Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Pertanyaan yang Membakar Dogma, Bukti yang Mengubur Takhayul

282
×

Pertanyaan yang Membakar Dogma, Bukti yang Mengubur Takhayul

Share this article

Penulis; rohim n| Editor; asyary|

ppmindonesia.com.Bogor – Di setiap sudut sejarah, kita melihat manusia kerap dibelenggu oleh dua hal: dogma dan takhayul. Yang satu mengunci pikiran dalam kebenaran yang dipaksakan, yang lain menyesatkan nalar dalam ketakutan akan yang imajiner. Keduanya, selama berabad-abad, telah menjadi alat kuasa yang menindas akal sehat dan kemerdekaan berpikir.

Namun, sejak Galileo mengarahkan teleskopnya ke langit dan Darwin menyelami keajaiban seleksi alam, sains dan rasionalitas mulai membuka pintu yang selama ini terkunci rapat. Perlahan namun pasti, dogma runtuh di hadapan bukti; takhayul pun sirna di bawah sinar nalar.

Sains bekerja dengan sederhana namun revolusioner: dengan pertanyaan, pengamatan, dan pembuktian. Dogma bahwa bumi adalah pusat alam semesta patah oleh perhitungan Copernicus, pengamatan Galileo, dan hukum Kepler. Keyakinan bahwa penyakit datang karena dosa atau roh jahat terbantahkan oleh mikroskop Louis Pasteur yang menemukan kuman. Bahkan Newton, sang raksasa fisika klasik, menyaksikan teorinya direvisi oleh Einstein melalui relativitas.

Prinsip yang sama berlaku untuk takhayul. Petir yang dulu dianggap murka dewa ternyata hanyalah percikan listrik raksasa di langit. Gerhana yang dulu disakralkan sebagai pertanda buruk kini menjadi tontonan langka yang dirayakan. Bumi yang dulu dikira datar kini terbukti bulat berkat foto-foto satelit dan perjalanan ke angkasa.

Bukti dan nalar bekerja sama seperti dua tangan yang membersihkan wajah peradaban: satu meruntuhkan mitos yang memaksa, satu lagi menyapu bersih ketakutan yang tak beralasan.

Penting untuk diingat, sains bukanlah musuh agama, dan rasionalitas bukanlah penghancur keyakinan. Yang mereka lawan adalah klaim kebenaran yang menutup diri dari pertanyaan dan menolak bukti. Keduanya mengajak kita untuk percaya dengan dasar, bukan sekadar ikut-ikutan atau karena takut dihukum.

Dalam dunia yang makin kompleks, kemerdekaan intelektual bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Kita membutuhkan masyarakat yang tidak mudah diintimidasi oleh dogma, tidak gampang dipermainkan oleh takhayul, tetapi berani bertanya: “Apa buktinya?”, “Bagaimana kita tahu ini benar?”, dan “Apakah ada penjelasan yang lebih masuk akal?”

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah pelita yang membakar dogma hingga tinggal abu. Bukti-bukti yang dikumpulkan dengan teliti adalah sekop yang mengubur takhayul hingga tak lagi menghantui.

Karena itu, mari kita rawat semangat ingin tahu, keberanian mempertanyakan, dan kerendahan hati untuk mengakui bila kita salah. Dogma dan takhayul hanya bisa bertahan jika kita berhenti bertanya dan menolak melihat.

Dalam terang bukti dan akal sehat, kita menemukan kemerdekaan berpikir. Dan di sanalah, manusia benar-benar menjadi manusia. (rohim n)

*Rohim Nasution sebagai aktifis senior PPM, pernah memipin sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PPM Nasional (1999- 2004) dalam advokasi dan pemberdayaan masyarakat 

Example 120x600