Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Allah dalam Al-Qur’an: Bukan Tuhan Baru, Melainkan Tuhan Semesta Alam

268
×

Allah dalam Al-Qur’an: Bukan Tuhan Baru, Melainkan Tuhan Semesta Alam

Share this article

Penulis; emha| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi percakapan digital, istilah “Allah” seringkali dipersepsikan keliru. Ada yang mengira Allah adalah Tuhan baru yang diperkenalkan Nabi Muhammad ﷺ khusus untuk umat Islam.

Sementara sebagian lainnya meyakini bahwa kata “Allah” adalah nama eksklusif yang hanya boleh digunakan umat Muslim. Pandangan ini tidak hanya menyempitkan makna, tetapi juga berpotensi memecah belah hubungan antariman.

Padahal, Al-Qur’an dengan tegas mengajarkan bahwa Allah bukanlah Tuhan baru. Dialah Tuhan yang sama yang disembah Ibrahim, Musa, Isa, dan seluruh nabi sebelumnya. Allah adalah Tuhan semesta alam, bukan milik satu bangsa atau bahasa tertentu.

Allah dalam Sejarah dan Bahasa

Secara linguistik, kata Allah berasal dari al-ilāh (ٱلإِلٰه), “Sang Tuhan”. Bentuk ini sudah dikenal dalam tradisi Arab pra-Islam, baik oleh kaum musyrik maupun oleh komunitas Yahudi dan Kristen Arab. Dengan kata lain, istilah Allah bukanlah ciptaan baru Islam, melainkan istilah yang sudah hidup dalam keseharian masyarakat Arab untuk menunjuk pada Tuhan.

Al-Qur’an lalu mengembalikan makna kata itu pada kemurnian tauhid. Firman Allah:

وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 163)

Dengan ayat ini, Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah bukan tuhan baru, melainkan satu-satunya Tuhan yang sejak awal menjadi sumber kehidupan dan pengatur alam semesta.

Kesinambungan Risalah

Al-Qur’an juga meneguhkan kesinambungan risalah para nabi. Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ tidak terputus dari ajaran para rasul terdahulu.

وَمَآ أُرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.’” (QS. Al-Anbiya [21]: 25)

Ayat ini memperlihatkan dengan jelas: Tuhan yang disembah Nabi Muhammad ﷺ adalah Tuhan yang sama yang disembah Musa dan Isa. Maka, ketika umat Kristen Arab menyebut Allah, atau umat Muslim Indonesia menyebut Tuhan, yang dituju tetap sama: Dia Yang Maha Esa.

Nama untuk Manusia, Bukan untuk Tuhan

Al-Qur’an pun menekankan bahwa perbedaan nama tidak mengurangi hakikat keesaan Tuhan. Nama hanyalah kebutuhan manusia untuk mengenali-Nya, sementara Dia tidak terbatas oleh bahasa.

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّۭا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ

“Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu menyeru, Dia mempunyai al-Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-Isra [17]: 110)

Ayat ini menegaskan kelapangan: Allah bisa diseru dengan berbagai nama, asalkan yang dituju adalah Sang Maha Esa.

Relevansi Sosial Kekinian

Di era sekarang, isu seputar penyebutan “Allah” kerap muncul. Di Malaysia, pernah ada polemik penggunaan kata Allah oleh umat Kristen dalam Alkitab berbahasa Melayu. Di Indonesia, perdebatan lebih sering berputar di ruang digital, saat seseorang menulis kata “Tuhan” lalu dituduh kurang Islami.

Padahal, sebagaimana diingatkan Quraish Shihab, “Nama hanyalah sarana. Hakikatnya tetap satu, yaitu Tuhan yang Esa.” Pandangan ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an hadir untuk mengikis sekat-sekat identitas yang sempit, bukan untuk menambah jurang perbedaan.

Menyatukan, Bukan Memecah

Menyibak kesalahpahaman tentang Allah berarti mengembalikan iman pada intinya: bahwa Dia adalah Tuhan seluruh alam, bukan Tuhan baru, bukan pula Tuhan eksklusif.

Islam datang untuk meneguhkan kembali ajaran tauhid yang sejak awal dibawa para nabi: Tuhan itu satu, Esa, dan menjadi tempat bergantung semua ciptaan.

Dalam konteks kebangsaan, pemahaman ini sangat relevan. Di tengah keberagaman agama dan keyakinan, kesadaran bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam membantu umat beriman untuk saling menghormati, bukan saling membatasi.

Penutup

Allah dalam Al-Qur’an bukanlah Tuhan baru. Dialah Tuhan yang sejak awal disembah para nabi, Tuhan seluruh umat manusia, Tuhan semesta alam.

Perbedaan bahasa tidak seharusnya memecah iman. Sebaliknya, ia menjadi jembatan untuk memahami universalitas Sang Pencipta. Maka, yang perlu ditegakkan adalah keyakinan: bahwa hanya ada satu Tuhan, Yang Maha Esa, yang kita seru dengan nama Allah.(emha)

Refereni; 

https://www.quran-islam.org/

https://quran.kemenag.go.id/

Example 120x600