Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Tiga Teori Sejarah Maulid Nabi: Dari Mesir, Irak, hingga Perang Salib

264
×

Tiga Teori Sejarah Maulid Nabi: Dari Mesir, Irak, hingga Perang Salib

Share this article

Penulis; acank| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta , — Setiap 12 Rabiul Awal, umat Islam di berbagai belahan dunia memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Namun, asal usul perayaan Maulid Nabi masih menyisakan perdebatan panjang. Sebab, tidak ada satu pun riwayat yang menyebut Rasulullah SAW maupun para sahabat mengadakan peringatan tahunan khusus untuk hari kelahiran beliau.

Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dartim, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa tradisi Maulid Nabi baru muncul setelah masa sahabat dan tabiin. “Ini sesuatu yang sangat debat-able. Tidak ada ulama yang sepakat, Maulid Nabi mulainya dari era tertentu,” ujar Dartim.

Meski begitu, para sejarawan menyebut setidaknya ada tiga teori utama mengenai asal mula peringatan Maulid Nabi.

  1. Dinasti Fathimiyah di Mesir

Teori pertama menyebut Maulid Nabi diprakarsai oleh Dinasti Fathimiyah (362–567 H) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah. Perayaan Maulid saat itu hanyalah bagian dari sejumlah acara tahunan lain, seperti memperingati kelahiran Ali bin Abi Thalib, Fathimah az-Zahra, Hasan, dan Husain.

Sejarawan mencatat, Khalifah Muiz Lidinillah (memerintah 953–975 M) merintis penyelenggaraan berbagai hari kelahiran tokoh penting dalam Islam. Maulid Nabi menjadi salah satu di antaranya, meski lebih bersifat seremoni politik dan keagamaan.

  1. Amir Muzhaffar Kukabri di Irak

Teori kedua datang dari Irak. Maulid Nabi disebut pertama kali dirayakan oleh Amir Abu Said Muzhaffar Kukabri, Gubernur Irbil yang hidup pada abad ke-6 Hijriah (549–630 H).

Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah menuliskan, “Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal. Ia merayakannya secara besar-besaran. Ia adalah seorang yang alim, adil, pemberani, dan pahlawan.”

Dalam perayaan itu, Amir Muzhaffar mengundang ulama, ahli tasawuf, serta masyarakat luas. Mereka dijamu dengan hidangan, diberi hadiah, dan fakir miskin mendapat sedekah. Perayaan ini kemudian meluas dan dikenal di kalangan Ahlus Sunnah.

  1. Shalahuddin al-Ayyubi di Masa Perang Salib

Teori ketiga menyebutkan bahwa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1174–1193 M) adalah penggagas perayaan Maulid Nabi. Tujuannya bukan semata-mata ritual, tetapi untuk membangkitkan semangat jihad umat Islam yang tengah menghadapi pasukan Salib di Yerusalem.

Peringatan Maulid dijadikan sarana menggelorakan semangat, mempererat ukhuwah, dan menguatkan moril para prajurit. Dari sinilah perayaan itu berkembang sebagai medium penguatan spiritual dan sosial.

Maulid di Nusantara

Di Indonesia, tradisi Maulid baru populer pada abad ke-15, saat Wali Songo menggunakan perayaan itu sebagai sarana dakwah. Melihat masyarakat Jawa menyukai tradisi kumpul-kumpul, Wali Songo mengisinya dengan nilai-nilai Islam.

Peringatan Maulid di Nusantara dikenal dengan sebutan Syahadatain atau Grebeg Mulud, yang ditandai dengan upacara nasi gunungan. Hingga kini, keraton-keraton peninggalan Mataram Islam masih melestarikan tradisi tersebut.

Antara Sejarah dan Hikmah

Meski asal-usulnya masih diperdebatkan, Maulid Nabi kini menjadi salah satu momen penting dalam kalender keagamaan umat Islam. Di Indonesia, tanggal 12 Rabiul Awal ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Bagi Dartim, esensi Maulid bukan terletak pada sejarah siapa yang pertama kali memulainya, melainkan pada bagaimana umat Islam menjadikannya sebagai momentum meneladani akhlak Rasulullah SAW.

“Selama peringatan Maulid diisi dengan kebaikan, kajian, shalawat, dan sedekah, maka ia menjadi sarana dakwah. Namun, jika dipenuhi hal-hal yang bertentangan dengan syariat, lebih baik ditinggalkan,” tegasnya.

👉 Dengan demikian, tiga teori sejarah Maulid Nabi dari Mesir, Irak, hingga Perang Salib menunjukkan bahwa peringatan ini bukan sekadar tradisi. Ia adalah bagian dari dinamika sejarah umat Islam, yang terus hidup hingga kini sebagai sarana dakwah, refleksi, dan penguatan iman. (emha)

 

Example 120x600