Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Taharrāu Rasyadā: Merdeka dalam Beragama, Mantap dalam Iman

299
×

Taharrāu Rasyadā: Merdeka dalam Beragama, Mantap dalam Iman

Share this article

Punulis : husni fahro| Edditor; asyary

ppmindonesia.com.Bogor– Di tengah derasnya arus tradisi, budaya populer, dan tekanan sosial, banyak orang masih menjalani agama hanya karena ikut-ikutan. Mereka shalat karena orang tua mengajarkan, berpuasa karena semua orang berpuasa, atau berhijrah karena tren. Padahal, Al-Qur’an memuji mereka yang beriman dengan penuh kesadaran, memilih jalan Allah dengan kebebasan pikiran dan hati — bukan karena terpaksa atau meniru.

Istilah taharrāu rasyadā, yang disebut dalam Surah Al-Jinn (72:14), menggambarkan sikap seperti itu:

وَّاَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَمِنَّا الْقٰسِطُوْنَۗ فَمَنْ اَسْلَمَ فَاُولٰۤىِٕكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا ۝١٤

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang berserah diri, dan di antara kami ada pula orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa yang berserah diri, maka mereka itulah yang telah mencari petunjuk dengan kesadaran.”

Kata taharrāu rasyadā berarti “mencari petunjuk dengan penuh kesadaran dan kemerdekaan”. Inilah kriteria muslim sejati: memilih iman bukan karena warisan atau tekanan, melainkan karena keyakinan yang tumbuh dari pencarian dan penghayatan.

Sayangnya, fenomena ikut-ikutan (taklid buta) masih marak. Padahal, Al-Qur’an dengan tegas melarang kita mengikuti sesuatu yang tidak kita pahami. Dalam Surah Al-Isra’ (17:36) disebutkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”

Pesan ini jelas: iman yang dibangun tanpa ilmu dan kesadaran adalah rapuh, dan tidak akan membawa kepada keleluasaan hidup yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dengan benar.

Muhammad Abduh, pembaharu pemikiran Islam, pernah mengingatkan: “Tidak ada paksaan dalam memilih kebenaran. Setiap manusia diberi akal untuk memilih dengan sadar dan bertanggung jawab.”

Imam Al-Ghazali juga menegaskan dalam Ihya’ Ulumiddin: “Orang yang beriman karena taklid ibarat orang buta yang dituntun. Ia berjalan, tetapi tidak tahu ke mana arah sebenarnya.”

Karena itu, menjadi muslim yang merdeka dalam beragama berarti menolak menjadi sekadar pengikut arus. Itu berarti berani berpikir, bertanya, belajar, dan memutuskan untuk berserah diri kepada Allah dengan pemahaman yang matang.

Lebih jauh, mereka yang taharrāu rasyadā bukan hanya beriman dengan sadar, tetapi juga teguh dalam ujian. Dalam Surah Fussilat (41:30–31), Allah menjanjikan ketenangan kepada mereka:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا 

وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ۝٣٠ نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَۗ ۝٣١

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat-malaikat turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.”Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (surga) kamu akan memperoleh apa yang kamu sukai dan apa yang kamu minta.

Beragama dengan merdeka dan mantap seperti ini tidak hanya membawa kedamaian batin, tetapi juga mengangkat martabat manusia. Ia tak lagi sekadar bagian dari massa yang tak tahu arah, tetapi menjadi pribadi yang sadar, beriman dengan ilmu, dan istiqamah di jalan Allah.

Hidup yang demikian adalah anugerah bagi mereka yang berani mencari, bertanya, dan memilih kebenaran dengan penuh kesadaran. Mereka yang taharrāu rasyadā telah merdeka dalam beragama, dan karena itu mantap dalam iman. (husni fahro) 

* Husni Fahro; peminat kajian  Nasionalis Religius dan solidarits sosial, alumni IAIN Sumatera Utara tinggal di Bogor.

 

Example 120x600