ppmindonesia.com..Jakarta – Indonesia adalah negeri dengan ribuan pulau, ratusan suku, dan puluhan keyakinan. Di atas keragaman itu, kita hidup bersama dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Namun, seiring dengan semakin terbukanya ruang ekspresi, kita kian sering menyaksikan perdebatan keagamaan yang memanas di ruang publik. Bukan lagi tentang bagaimana memperdalam iman, tapi siapa yang paling benar dalam beragama.
Fenomena ini menandai pergeseran cara beragama: dari jalan spiritual menjadi arena kompetisi kebenaran. Padahal, esensi beragama bukan untuk saling mengungguli, melainkan saling memahami.
Al-Qur’an memberi peringatan yang lembut tapi tegas. Dalam Surat Al-Hujurāt ayat 13, Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurāt [49]: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan adalah fitrah, bukan kesalahan. Tujuannya bukan untuk saling menghakimi, tetapi saling mengenal dan belajar. Tuhan tidak meminta manusia untuk seragam, melainkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Namun di tengah masyarakat, ajaran yang seharusnya menumbuhkan kebijaksanaan sering kali berubah menjadi alat penghakiman. Kita lebih mudah menilai iman orang lain daripada memperbaiki diri sendiri. Kita cepat memutuskan siapa yang sesat, siapa yang kafir, siapa yang salah, padahal Allah telah memperingatkan:
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰ
“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An‘ām [6]: 117)
Artinya, manusia tidak pernah diberi wewenang untuk menilai siapa yang benar dan salah dalam iman. Tugas kita hanyalah mencari kebenaran dengan kerendahan hati, bukan mengklaimnya dengan kesombongan.
Sikap merasa paling benar dalam beragama sesungguhnya adalah bentuk keangkuhan spiritual. Ia mengubah agama menjadi tembok pembatas, bukan jembatan kasih. Padahal, agama hadir untuk menuntun manusia kepada kebenaran yang lebih tinggi — kebenaran yang tidak sekadar dogma, melainkan akhlak dan kemanusiaan.
Dalam konteks kebangsaan, kesadaran ini menjadi penting. Indonesia tidak dibangun di atas satu tafsir agama, melainkan di atas kesepakatan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Pancasila, dengan sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa, memberi ruang yang luas bagi setiap pemeluk agama untuk beribadah dan menafsirkan ajarannya tanpa saling memaksakan.
Namun, kebebasan ini menuntut kedewasaan. Kebebasan beragama bukan berarti bebas menghakimi keyakinan orang lain. Di sinilah tanggung jawab moral umat beragama diuji: mampukah kita menjaga iman tanpa menyinggung iman orang lain?
Rasulullah ﷺ sendiri memberi teladan. Dalam banyak riwayat, beliau tidak pernah memaksa seseorang memeluk Islam, bahkan kepada musuh-musuhnya sekalipun. Prinsip “tidak ada paksaan dalam agama” bukan hanya ayat, tetapi juga praktik nyata dalam dakwah beliau.
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)
Ayat ini menjadi fondasi kebebasan berkeyakinan, bahkan dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia.
Beragama tanpa merasa paling benar bukan berarti relativisme — seolah semua sama dan tidak perlu keyakinan. Tidak. Ia justru bentuk kedewasaan iman: yakin pada kebenaran sendiri, tapi tetap menghormati keyakinan orang lain. Sebab, kebenaran yang sejati tidak perlu diangkat dengan teriakan, ia cukup terpancar melalui perbuatan baik.
Kini, tantangan umat beragama bukan lagi bagaimana membuktikan bahwa agamanya benar, tapi bagaimana menjadikan kebenaran itu berbuah dalam kehidupan nyata — dalam sikap adil, empati, dan kasih terhadap sesama.
Karena di hadapan Tuhan, bukan nama golongan atau mazhab yang akan ditanya, melainkan amal dan ketulusan.
Beragama tanpa merasa paling benar berarti belajar menjadi manusia: rendah hati dalam iman, bijak dalam perbedaan, dan tulus dalam berbuat kebaikan. (acank)



























