ppmindonesia.com.Jakarta – Pertanyaan mendasar yang sering muncul dalam dialog antaragama adalah: Apakah Islam datang untuk menggantikan ajaran sebelumnya, atau justru untuk mengonfirmasi dan meluruskannya?
Dalam perspektif Al-Qur’an bil Qur’an, jawaban atas pertanyaan ini jelas: Al-Qur’an bukan penghapus, melainkan musaddiq — pembenar dan penyempurna wahyu yang datang sebelumnya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5:48):
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi penjaga terhadapnya.”
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai verifikator spiritual, bukan penolak sejarah kenabian sebelumnya. Ia hadir untuk menegaskan bahwa sumber seluruh wahyu adalah satu — Allah Yang Maha Esa.
Satu Tuhan, Banyak Umat, Satu Pesan
Dalam Surah Al-Baqarah (2:136), Al-Qur’an mengajarkan prinsip inklusif dan kontinuitas risalah:
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ…
“Katakanlah: Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, serta apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya…”
Pesan ini menunjukkan bahwa iman menurut Al-Qur’an bersifat lintas waktu dan lintas nabi. Tidak ada dikotomi antara “umat lama” dan “umat baru” — semuanya adalah bagian dari satu ummatan wahidah, komunitas yang beriman kepada Tuhan yang sama, meski berbeda konteks sejarah dan bahasa wahyu.
Menghapus Fanatisme, Menghidupkan Titik Temu
Sayangnya, realitas umat beragama hari ini sering menunjukkan sebaliknya. Fanatisme denominatif telah menutupi kesamaan nilai-nilai ilahi yang justru menjadi fondasi wahyu.
Padahal, dalam Surah Al-Hujurat (49:13), Allah menegaskan hakikat kemanusiaan yang universal:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Ayat ini menjadi landasan etik bahwa perbedaan bukanlah ancaman teologis, tetapi mekanisme ta’aruf — saling mengenal, saling memperkaya pemahaman akan Tuhan dan kehidupan.
Yesus dan Muhammad: Dua Cermin Satu Cahaya
Al-Qur’an juga secara eksplisit memuliakan Nabi Isa (Yesus) dan menempatkannya dalam rantai kenabian yang sama dengan Muhammad ﷺ. Dalam Surah Al-Baqarah (2:87) disebutkan:
وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ
“Dan Kami telah memberikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti yang nyata dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus.”
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak menolak ajaran Isa, melainkan mengoreksi distorsi teologis yang kemudian muncul. Nabi Isa digambarkan sebagai ‘abdullah (hamba Allah), bukan Tuhan, namun tetap sebagai pembawa kebenaran ilahi.
Kesatuan Spiritualitas, Bukan Keseragaman Ritual
Inti dari seluruh kitab suci — Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an — adalah tauhid dan akhlak. Allah tidak menuntut keseragaman ritual, melainkan kesatuan niat untuk tunduk dan menyerahkan diri kepada-Nya.
Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Asy-Syura (42:13):
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa…”
Ayat ini memperlihatkan bahwa agama (ad-dīn) dalam perspektif Al-Qur’an adalah sistem penyerahan diri kepada kebenaran yang satu, bukan identitas sosial yang membeda-bedakan manusia.
Dari Dialog ke Kolaborasi Spiritualitas
Al-Qur’an tidak mengajak manusia untuk memperdebatkan kebenaran kitab, tetapi untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ – “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS Al-Baqarah [2]:148)
Dalam dunia yang penuh ketegangan identitas agama, pesan ini adalah penawar: bahwa Tuhan tidak menilai label, tetapi ketulusan penyerahan diri.
Di titik inilah semua wahyu bertemu — bukan dalam nama, tapi dalam cahaya kebenaran yang sama.
Al-Qur’an datang bukan untuk meniadakan kitab sebelumnya, tetapi untuk membenarkan dan menyempurnakannya.”
📖 “Satu Tuhan, banyak umat, satu pesan: penyerahan diri kepada kebenaran.”



























