Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Pemerintah Sibuk Tumbuhkan Konsumsi, Lupa pada Produksi

288
×

Pemerintah Sibuk Tumbuhkan Konsumsi, Lupa pada Produksi

Share this article

Penulis; acank| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta — Ramainya pusat perbelanjaan tak selalu berarti ekonomi tumbuh sehat. Di balik hiruk pikuk mal dan kafe yang padat pengunjung, tersembunyi kegelisahan ekonomi masyarakat kelas menengah. Fenomena viral “rojali” (rombongan jarang beli) dan “rohana” (rombongan hanya nanya) menjadi penanda paradoks konsumsi: terlihat ramai, tapi tak menghasilkan nilai tambah.

Ini bukan sekadar tren sosial media. Ini adalah cermin buram dari strategi ekonomi nasional yang terlalu menggantungkan pertumbuhan pada konsumsi, namun abai pada urusan paling mendasar: produksi.

Sejak lama, pemerintah menjadikan konsumsi rumah tangga sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 50 persen. Maka, ketika ekonomi melambat, resepnya hampir selalu sama: suntikan bantuan sosial, pelonggaran pajak konsumsi, hingga insentif belanja daring.

Namun, strategi itu kini mulai menunjukkan batasnya. Konsumsi yang tak ditopang produktivitas hanya melahirkan ilusi kemakmuran.

Ilusi Pertumbuhan

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan bahwa penurunan daya beli masyarakat terlihat nyata dari berbagai indikator ekonomi. Penjualan ritel menurun, tingkat tabungan rumah tangga menyusut, dan pinjaman konsumtif—terutama melalui fintech lending—terus membengkak.

“Kondisi finansial masyarakat makin tertekan. Mereka tetap datang ke mal, tapi hanya untuk lihat-lihat. Aktivitas konsumsi semu ini tak mencerminkan kekuatan ekonomi yang riil,” ujar Faisal.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menambahkan bahwa banyak rumah tangga kini bertahan dengan gaya hidup konsumtif meski mengalami penurunan pendapatan. PHK di berbagai sektor industri dan kenaikan harga bahan pokok memperparah tekanan ekonomi yang dirasakan kelas menengah.

“Masyarakat mencari pelarian dari stres ekonomi. Tapi itu tidak berarti mereka mampu belanja. Ini gejala yang mengkhawatirkan,” katanya.

Ketika Produksi Ditinggalkan

Di tengah seruan belanja untuk memulihkan ekonomi, sisi produksi justru nyaris tak terdengar. Padahal, tanpa penguatan kapasitas produksi, konsumsi hanya akan jadi beban—bukan solusi.

Sektor manufaktur masih kesulitan bangkit sepenuhnya pascapandemi. Investasi langsung asing (FDI) melambat. Banyak pelaku usaha mikro dan kecil tertinggal dalam digitalisasi. Sementara itu, industri padat karya belum mendapatkan dorongan kebijakan yang signifikan untuk tumbuh dan menyerap tenaga kerja.

Ekonom Universitas Indonesia, Teguh Dartanto, dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa konsumsi hanya bisa berkelanjutan jika didukung produktivitas. “Kita butuh transformasi struktural. Bukan hanya mendorong orang belanja, tapi menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka menghasilkan lebih banyak,” ujarnya.

Middle-Income Trap di Depan Mata

Fenomena rojali dan rohana juga memperkuat sinyal bahwa Indonesia tengah mendekati batas jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Negara-negara yang gagal naik kelas dari pendapatan menengah ke tinggi biasanya terjebak karena pertumbuhan yang bertumpu pada konsumsi dan komoditas, tanpa inovasi dan peningkatan produktivitas.

Dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di kisaran 5 persen. Sementara itu, ketimpangan pendapatan, rendahnya kualitas pendidikan, dan lemahnya ekosistem industri inovatif membuat daya saing nasional tak kunjung melonjak.

Tanpa pergeseran dari ekonomi konsumtif ke ekonomi produktif, kelas menengah Indonesia akan menjadi generasi “fragile”: tampak mapan di luar, tapi rentan di dalam. Mereka mempertahankan gaya hidup lewat utang dan cicilan, bukan lewat pendapatan riil.

Saatnya Berpindah Arah

Pemerintah perlu berani merombak strategi. Fokus pada konsumsi harus diimbangi dengan kebijakan industrialisasi, penguatan UMKM berbasis produksi, serta investasi pada riset dan pengembangan. Tanpa itu, setiap musim diskon hanya akan memperpanjang ilusi pertumbuhan.

Literasi finansial harus menjadi bagian dari kebijakan publik. Begitu pula insentif untuk sektor-sektor yang menciptakan nilai tambah dalam negeri. Produk buatan lokal bukan hanya soal bangga, tapi soal bertahan.

Rojali dan Rohana adalah cermin. Dan bayangan yang mereka tampilkan adalah ekonomi yang tampak bergerak, padahal sesungguhnya stagnan.(acank)

Example 120x600