ppmindonesia.com.Bogor – Dalam pusaran zaman yang kian kompleks, keluarga menghadapi tantangan multidimensi. Konflik internal, gempuran gaya hidup materialistik, dan krisis keteladanan menggerus pondasi institusi yang disebut Allah sebagai benteng umat ini.
Lantas, adakah resep abadi untuk membangun keluarga yang tidak hanya bertahan, tetapi benar-benar tumbuh dalam ketenangan dan kebahagiaan? Al-Qur’an ternyata telah memberikan blueprints-nya secara sempurna.
Husni Nasution, dalam kajian khusus di kanal Syahida, mengungkapkan bahwa konsep keluarga dalam Islam bukan sekadar penyatuan dua individu. “Ini adalah penyatuan dua misi dan visi keilahian untuk menciptakan generasi terbaik (khaira ummah). Fondasinya adalah cinta dan kasih sayang (mawaddah warahmah), dan tujuannya adalah mencapai ketenangan (sakinah),” ujarnya, mengutip QS Ar-Rum [30]: 21.
Pondasi Pernikahan: Mawaddah wa Rahmah, Bukan Sekadar Cinta Biologis
Husni menekankan bahwa Allah SWT dengan sangat cermat memilih kata untuk menjelaskan esensi pernikahan.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ …٢١
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah)….” (QS Ar-Rum [30]: 21).
“Perhatikan, Allah tidak berfirman ‘syahwat’ atau nafsu semata. Kata mawaddah berarti cinta yang dalam, penuh komitmen, dan kelembutan.
Sementara rahmah adalah kasih sayang yang bersifat melindungi, penyayang, dan sabar. Ini adalah cinta yang evolutif, dari sekadar ketertarikan fisik menjadi ikatan spiritual dan emotional yang sangat dalam. Inilah pondasi pertama yang harus dibangun,” jelas Husni.
Prinsip Kepemimpinan: Qawwamun yang Melayani, Bukan Menguasai
Membahas struktur keluarga, Husni mengajak untuk memahami makna qawwamun dalam QS An-Nisa [4]: 34 secara utuh dan kontekstual.
“Laki-laki itu adalah qawwamun (pemimpin, penanggung jawab) bagi perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka…”
“Konsep qawwamun sering disalahpahami sebagai otoriter. Sama sekali tidak. Qawwamun berasal dari kata qama yang berarti ‘berdiri’. Seorang qawwam adalah yang berdiri di samping, melindungi, melayani, dan bertanggung jawab menegakkan kemaslahatan keluarga.
Ini adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership), bukan kekuasaan yang menindas. Tanggung jawabnya besar untuk memastikan keluarga berjalan di atas koridor Qur’ani,” tegasnya.
Komunikasi Qur’ani: Qaulan Karima, Ma’rufa, dan Layyina
Husni Nasution melanjutkan, blueprint keluarga sakinah juga detail mengatur etika komunikasi. Al-Qur’an mengajarkan setidaknya tiga model komunikasi:
- Qaulan Karima (perkataan yang mulia), seperti yang diungkapkan anak kepada orang tua (QS Al-Isra [17]: 23).
- Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik dan benar), digunakan dalam interaksi sosial, termasuk antara suami-istri (QS An-Nisa [4]: 5).
- Qaulan Layyina (perkataan yang lembut dan mudah dipahami), seperti yang diajarkan Nabi Musa AS saat berdakwah (QS Thaha [20]: 44).
“Ini adalah panduan emas. Bayangkan jika dalam satu rumah, suami-istri, orang tua dan anak, selalu berbicara dengan perkataan yang mulia, baik, dan lembut.
Mustahil konflik berlarut akan terjadi. Banyak rumah tangga yang retak bermula dari lisan yang tak terkendali,” paparnya.
Keteladanan Orang Tua: Menjadi ‘Uswah Hasanah’ yang Pertama
Untuk menciptakan generasi yang baik, Al-Qur’an menempatkan keteladanan orang tua sebagai kunci. “Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka (QS At-Tahrim [66]: 6).
Ini adalah tanggung jawab pendidikan yang monumental. Orang tua tidak bisa hanya menyuruh, tetapi harus menjadi uswah hasanah (teladan yang baik) yang pertama,” kata Husni. “Anak-anak lebih mudah ‘menangkap’ nilai-nilai dengan mata daripada dengan telinga.
Keteladanan dalam shalat, kejujuran, kesabaran, dan akhlak mulia adalah kurikulum utama yang diajarkan dalam rumah tangga.”
Relevansi untuk Keluarga Masa Kini
Menutup kajian, Husni Nasution menegaskan bahwa blueprint Qur’ani ini justru sangat relevan di era modern.
“Ketika keluarga dihadapkan pada gempuran ideologi yang merusak dan individualisme, kembali kepada konsep mawaddah wa rahmah, kepemimpinan yang melayani, dan komunikasi yang mulia adalah solusinya.”
“Keluarga sakinah bukan keluarga tanpa masalah, tetapi keluarga yang memiliki manual book ilahiah untuk menyelesaikan setiap masalahnya. Itulah Al-Qur’an.
Dengan berpegang padanya, insya Allah kita bisa mewujudkan rumah yang bukan hanya tempat makan dan tidur, tetapi menjadi taman yang menenteramkan, tempat pertama dimana anak-anak kita merasakan surga,” pungkasnya.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























