Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Rahmat Allah dan Hilangnya Nafsu Jahat

204
×

Rahmat Allah dan Hilangnya Nafsu Jahat

Share this article

Penulis : syahida| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta — Dalam kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida, cendekiawan Muslim Husni Nasution menyoroti keterhubungan ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan akar sifat manusia, rahmat Allah, serta jalan pengendalian nafsu jahat. 

Dengan gaya analisis yang khas, Husni menekankan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, tetapi juga peta transformasi jiwa dan sistem sosial.

Husni mengawali kajian dengan menyinggung pengakuan Nabi Yusuf yang direkam Al-Qur’an. Dalam surah Yusuf ayat 53, Yusuf tidak mengklaim dirinya sempurna, melainkan mengingatkan bahwa kecenderungan jiwa pada keburukan adalah realitas manusiawi.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yūsuf [12]: 53)

Menurut Husni, ayat ini memperlihatkan dua hal mendasar. Pertama, adanya kecenderungan dasar manusia untuk terjebak dalam dorongan jahat. Kedua, bahwa jalan keluar bukan melalui kekuatan diri semata, melainkan melalui rahmat Allah yang menundukkan nafsu tersebut.

“Di sinilah konsep rahmat bekerja sebagai kekuatan yang mengubah. Rahmat Allah tidak sekadar ampunan, tetapi daya yang mampu mengalihkan orientasi jiwa dari keburukan menuju kebaikan,” jelasnya.

Nafsu Jahat dan Penyatuan Jiwa

Lebih jauh, Husni mengaitkan ayat ini dengan QS Al-Ḥujurāt ayat 7 yang menyinggung proses penyatuan iman ke dalam hati kaum beriman.

وَاعْلَمُوٓا۟ أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ ٱللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِى كَثِيرٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

“Dan ketahuilah bahwa di antara kamu ada Rasul Allah. Jika ia menuruti kemauanmu dalam banyak urusan, niscaya kamu akan mendapatkan kesulitan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada iman dan menghiasinya dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS Al-Ḥujurāt [49]: 7)

Ayat ini, kata Husni, menegaskan bahwa rahmat Allah juga hadir dalam bentuk rekayasa hati, yaitu menjadikan iman indah di mata manusia dan sebaliknya menimbulkan kebencian terhadap dosa. Proses ini merupakan penghapusan nafsu jahat dari akar jiwa manusia.

 

“Ini yang saya sebut revolusi mental Qur’ani. Bukan sekadar mengendalikan hawa nafsu, tetapi menjadikannya kehilangan daya tarik terhadap keburukan. Maka kejahatan bisa ditumpas dari sumbernya: dari hati,” terang Husni.

 

Implikasi Sosial

Kajian ini kemudian meluas pada tataran sosial. Jika setiap individu berhasil melewati fase ini, maka masyarakat akan terbangun di atas fondasi keadilan, kejujuran, dan amanah.

Husni menyebutnya sebagai sistem sosial Qur’ani: sebuah tatanan yang menyehatkan jiwa kolektif sekaligus menutup ruang berkembangnya kriminalitas.

“Bayangkan, jika nafsu jahat dilemahkan bukan hanya secara individu tetapi dalam skala sosial. Korupsi, permusuhan, bahkan kriminalitas bisa hilang karena orang tidak lagi merasa nyaman dengan keburukan,” ujar Husni.

Rahmat Allah adalah Motor Transformasi Jiwa

Dengan menautkan QS Yūsuf 12:53 dan QS Al-Ḥujurāt 49:7, Husni Nasution menegaskan bahwa rahmat Allah adalah motor transformasi jiwa. Dari sinilah lahir masyarakat yang bersih dari keburukan, bukan karena dipaksa, melainkan karena hati manusia telah dimurnikan oleh kasih sayang-Nya.

“Rahmat Allah adalah fondasi peradaban Qur’ani. Ia bukan hanya janji pengampunan, tetapi juga energi spiritual untuk menutup rapat pintu kejahatan sejak dalam hati manusia,” pungkas Husni.

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.

Example 120x600