ppmindonesia.com.Jakarta – Perintah Allah kepada orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar bacaan penghormatan, tetapi juga pernyataan ketaatan dan komitmen untuk mengikuti petunjuk wahyu yang beliau bawa.
Demikian disampaikan Husni Nasution dalam kajian Qur’an bil Qur’an yang ditayangkan di Kanal Syahida.
“Bershalawat berarti meneguhkan hubungan spiritual dan moral dengan Rasulullah, bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam tindakan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya,” ujar Husni membuka kajiannya.
Makna Shalawat dalam Al-Qur’an
Husni menjelaskan, dasar perintah bershalawat termaktub dalam firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”)— QS Al-Ahzab [33]:56
Menurut Husni, ayat ini tidak berdiri sendiri. Makna “ṣallū ‘alaihi” harus dipahami melalui ayat-ayat lain yang menjelaskan bagaimana umat diminta meneladani dan mengikuti Rasulullah ﷺ.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan secara gamblang sifat dan misi Rasulullah dalam QS Al-A’raf [7]:157:
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, serta membebaskan mereka dari beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
“Di sinilah makna sejati shalawat dijelaskan oleh Al-Qur’an. Orang yang bershalawat bukan sekadar memuji Nabi, tapi mengikuti cahaya (nur) wahyu yang turun bersamanya,” kata Husni.
Nur: Cahaya Petunjuk yang Diturunkan Bersama Rasulullah
Lebih lanjut, Husni menyinggung QS Asy-Syura [42]:52 yang menjelaskan hakikat nur sebagai ruh dari perintah Allah.
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab itu dan tidak pula iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya (nur), dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.”
Menurut Husni, nur yang dimaksud bukan cahaya metaforis, tetapi petunjuk hidup yang bersumber dari wahyu. “Siapa yang bershalawat dengan benar, berarti hidup di atas nur Allah — yakni bimbingan wahyu yang menghidupkan kesadaran dan akhlak,” ujarnya.
Shalawat sebagai Jalan Islam dan Kemerdekaan Kesadaran
Husni menjelaskan, Al-Qur’an menggambarkan bahwa orang yang Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam berada di atas cahaya dari Tuhannya, sebagaimana disebutkan dalam QS Az-Zumar [39]:22:
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ
“Maka apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Tentu tidak.”
“Orang yang shalawatnya sejati adalah mereka yang hatinya lapang dalam menyerahkan diri kepada Allah. Itulah Islam yang sebenarnya — penyerahan total yang menumbuhkan kebebasan batin,” terang Husni.
Ia kemudian menambahkan ayat QS Al-Jinn [72]:14 sebagai penegas makna kemerdekaan kesadaran:
وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُو۟لَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا
“Dan di antara kami ada yang berserah diri (muslim) dan ada pula yang menyimpang dari kebenaran. Maka barangsiapa berserah diri, mereka itu benar-benar telah memilih jalan lurus dengan sadar.”
“Shalawat yang sejati melahirkan kemerdekaan berpikir dan bertindak — bebas dari belenggu hawa nafsu, fanatisme, dan taklid buta,” tegasnya.
Teladan dari Rasulullah ﷺ
Husni menutup kajian dengan mengutip sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Barangsiapa yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”
Namun, ia menekankan bahwa banyaknya shalawat bukan hanya ukuran kuantitas ucapan, tetapi kualitas penghayatan terhadap ajaran Rasulullah.
“Bershalawat sejati adalah memuliakan Rasulullah dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an yang beliau bawa. Itulah bentuk cinta yang hakiki kepada Nabi: cinta yang menghidupkan, bukan hanya melafazkan,” pungkas Husni.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keisl(aman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial. (syahida)



























