ppmidonesia.com.Jakarta – Laut bukan hanya bentangan biru di cakrawala. Bagi sebagian orang, ia adalah kampung halaman, ladang kehidupan, dan juga harapan. Namun, bagi sebagian besar masyarakat pesisir kita, laut juga bisa menjadi simbol ironi: negeri maritim yang luas, tetapi nelayannya miskin, rakyatnya masih menggantungkan garam dan ikan dari impor.
Di sebuah pelatihan kader dakwah bil hal yang digelar Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) di Islamic Center pada 5–6 Juli 2025, ironi itu diceritakan kembali dengan lantang. Bukan hanya untuk mengkritik, tetapi untuk menemukan jalan keluar. Salah satu sesi yang paling memikat peserta adalah kisah dari Usup Supriyatna, Ketua Koperasi Mina Agar Makmur, yang menuturkan perjalanan panjang inovasi pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Bangsa Indonesia ini negara maritim, tetapi rakyat pesisir tetap miskin. Kita negara agraris, tetapi beras masih impor. Kenapa? Karena kita jarang mengelola apa yang sudah kita miliki,” ujarnya membuka cerita.
Sepuluh tahun lalu, ia belajar dari pesan sederhana gurunya: caring dan sharing. Berbagi pengalaman dan keberanian untuk memulai sesuatu, walau kecil. Dari jaring ikan yang sehari-hari digunakan masyarakat pesisir, ia bersama timnya merajut jaring baru: jaring kesejahteraan. Mereka mendirikan koperasi yang tak hanya mengurus hasil tangkapan nelayan, tetapi juga memikirkan bagaimana hasil itu bisa bernilai tambah.
Dari laut, ia melihat potensi yang selama ini luput: rumput laut. Banyak yang hanya menjadikannya sampah, namun bagi Usup, itu adalah emas hijau yang belum digarap maksimal. Dari rumput laut, mereka memproduksi mie rumput laut—sehat, bergizi, dan ramah lingkungan. Mereka juga meracik pupuk Samuko, pupuk cair organik dari rumput laut, yang kini dipakai para petani di beberapa daerah.
“Kita tidak hanya memanen laut, tetapi juga memanen ide,” katanya. “Sukses itu bukan keberuntungan. Ia harus diikhtiarkan dengan target, perencanaan, niat baik, dan keyakinan bahwa Allah akan menuntun kita.”
Bagi Usup, prinsipnya sederhana: Lakukan apa yang kamu tahu, nanti Allah akan memberi yang kamu tidak tahu. Itu sebabnya koperasi mereka tak berhenti hanya di satu produk. Jaringan pemberdayaan masyarakat pesisir yang mereka bentuk kini membentang dari Karawang hingga Cirebon, membawa inovasi yang lahir dari laut untuk kembali ke laut.
Cerita dari pesisir ini bukan hanya tentang usaha ekonomi, tetapi juga tentang pandangan hidup. Sebagaimana dikutipnya dari Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 14: “Dan Dia (Allah) yang menundukkan laut untukmu, agar kamu dapat memakan daging segar darinya (ikan), dan mengeluarkan perhiasan darinya yang kamu pakai…” Bagi Usup, ayat ini bukan hanya bahan bacaan, melainkan peta jalan untuk bekerja.
Tentu saja, jalan itu tak selalu mulus. Dalam diskusi pelatihan, seorang peserta sempat bertanya, “Bagaimana dengan pengkaplingan laut? Bukankah lahan pesisir sudah banyak yang dikuasai?” Usup menjawab tegas, bahwa pengkaplingan laut bertentangan dengan undang-undang. Apa yang mereka lakukan bukanlah mengambil alih laut, tetapi mengelola hasilnya dengan inovasi, kerja sama, dan kolaborasi.
Di tangan kader-kader seperti Usup, laut tidak lagi hanya menjadi nasib, tetapi menjadi sumber daya yang dikelola dengan niat baik dan kecerdikan. Laut, ladang, dan lumbung tidak hanya disyukuri dengan doa, tetapi dengan kerja nyata dan inovasi yang membumi.
Pelatihan dakwah bil hal yang digagas PPM memang mengajarkan bahwa tauhid tak berhenti di mimbar, melainkan harus melangkah ke pasar, ladang, dan laut. Bahwa menjadi khalifah di bumi bukan hanya kewajiban, tetapi juga kehormatan yang mesti dijalani dengan ilmu, keberanian, dan cinta pada tanah air.
Dari mie rumput laut hingga pupuk Samuko, inovasi yang lahir dari pesisir ini memberi satu pesan penting: kita tak kekurangan potensi, hanya kadang kita malas untuk melihat, menggali, dan merawatnya. Dan di tangan orang-orang yang mau merawatnya, potensi itu berubah menjadi kesejahteraan.
Laut tetap biru, tetapi kini ada harapan yang lebih hijau dari pesisir kita. Dari jaring ikan ke jaring kesejahteraan, dari rumput laut ke kesejahteraan umat. Semoga semakin banyak yang belajar dari cerita ini.(acank)



























