Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Hilirisasi Kelapa, dari Gelondongan ke VCO: Indonesia Ubah Arah Ekonomi Tropis

184
×

Hilirisasi Kelapa, dari Gelondongan ke VCO: Indonesia Ubah Arah Ekonomi Tropis

Share this article

Penulis: acank| Editor: asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Indonesia dikenal sebagai negeri kelapa. Dari Sabang sampai Merauke, pohon kelapa tumbuh di garis pantai dan dataran rendah tropis. Namun selama puluhan tahun, buah kelapa lebih banyak dijual dalam bentuk gelondongan dengan harga murah.

Nilai tambahnya justru dinikmati negara lain yang mengolahnya menjadi minyak kelapa murni (virgin coconut oil atau VCO), sabun, kosmetik, hingga suplemen kesehatan.

Kini arah itu mulai berubah. Pemerintah bersama komunitas lokal dan lembaga pemberdayaan masyarakat mulai mendorong hilirisasi kelapa dari tingkat desa. Tujuannya sederhana: agar petani tidak lagi menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pelaku utama dalam rantai nilai produk kelapa dunia.

Dari Desa untuk Dunia

Salah satu inisiatif itu datang dari Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Indonesia yang mengembangkan model hilirisasi berbasis rakyat di sejumlah wilayah penghasil kelapa, seperti Sulawesi Utara, Maluku, Kalimantan Barat dan pesisir Sumatera.
Sekretaris Jenderal  PPM Indonesia, Anwar Hariyono , menjelaskan bahwa hilirisasi kelapa menjadi pintu masuk perubahan ekonomi tropis Indonesia.

“Selama ini petani hanya menjual kelapa utuh dengan harga Rp2.000–3.000 per butir. Padahal, jika diolah menjadi VCO, sabun, atau turunan lainnya, nilai jualnya bisa naik hingga sepuluh kali lipat. Kita ingin nilai tambah itu dinikmati langsung oleh masyarakat desa,” dalam keterangannya  kepada ppmindonesia

Dari Gelondongan ke Produk Bernilai Tinggi

Tren dunia menunjukkan permintaan produk turunan kelapa terus meningkat, terutama untuk kebutuhan pangan sehat, kosmetik alami, dan energi hijau. VCO, misalnya, kini menjadi komoditas unggulan ekspor baru karena diyakini memiliki manfaat kesehatan tinggi dan dihasilkan melalui proses alami tanpa bahan kimia.

Melalui pendekatan hilirisasi berbasis komunitas, petani kini dilatih mengolah kelapa sendiri dengan teknologi sederhana namun higienis. Beberapa kelompok tani di Kulon Progo Bantul Sulawesi..

“Ini bukan sekadar proyek ekonomi, tapi gerakan kemandirian desa,” kata Anwar . “Kalau dulu kelapa dikirim ke kota dalam bentuk gelondongan, kini produk desa bisa langsung masuk pasar global.”

Menjawab Tantangan Struktural

Meski prospeknya cerah, hilirisasi kelapa masih menghadapi tantangan serius: keterbatasan modal, teknologi pengolahan, dan akses pasar. Selain itu, banyak petani belum memiliki standar produksi yang sesuai dengan permintaan ekspor.

Sekretaris Jenderal Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Indonesia, Anwar Hariyono  , menilai hilirisasi kelapa akan berhasil jika didukung kebijakan lintas sektor.“Negara perlu hadir untuk memfasilitasi teknologi pengolahan sederhana, akses pembiayaan murah, dan sertifikasi produk agar bisa bersaing di pasar internasional,” dalam keterangannya pada ppmindonesia. 

Sujadi  menambahkan, Indonesia memiliki keunggulan alam dan iklim tropis yang tidak dimiliki banyak negara lain. “Sayang sekali kalau potensi itu hanya berhenti di gelondongan,” ujarnya.

Ekonomi Tropis yang Berdaulat

Lebih jauh, hilirisasi kelapa dianggap sebagai simbol perubahan arah ekonomi Indonesia dari berbasis ekstraktif menuju produktif dan berkelanjutan. Ketika petani bisa mengolah hasil bumi sendiri, desa menjadi pusat ekonomi baru yang mandiri dan berdaya saing.

Program seperti yang digagas PPM Indonesia menunjukkan bahwa industrialisasi tidak selalu harus berarti pabrik besar. Ia bisa tumbuh dari dapur produksi rakyat, dari alat pres minyak sederhana di pinggir desa, hingga jaringan koperasi yang terhubung dengan pasar digital global.

“Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan untuk memimpin ekonomi tropis dunia—tanah subur, sinar matahari, dan tenaga kerja kreatif. Yang kita butuhkan hanyalah keberpihakan dan keberanian untuk memulai dari rakyat,” tutur Anwar  menegaskan.

Menumbuhkan Kemandirian dari Akar

Hilirisasi kelapa kini bukan sekadar wacana. Di banyak desa, bau khas minyak kelapa murni mulai mengisi udara sore, menggantikan aroma kelapa gelondongan yang dulu hanya menunggu tengkulak datang. Dari butiran kelapa yang dulu dianggap biasa, lahirlah harapan baru: ekonomi tropis yang mandiri, berkeadilan, dan berakar di tanah sendiri.(acank)

Example 120x600