Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Menjadi Indonesia yang Beriman, Bukan yang Bermuka Dua

348
×

Menjadi Indonesia yang Beriman, Bukan yang Bermuka Dua

Share this article

Punulis : husni fahro| Edditor; asyary

ppmindonesia.com.Bogor – Setiap tahun, jutaan warga Indonesia dengan penuh semangat mengucapkan “Allahu Akbar” di hari raya, menyebut nama Tuhan dalam pidato kenegaraan, bahkan menuliskan Ketuhanan sebagai sila pertama Pancasila. Indonesia dikenal dunia sebagai negeri religius — dengan jumlah masjid terbanyak, lembaga pendidikan keagamaan menjamur, dan ritual keagamaan menjadi bagian dari tradisi nasional.

Namun, di balik tampilan keagamaan yang semarak itu, ada pertanyaan kritis yang mesti diajukan: apakah bangsa ini benar-benar beriman dalam makna Qur’ani, ataukah sedang terperosok dalam budaya bermuka dua — berwajah suci di ruang publik, namun menormalisasi kebohongan, kemunafikan, dan ketidakadilan dalam praktik keseharian?

Iman Bukan Klaim, Tapi Komitmen

Allah Swt. mengingatkan dalam QS Al-Baqarah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ ۝٨يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ ۝٩

 “Dan di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,’ padahal mereka sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari.” (QS Al-Baqarah [2]: 8–9)

Ayat ini bukan hanya mengkritik lisan yang beriman tanpa hati yang tunduk, tetapi juga menggambarkan fenomena sosial dan politik yang menjadikan agama sebagai alat legitimasi, bukan nilai hidup.

Indonesia, dalam konteks ini, berisiko terperangkap dalam perangkap yang sama: mengaku beriman, namun kehilangan keberanian moral untuk berlaku adil dan jujur.

Wajah Ganda: Simbol Religius dan Praktik Sekuler

Banyak pejabat negeri ini mengenakan peci dan bersyahadat dalam sumpah jabatan, namun tetap terlibat dalam praktik korupsi dan nepotisme. Banyak tokoh ormas berbicara tentang moral, namun menyebarkan kebencian dan hoaks. Bahkan, institusi negara kerap menggelar acara keagamaan seremonial, sementara kebijakannya menindas rakyat kecil dan membiarkan hukum dipermainkan.

Buya Hamka pernah menyindir dengan tajam:

“Tidak sedikit orang yang salat, tapi masih memakan yang bukan haknya. Itu bukan Islam, itu akal-akalan.”

Jika bangsa ini ingin disebut beriman, maka iman itu harus hadir dalam keadilan sosial, kebersihan birokrasi, keberpihakan pada yang lemah, dan penghormatan terhadap kebenaran — meski pahit.

Munafik: Ciri Bangsa yang Enggan Jujur pada Tuhan dan Rakyat

Dalam QS At-Taubah, Allah menjelaskan ciri orang-orang munafik:

وَيَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ اِنَّهُمْ لَمِنْكُمْۗ وَمَا هُمْ مِّنْكُمْ وَلٰكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَّفْرَقُوْنَ ۝٥٦لَوْ يَجِدُوْنَ مَلْجَاً اَوْ مَغٰرٰتٍ اَوْ مُدَّخَلًا لَّوَلَّوْا اِلَيْهِ وَهُمْ يَجْمَحُوْنَ ۝٥٧

“Mereka bersumpah kepada Allah bahwa mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukan dari golonganmu; tetapi mereka adalah orang-orang yang penakut. Jika mereka mendapat tempat berlindung atau gua-gua atau lubang-lubang (untuk bersembunyi), pasti mereka pergi ke sana dengan cepat.” (QS At-Taubah [9]: 56–57)

Munafik adalah mereka yang tidak sungguh-sungguh berjuang bersama nilai kebenaran. Mereka hadir ketika aman, hilang ketika dibutuhkan. Mereka berbicara tentang bangsa dan Tuhan, tapi lari dari tanggung jawab sosial. Sayangnya, kemunafikan ini tidak lagi bersifat individu — ia sudah menjadi budaya kolektif yang dianggap lumrah.

Menjadi Indonesia yang Beriman: Jalan Panjang Menuju Kejujuran

Keimanan sejati tidak hadir dari kata-kata, tapi dari ketundukan hati dan keberanian membela kebenaran. Bangsa yang benar-benar beriman adalah bangsa yang:

Tidak hanya menyebut nama Allah, tapi juga menjalankan amanah-Nya dalam sistem hukum dan pemerintahan.

Tidak hanya sibuk mengurus simbol agama, tapi juga memperjuangkan substansinya: keadilan, kasih sayang, kejujuran, dan kesetaraan.

Tidak hanya menuntut rakyat taat, tapi juga membuat pemimpin takut kepada Tuhan, bukan kepada opini publik atau geng kekuasaan.

Sebagaimana firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٨

 “Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr [59]: 18)

Membangun Bangsa dengan Iman, Bukan Imajinasi

Indonesia tidak butuh lagi pencitraan religius. Yang dibutuhkan adalah kebangkitan moral dan keberanian spiritual. Kita harus berhenti menjadi bangsa yang hanya tampak taat, tapi penuh manipulasi dan kepalsuan. Kita harus membangun sistem yang jujur, amanah, dan bersih — yang mewujudkan nilai-nilai wahyu, bukan sekadar menamainya.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ۝١٤٥

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada pada tingkatan paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS An-Nisa [4]: 145)

Ayat ini adalah peringatan keras: jika kita terus hidup dalam budaya bermuka dua, maka kehancuran bukan soal jika, tapi soal waktu.

Maka mari kita bangun Indonesia yang bukan hanya tampak beriman, tapi menjadi bangsa yang benar-benar takut kepada Tuhan dalam perbuatan — bukan hanya dalam ucapan.(husni fahro)

 * Husni Fahro; peminat kajian  Nasionalis Religius dan solidarits sosial, alumni IAIN Sumatera Utara tinggal di Bogor.

Example 120x600