Scroll untuk baca artikel
BeritaPuisi dan Sastra

Rumput yang Biru, Rumput yang Hijau

201
×

Rumput yang Biru, Rumput yang Hijau

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

Dialog, antara Harimau dengan Keledai, disaksikan Si Raja Hutan 

Di sebuah pagi yang tenang di padang savana, seekor keledai sedang merumput. Ia menatap hamparan hijau di hadapannya, lalu tiba-tiba berseru keras,
“Indah sekali! Rumput ini biru!”

Harimau yang kebetulan melintas berhenti sejenak. Dengan nada datar ia menanggapi,
“Tidak, keledai. Rumput itu jelas hijau.”

Keledai menggeleng keras, matanya melebar penuh keyakinan.
“Tidak, tidak! Kau salah, harimau. Rumput itu biru. Aku melihatnya dengan mataku sendiri.”

Harimau menarik napas panjang. Ia tahu apa yang dilihat keledai berbeda dari kenyataan. Tetapi setiap kali ia mencoba menjelaskan, keledai justru semakin keras kepala.
“Rumput biru! Titik!” teriaknya.

Pertengkaran kecil itu semakin panas hingga akhirnya mereka sepakat mencari keputusan terakhir dari sang raja hutan, singa.

Di singgasana hutan, singa duduk dengan wibawa. Keledai langsung melompat maju, suaranya lantang.
“Wahai Raja, katakanlah pada semua makhluk, bukankah rumput ini biru?”

Singa tersenyum tipis. Ia menatap keledai sejenak, lalu berkata,
“Benar, rumput itu biru.”

Keledai berjingkrak-jingkrak kegirangan.
“Aku benar! Aku benar! Harimau membantahku, Raja! Hukumlah dia!”

Singa mengangguk, lalu memutuskan,
“Harimau akan menerima hukuman.”

Keledai melompat-lompat di sepanjang jalan pulang, bernyanyi riang,
“Rumput itu biru! Rumput itu biru! Aku benar, aku benar!”

Harimau menerima hukumannya, tetapi hatinya penuh tanda tanya. Ia mendekati singa dan bertanya lirih,
“Wahai Raja, bukankah sesungguhnya rumput itu hijau? Mengapa engkau tetap menghukumku?”

Singa menatapnya lekat-lekat, suaranya dalam dan tenang.
“Benar, harimau. Rumput itu memang hijau.
Namun aku menghukummu bukan karena itu.
Aku menghukummu karena engkau, makhluk yang cerdas dan perkasa,
telah membuang waktu berhargamu dengan berdebat bersama seekor keledai.
Lebih buruk lagi, kau datang menggangguku dengan perkara sepele yang tak layak diperkarakan.”

Harimau terdiam. Saat itu ia menyadari, tak semua pertempuran layak untuk dimenangkan, dan tak semua kebenaran pantas dipaksakan pada mereka yang menolak melihatnya.

Pesan moral:
Kadang, kebijaksanaan bukan terletak pada memenangkan perdebatan, tetapi pada memilih diam.
Sebab berdebat dengan orang bodoh hanya akan menguras tenaga, mengganggu ketenangan, dan tidak pernah membawa pada kebenaran.

Example 120x600