ppmindonesia.com. Jakarta – Dalam percakapan sehari-hari, istilah Muslim dan Mukmin sering dipahami sama. Keduanya dianggap identik: orang yang beragama Islam disebut sekaligus Muslim dan Mukmin. Namun, Al-Qur’an justru menghadirkan pembedaan halus antara keduanya.
Menurut narasumber kanal Syahida, Husni Nasution, perbedaan ini penting untuk dipahami agar umat Islam tidak terjebak pada keseragaman semu. “Al-Qur’an membedakan identitas Muslim dan Mukmin. Seorang Muslim belum tentu Mukmin, tetapi seorang Mukmin pasti Muslim,” jelasnya.
Muslim: Identitas Penyerahan Diri
Dalam QS Al-Hujurat [49]:14, Allah menyinggung kaum Badui yang berkata, “Kami telah beriman.” Namun Allah menegaskan, “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah tunduk (aslamnā). Karena iman belum masuk ke dalam hatimu.”
Ayat ini memperlihatkan bahwa menjadi Muslim berarti masuk pada tahap awal: menyerahkan diri secara lahiriah kepada aturan Islam. Ia adalah identitas sosial yang diakui secara formal, tetapi belum tentu mencerminkan keyakinan yang mendalam.
Mukmin: Identitas Kedalaman Iman
Sebaliknya, seorang Mukmin adalah Muslim yang telah naik tingkat, dengan iman yang meresap dalam hati dan membentuk perilaku nyata. QS Al-Anfal [8]:2 menggambarkan ciri-ciri Mukmin sejati: hati mereka bergetar ketika nama Allah disebut, ayat-ayat-Nya menambah keyakinan, dan mereka bertawakal penuh kepada-Nya.
“Menjadi Mukmin adalah kualitas. Ia bukan hanya soal identitas, melainkan sikap hidup yang konsisten dengan iman dan amal saleh,” tegas Husni.
Dua Identitas, Satu Jalan
Dengan demikian, Muslim dan Mukmin bukanlah dua agama berbeda, melainkan dua jenjang dalam perjalanan spiritual. Tahap Muslim adalah pintu masuk, sedangkan Mukmin adalah kedalaman yang harus dituju.
Al-Qur’an bahkan menyebut orang-orang Mukmin sejati sebagai mereka yang akan meraih keberuntungan (QS Al-Mu’minun [23]:1–2), karena imannya telah membentuk akhlak, amal, dan keteguhan.
Relevansi Bagi Umat Kekinian
Dalam kehidupan sosial-politik umat Islam hari ini, pembedaan antara Muslim dan Mukmin menghadirkan refleksi mendalam. Banyak yang berhenti pada identitas formal sebagai Muslim, tetapi belum sampai pada kualitas Mukmin yang menegakkan kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial.
Husni Nasution mengingatkan, “Menjadi Muslim itu awal, menjadi Mukmin itu tujuan. Umat akan kuat jika mayoritasnya bergerak menuju kualitas Mukmin sejati, bukan sekadar berhenti pada pengakuan lahiriah.”
Jalan Panjang Menuju Kematangan
Al-Qur’an pada akhirnya mengajarkan bahwa iman adalah proses yang tumbuh. Muslim dan Mukmin adalah dua identitas yang saling melengkapi dalam perjalanan itu. Dari penyerahan diri lahiriah menuju keyakinan yang menjiwai kehidupan—itulah jalan panjang menuju kematangan spiritual.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























