Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ulil Quwwah: Kekuatan Masyarakat dalam Perspektif Qur’an

313
×

Ulil Quwwah: Kekuatan Masyarakat dalam Perspektif Qur’an

Share this article

Penulis: syahida | Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Dalam diskursus sosial-keagamaan, istilah “kekuatan masyarakat” sering dibicarakan sebagai pilar utama peradaban. Al-Qur’an sendiri menyinggung peran kolektif masyarakat dalam membangun tatanan yang adil, sejahtera, dan beradab. 

Konsep ini dikenal dengan istilah Ulil Quwwah, yakni orang-orang yang memiliki kekuatan, daya, dan kapasitas untuk menegakkan kebaikan.

Dalam kajian Qur’an bil Qur’an yang disampaikan Husni Nasution di kanal Syahida, ditegaskan bahwa kekuatan dalam Islam bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan juga kekuatan moral, spiritual, dan sosial.

Al-Qur’an menggambarkan pentingnya kekuatan ini untuk menjaga keadilan dan melawan kezhaliman.

Allah berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 60:

 وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (persiapan), dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.” (QS. Al-Anfal: 60)

Ayat ini tidak hanya bicara tentang kekuatan militer, tetapi juga simbol kesiapan masyarakat dalam segala aspek: ilmu pengetahuan, ekonomi, solidaritas sosial, hingga ketahanan moral.

Kekuatan sebagai Amanah

Konsep Ulil Quwwah juga terkait erat dengan tanggung jawab kepemimpinan. Dalam Al-Qur’an, kekuatan tidak boleh dipisahkan dari keadilan. Ketika seseorang atau kelompok memiliki kekuatan, maka ia harus menggunakannya untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk menindas.

Allah mengingatkan dalam QS. An-Nisa ayat 58:

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

Di sinilah letak sinergi antara kekuatan (quwwah) dan keadilan (‘adl). Tanpa keadilan, kekuatan hanya melahirkan tirani. Namun dengan keadilan, kekuatan menjadi energi kolektif yang mengangkat martabat masyarakat.

Masyarakat Kuat, Negara Kuat

Menurut Husni Nasution, Al-Qur’an menekankan bahwa masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang memiliki struktur moral yang sehat, solidaritas yang kokoh, serta kepemimpinan yang adil. Itulah sebabnya Islam memandang penting keterlibatan setiap individu dalam menguatkan sendi-sendi sosial.

Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat bukan ditentukan oleh asal-usul atau kekayaan, melainkan oleh ketakwaan dan kemampuannya membangun kerja sama demi kebaikan bersama.

Mengembalikan Ruh Quwwah

Di tengah tantangan global seperti krisis lingkungan, ketidakadilan sosial, hingga degradasi moral, Al-Qur’an menawarkan solusi dengan menghidupkan kembali ruh Ulil Quwwah. Yakni, kekuatan kolektif masyarakat yang berlandaskan iman, ilmu, dan etika.

Husni Nasution menekankan, jika kekuatan masyarakat hanya dibangun di atas kekuatan ekonomi atau politik semata, maka ia rapuh. Tetapi jika kekuatan itu berakar pada iman dan nilai-nilai Qur’ani, maka ia akan melahirkan masyarakat yang tangguh, adil, dan beradab.(syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur'an. Ia dikenal dengan konsep 'Nasionalisme Religius' yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.
Example 120x600