Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

PPM: Generasi Muda Butuh Bimbingan, Bukan Ancaman

276
×

PPM: Generasi Muda Butuh Bimbingan, Bukan Ancaman

Share this article

Penulis; acank| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta, -Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Nasional menyikapi maraknya pengibaran bendera bajak laut dari serial One Piece menjelang HUT ke-80 Republik Indonesia dengan seruan untuk tidak gegabah menuding generasi muda. Menurut PPM, fenomena ini bukanlah bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan ekspresi kebudayaan yang harus dipahami secara bijak.

“Generasi muda hari ini tumbuh di tengah arus globalisasi informasi dan budaya populer. Mereka mengekspresikan semangatnya melalui simbol-simbol yang dekat dengan keseharian mereka. Tapi ini bukan berarti mereka tidak cinta Indonesia,” ujar M. Hasan Asy’ari, Wakil Sekretaris Jenderal PPM Nasional, dalam keterangannya, Sabtu (2/8/2025).

Hasan menekankan bahwa pendekatan yang terlalu keras atau represif terhadap ekspresi anak muda justru bisa kontraproduktif. “Yang mereka butuhkan bukan ancaman atau label makar, melainkan bimbingan, pendampingan, dan ruang dialog,” ujarnya.

Fenomena pengibaran bendera Jolly Roger—simbol bajak laut dalam anime One Piece—telah menjadi viral di berbagai daerah, terutama menjelang perayaan kemerdekaan. Sebagian warganet bahkan menyerukan agar bendera tersebut dikibarkan sebagai simbol perlawanan atau ekspresi kebebasan. Namun hal ini juga menuai kekhawatiran dari sebagian tokoh politik.

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya, meminta agar tren pengibaran bendera One Piece dihentikan, karena dinilai bisa mengganggu kekhidmatan peringatan kemerdekaan dan mencederai nilai-nilai nasionalisme.

Namun PPM menilai, pandangan semacam itu perlu diimbangi dengan pemahaman yang lebih dalam terhadap realitas generasi muda. “Kami memahami bahwa ada kekhawatiran terhadap degradasi simbol-simbol negara. Tapi mari kita lihat akarnya. Apakah selama ini kita cukup mengenalkan sejarah bangsa dan nilai-nilai perjuangan kepada anak muda?” kata Hasan.

Ia menambahkan, banyak pelajar saat ini tidak lagi mengenal tokoh-tokoh nasional secara utuh. “Mereka lebih tahu siapa Monkey D. Luffy ketimbang siapa Tan Malaka atau Sutan Sjahrir. Ini bukan salah mereka sepenuhnya. Ini alarm bagi kita semua,” ujarnya.

PPM mendorong pemerintah, institusi pendidikan, dan media untuk mengambil peran lebih besar dalam membumikan kembali sejarah dan nilai-nilai kebangsaan dalam format yang relevan dan menarik bagi generasi muda.

“Budaya populer tidak bisa kita cegah. Yang bisa kita lakukan adalah menjadikan budaya itu sebagai medium untuk memperkuat nasionalisme. Nilai-nilai keberanian, solidaritas, dan kebebasan yang mereka lihat dalam One Piece, sebenarnya sangat dekat dengan nilai-nilai perjuangan bangsa,” ujar Hasan.

PPM juga menyayangkan jika ada pihak-pihak yang langsung menyamakan ekspresi budaya populer dengan tindakan makar atau ancaman terhadap negara. “Jika simbol budaya populer disamakan derajatnya dengan bendera negara, lalu kita marah, justru kita sedang merendahkan martabat Merah Putih itu sendiri,” tambahnya.

Dalam momentum HUT ke-80 RI, Hasan mengajak semua elemen bangsa untuk menjadikan perayaan kemerdekaan sebagai ruang refleksi bersama. “Kita tidak hanya butuh seremoni, tapi juga pembaruan dalam cara kita mendidik, membangun dialog, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Generasi muda tidak kekurangan semangat, mereka hanya butuh arah dan pendampingan yang bijak,” tutupnya.(acank)

Example 120x600