“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi penyayang di antara mereka sendiri.” (QS Al-Fath [48]:29)
ppmindonesia.com.Jakarta – Ayat ini kerap dikutip untuk menggambarkan semangat keberanian umat Islam terhadap “kafir” dan kasih sayang di antara sesama Muslim. Tetapi sayangnya, pemahaman yang dangkal sering menyeret ayat ini menjadi pembenaran untuk kebencian terhadap semua yang berbeda keyakinan.
Padahal, jika dikaji lebih mendalam, ashidda’ ‘alal kuffar bukan ajakan membenci manusia karena agamanya, melainkan perintah untuk tegas terhadap kezaliman dan permusuhan terhadap kebenaran.
Makna yang Sering Disalahpahami
Kata kafir dalam bahasa Arab berarti “menutup” — menutup hati, mata, dan telinga terhadap kebenaran. Dalam Al-Qur’an, istilah ini punya banyak bentuk: kafirun, kuffar, kafarah, kawafir, masing-masing memiliki konteks tersendiri.
Dalam ayat di atas, yang dimaksud kuffar adalah mereka yang dengan jelas memusuhi, menindas, dan memerangi kaum Muslim karena iman mereka.
Seperti dijelaskan ulama besar Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, ayat ini tidak boleh dijadikan pembenaran untuk bersikap keras kepada semua non-Muslim tanpa melihat konteksnya.
“Ayat itu berbicara tentang mereka yang nyata-nyata memusuhi kebenaran. Terhadap yang berbeda keyakinan namun hidup damai, justru Al-Qur’an memerintahkan berlaku baik dan adil,” tulisnya.
Kasih Sayang yang Hilang
Masih dalam ayat yang sama, Allah memuji kaum beriman karena penuh kasih sayang di antara mereka. Inilah yang kerap kita abaikan. Ironisnya, umat Islam justru sering terpecah-belah, saling menuding sesat, bahkan saling menumpahkan darah. Sementara kepada mereka yang jelas-jelas menindas dan mengeksploitasi, kita malah tunduk,(emha)



























