ppmindonesia.com.Riau — Di sebuah kebun sederhana di pinggir kota, di bawah naungan pohon dan langit yang bersih, tumpukan sampah organik perlahan berubah menjadi kompos yang subur. Di sekelilingnya, para santri pesantren sibuk membolak-balik tanah, memungut cacing, dan mencatat pelajaran hari itu.
Pemandangan ini terjadi dalam workshop di Kompentren Sumbar Riau di Pekanbaru Riau. bertajuk “Mengelola Sampah dan Budidaya Cacing” yang digelar Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA), Ahad (6/7/2025). Acara ini dipandu langsung oleh Guntoro Soewarno, Ketua IPAMA, yang dikenal sebagai penggiat pertanian organik dan kemandirian ekonomi pesantren.
Tujuh pesantren se-Riau mengirimkan perwakilannya untuk belajar bersama. Namun, yang mereka bawa pulang bukan hanya pengetahuan teknis, tetapi juga kesadaran baru: bahwa mengelola sampah bukan sekadar upaya ekonomi atau kebersihan lingkungan, melainkan bagian dari amanah sebagai khalifah di bumi.
Sampah yang Menjadi Berkah
Di tengah dominasi pupuk dan pestisida kimia yang merusak tanah, gagasan mengelola sampah menjadi kompos organik terasa segar. Sampah dapur yang biasanya hanya dibakar atau dibuang, ternyata bisa menyuburkan kebun, menggantikan pupuk kimia, dan memberi manfaat ekonomi.
Dalam presentasinya, Guntoro mengungkapkan bahwa budidaya cacing di lahan 300 meter persegi bisa menghasilkan antara Rp8 hingga 15 juta per bulan. “Cacing-cacing ini adalah pasukan sunyi yang menyuburkan bumi. Sampah yang kita anggap menjijikkan justru menjadi berkah kalau kita kelola dengan benar,” ujarnya.
Bagi para santri, pelatihan itu juga membuka mata bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga bisa menjadi pusat gerakan hijau yang memberi contoh nyata pada masyarakat.
Merawat Amanah
Konsep ini bukan tanpa dasar. Dalam QS Al-Baqarah: 30, Allah berfirman:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ…٣
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Aku hendak menjadikan khalifah di bumi…”
Menurut Dr. Fatmah Afifah, pakar ekoteologi UIN Jakarta, ayat itu bukan hanya tentang kepemimpinan manusia atas makhluk lain, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk menjaga bumi. “Kerusakan lingkungan yang kita lihat hari ini adalah tanda bahwa kita melupakan amanah itu,” katanya.
Fakta-fakta memperkuat kegelisahan itu: lebih dari 70 persen lahan pertanian Indonesia mengalami degradasi akibat bahan kimia (Kementerian Pertanian, 2023), sementara lebih dari 3 juta ton pestisida sintetis mencemari air tanah setiap tahun (KLHK, 2022).
Langkah Nyata dari Pesantren
Setelah pelatihan, para peserta berkomitmen membawa praktik ini ke pesantren masing-masing. Lahan kosong akan disulap menjadi kebun produktif, sampah organik diolah, dan budidaya cacing dijalankan untuk menyuburkan tanah sekaligus menambah penghasilan.
“Kami ingin pesantren menjadi teladan dalam kemandirian ekonomi sekaligus merawat bumi,” ujar salah seorang peserta.
Sebagai lembaga pendidikan yang membentuk karakter, pesantren memang memiliki posisi strategis untuk memulai gerakan hijau ini. Apa yang mereka kerjakan hari ini akan menjadi pelajaran bagi para santri, juga masyarakat luas, bahwa bumi bukan hanya tempat berpijak tetapi juga amanah yang harus dijaga.
Bukan Sekadar Wacana
Krisis lingkungan hari ini memanggil semua pihak untuk bertindak. Namun bagi umat Islam, menjaga bumi bukan hanya panggilan moral, melainkan konsekuensi iman.
Barangkali sudah saatnya umat Islam memimpin bukan hanya dengan khutbah dan wacana, tetapi dengan tindakan nyata: mencangkul tanah, mengelola sampah, merawat cacing, dan menghijaukan bumi.
Sebagaimana pesan seorang petani tua yang dikutip Guntoro di akhir workshop: “Tanah yang kita sakiti hari ini, adalah air mata anak cucu kita esok.”
Dan dari kebun kecil di Riau itu, kita belajar: bahwa merawat bumi tak selalu dimulai dari yang besar, tetapi dari keberanian mengelola sampah dan merawat amanah.(acank)



























