ppmindonesia.com.Jakarta – Kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida yang disampaikan Husni Nasution menyoroti salah satu prinsip paling mendasar dalam Al-Qur’an: kebebasan beragama.
Dalam penjelasannya, Husni menekankan bahwa Islam tidak datang untuk memaksakan keyakinan, melainkan menghadirkan pilihan yang jelas antara kebenaran (rusyd) dan kesesatan (ghayy).
Kebebasan sebagai Prinsip Ilahi
Husni memulai kajian dengan menukil ayat populer dalam Al-Baqarah:
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ
“Tidak ada paksaan dalam (menerima) agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS Al-Baqarah [2]:256).
“Di sini, Al-Qur’an menegaskan prinsip yang abadi: agama adalah pilihan sadar, bukan paksaan. Yang ditawarkan adalah keterbukaan dan kejelasan, bukan dominasi,” jelas Husni.
Jalan Rusyd: Cahaya Hidayah
Menurut Husni, istilah rusyd bermakna kelurusan jalan, bimbingan menuju kematangan spiritual dan moral. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ
“Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS At-Taghabun [64]:11).
Husni menambahkan, rusyd adalah buah dari iman yang menumbuhkan ketenangan dan kejernihan hati. “Ia bukan sekadar pengetahuan, tetapi arah hidup yang terjaga,” ujarnya.
Jalan Ghayy: Menolak Kebenaran
Sebaliknya, ghayy adalah jalan penyimpangan, menolak kebenaran yang telah nyata. Dalam Al-Qur’an, ghayy digambarkan sebagai sikap kufur yang menjauhkan manusia dari rahmat.
وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ
“Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka dengan (turunnya Al-Qur’an) bertambah kekafiran mereka di samping kekafirannya.” (QS At-Taubah [9]:125).
“Ghayy bukanlah ketidaktahuan semata, melainkan sikap menutup diri terhadap kebenaran yang sudah jelas,” terang Husni.
Relevansi di Tengah Perbedaan
Husni mengingatkan bahwa prinsip “tidak ada paksaan dalam agama” harus menjadi pedoman dalam masyarakat yang beragam. “Kita tidak bisa memaksa iman, karena iman hanya lahir dari kebebasan hati. Tugas kita adalah menghadirkan teladan dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak,” tegasnya.
Cendekiawan Muslim Prof. Muhammad Quraish Shihab pernah menulis: “Ayat ini adalah jaminan kebebasan beragama. Iman tidak lahir dari tekanan, tetapi dari kesadaran.”
Jalan Rusyd dan jalan Ghayy
Dari kajian Qur’an bil Qur’an ini, terlihat jelas bahwa Al-Qur’an konsisten menegaskan adanya pilihan dalam beragama. Jalan rusyd dan jalan ghayy sudah terbentang, dan manusia diberi kebebasan penuh untuk memilih.
Seperti ditegaskan Allah:
فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ
“Maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.” (QS Al-Kahfi [18]:29).
Dengan demikian, Al-Qur’an menempatkan kebebasan sebagai pondasi keimanan. Iman sejati hanya lahir dari hati yang merdeka, bukan dari paksaan yang mengekang.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























