur ombak, ada kisah getir masyarakat pesisir yang tetap saja bergulat dengan kemiskinan. Negeri maritim, katanya. Namun rakyat pesisir, yang paling dekat dengan laut, justru paling jauh dari kesejahteraan.

Kesadaran itulah yang mendorong lahirnya gerakan kecil namun berdampak besar: koperasi pemberdayaan pesisir. Di forum Pelatihan Kader Dakwah Bil Hal yang diselenggarakan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) awal Juli lalu di Islamic Center, kisah itu disampaikan dengan penuh semangat oleh Usup Supriyatna, Ketua Koperasi Mina Agar Makmur.

Usup memulai ceritanya dengan mengenang pesan yang ia terima dari guru dan seniornya, sepuluh tahun lalu: caring dan sharing. Dua kata sederhana, yang berarti berani peduli dan mau berbagi. Dari prinsip itulah, koperasi yang ia rintis perlahan menganyam jaring-jaring kesejahteraan di antara nelayan yang sebelumnya hanya menggantungkan nasib pada hasil tangkapan harian.

“Kita ini negara maritim, tapi masih impor garam. Negara agraris, tapi masih impor beras. Kita kaya laut, tapi masyarakat pesisir tetap miskin,” ujarnya di hadapan para kader muda.

Caring, bagi Usup, berarti berani melihat persoalan dari dekat—bahwa masyarakat pesisir tak cukup hanya diberi bantuan sesaat, tetapi harus diajak bangkit lewat upaya kolektif yang terorganisasi. Sharing, berarti mau berbagi pengetahuan, peluang, dan hasil kerja agar semua merasakan manfaat.

Dari sinilah lahir gagasan untuk memanfaatkan potensi rumput laut yang melimpah namun kurang dihargai. Banyak yang menganggap rumput laut hanya sampah pantai, padahal sesungguhnya ia adalah komoditas dengan nilai ekonomi tinggi. Melalui koperasi, mereka mengolah rumput laut menjadi produk-produk inovatif: mie rumput laut yang sehat dan bergizi, serta pupuk cair organik Samuko yang kini dipakai para petani di berbagai daerah.

Jaringan yang mereka bangun tidak berhenti di satu titik. Dari Karawang hingga Cirebon, koperasi mereka menularkan semangat yang sama: bahwa masyarakat pesisir punya daya untuk sejahtera jika mau bekerja sama dan berinovasi.

“Kami tidak mengambil laut, apalagi mengkaplingnya. Kami hanya mengelola rezeki yang sudah Allah sediakan, dengan cara yang lebih cerdas,” kata Usup. Ia menegaskan, pengkaplingan laut bertentangan dengan undang-undang, tetapi kerja sama untuk mengelola hasilnya sah dan harus terus diperkuat.

Ia mengutip Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 14, tentang laut sebagai sumber daging segar dan perhiasan bagi manusia. “Kalau kita mau peduli, laut bukan hanya memberi makan hari ini, tapi juga masa depan,” ujarnya.

Cerita ini memberi pesan kuat bahwa koperasi bukan sekadar lembaga simpan pinjam, melainkan sarana solidaritas yang nyata. Dalam koperasi, ada kesempatan untuk belajar mengelola sumber daya, berbagi risiko, dan mencicipi hasil secara bersama-sama.

Bagi kader-kader muda yang hadir, cerita ini menjadi pengingat bahwa pemberdayaan tidak cukup dengan ceramah dan seruan. Harus ada keberanian untuk turun, bekerja sama, dan menemukan peluang di balik tantangan. Tauhid, sebagaimana digariskan PPM, tak berhenti di kepala atau mimbar, tetapi juga harus berjalan di pasar, di tambak, dan di jaring nelayan.

“Lakukan apa yang kamu tahu, nanti Allah akan berikan yang kamu belum tahu,” begitu pesan Usup di akhir paparannya.

Caring dan sharing, yang sederhana namun penuh makna, terbukti mampu mengubah kehidupan masyarakat pesisir. Dari jaring ikan ke jaring kesejahteraan, dari rumput laut menjadi rezeki yang membaikkan banyak orang. Di sinilah koperasi menemukan wajah sejatinya: bukan hanya lembaga ekonomi, tetapi juga jalan untuk merajut keadilan sosial.

Semoga lebih banyak lagi yang berani memulai. Karena dari pesisir kecil, kadang lahir gelombang besar perubahan.(emha)

Example 120x600