ppmindonesia.com.Bogor – — Kehidupan dunia sering kali menipu manusia dengan gemerlapnya. Padahal, Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa segala sesuatu selain Allah akan sirna. Dalam kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida,
Husni Nasution mengajak jamaah untuk merenungkan firman Allah dalam QS Al-Qashash ayat 88 yang menjadi penegasan eksistensial tentang kefanaan dunia.
Allah berfirman:
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah. Tidak ada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya. Bagi-Nya segala ketentuan, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS Al-Qashash [28]: 88)
Dunia Bukan Tujuan Akhir
Husni menekankan, ayat ini bukan hanya menegaskan keesaan Allah, tetapi juga mengingatkan manusia agar tidak terjebak pada ilusi keabadian dunia. Kekuasaan, harta, jabatan, bahkan seluruh jagat raya akan berakhir. Yang tersisa hanyalah Allah dan amal yang diridhai-Nya.
“Kalau dunia ini fana, maka menjadikannya sebagai tujuan utama adalah bentuk kesalahan berpikir. Al-Qur’an mengarahkan kita agar menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tempat tinggal abadi,” ujar Husni.
Amal sebagai Bekal Abadi
Dalam refleksi Qur’ani, yang menentukan kualitas hidup seseorang bukanlah seberapa besar ia mengumpulkan materi, tetapi seberapa jauh amalnya bertahan hingga akhirat. Al-Qur’an pun menegaskan bahwa manusia akan dibalas sesuai dengan amal yang dikerjakannya.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
“Barang siapa berbuat kebaikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (QS Al-Jatsiyah [45]: 15)
Refleksi Kehidupan Modern
Di era modern, banyak orang mengejar prestasi, status sosial, atau bahkan teknologi mutakhir seakan-akan itu akan kekal selamanya.
Padahal, semua itu terikat waktu dan akan punah. Kesadaran akan kefanaan dunia seharusnya melahirkan etika hidup yang sederhana, adil, dan penuh tanggung jawab.
“Kalau semua akan binasa, maka kesombongan, kerakusan, dan eksploitasi tanpa batas adalah jalan menuju kesia-siaan. Yang benar-benar abadi adalah nilai kebaikan yang kita tebarkan,” tambah Husni.
Kesadaran Tauhid sebagai Inti
QS 28:88 menutup surah Al-Qashash dengan penegasan tauhid. Hanya Allah yang kekal, maka manusia perlu mengarahkan seluruh aktivitas hidupnya untuk mencari ridha-Nya.
Kesadaran ini bukan saja menjadi pegangan spiritual, tetapi juga fondasi etika sosial.
Pesan akhirnya jelas: dunia hanyalah persinggahan, bukan tujuan. Kesadaran bahwa kullu syai’in halik (segala sesuatu akan binasa) mendorong manusia untuk hidup lebih bermakna, membangun amal yang kekal, dan menyiapkan diri untuk perjumpaan dengan Allah. (syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur'an. Ia dikenal dengan konsep 'Nasionalisme Religius' yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























