ppmindonesia.com. Bogor — Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai kitab suci yang mengajarkan ritual, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan yang menyingkap realitas sosial dan keragaman manusia.
Dalam perspektif Qur’ani, manusia tidak dikelompokkan semata berdasarkan suku, ras, atau agama, melainkan atas dasar sikap, pilihan, dan kesadaran terhadap kebenaran.
Al-Qur’an dengan tegas menyebut bahwa keberagaman adalah sunnatullah, hukum alam yang tak dapat ditolak. Firman Allah:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ﴾
(“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurāt [49]: 13))
Ayat ini menegaskan, identitas biologis dan sosial bukan penentu utama kemuliaan manusia. Kategori tertinggi bukanlah kelompok tertentu, melainkan individu yang memiliki takwa, yakni kesadaran moral dan spiritual terhadap kebenaran.
Dua Kategori Besar dalam Qur’an
Al-Qur’an secara garis besar membagi manusia dalam dua kategori: mereka yang beriman dan menyerahkan diri kepada kebenaran, serta mereka yang menolak atau berpaling darinya.
Allah berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا﴾
(“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (QS. Al-Kahf [18]: 107))
Sebaliknya, bagi yang menolak kebenaran dan berbuat kerusakan, Al-Qur’an menggambarkan:
﴿وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُو۟لَـٰٓئِكَ أَصْحَـٰبُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَـٰلِدُونَ﴾
(“Dan orang-orang yang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 39))
Namun, di antara dua kutub besar itu, Qur’an juga menyinggung keragaman sikap manusia: ada yang ragu, ada yang munafik, ada yang lalai, ada pula yang mencari kebenaran tetapi belum menemukannya.
Semua kategori ini menunjukkan bahwa Qur’an menghargai kompleksitas kondisi batin manusia.
Kebebasan sebagai Prinsip Qur’ani
Yang menarik, Al-Qur’an tidak pernah memaksa manusia masuk dalam satu kategori tertentu. Prinsip kebebasan ditegaskan dalam ayat:
﴿لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ﴾
(“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari yang sesat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256))
Ayat ini menjelaskan bahwa keimanan sejati hanya lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Dengan demikian, keberagaman iman dan pilihan hidup manusia adalah konsekuensi logis dari kebebasan itu sendiri.
Membaca Realitas Sosial
Dalam konteks kehidupan modern, ayat-ayat ini mengingatkan umat Islam bahwa pluralitas adalah kenyataan yang harus dikelola dengan adil, bukan ditolak atau diperangi.
Tugas manusia adalah membangun sistem sosial yang menjamin kebebasan beragama, keadilan, dan penghargaan terhadap sesama.
Husni Nasution dalam kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida menekankan,
“Al-Qur’an menampilkan manusia dalam spektrum yang beragam, tetapi dengan satu tujuan: agar manusia belajar dari perbedaan, membangun keadilan, dan menegakkan nilai ketakwaan. Jika kita mengabaikan keragaman, kita sesungguhnya mengkhianati pesan utama Qur’an.”
Prinsip Kebebasan dan Keberagaman
Dengan demikian, Qur’an tidak sekadar membagi manusia ke dalam kategori keimanan dan kekufuran, melainkan juga menegaskan prinsip kebebasan dan keberagaman sebagai realitas yang sah.
Dari sinilah lahir sebuah kesadaran bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan tanda-tanda Tuhan yang mengajarkan kita arti kemanusiaan yang sesungguhnya. (syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur'an. Ia dikenal dengan konsep 'Nasionalisme Religius' yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























