ppmindonesia.com.Jakarta – Di tengah perdebatan mengenai identitas keagamaan, Al-Qur’an mengingatkan bahwa istilah Islam bukanlah label komunal atau nama sebuah sekte, tetapi sikap eksistensial: kepasrahan total kepada Allah. Mulai dari Ibrahim, Musa, hingga Isa—semua dalam Al-Qur’an disebut muslim, meski mereka hidup ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad. Lalu, mengapa umat hari ini menjadikan Islam hanya sebagai identitas sosial?
Islam dalam Al-Qur’an: Bukan Nama Agama, Tetapi Sikap Kepasrahan
Dalam wacana populer, Islam dipahami sebagai “agama” dalam arti institusi: ada organisasi, ritual baku, hierarki ulama, dan identitas sosial. Padahal, Al-Qur’an menggunakan kata islām dalam arti al-istislām—penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Allah menegaskan definisi ini:
﴿وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ﴾
“Siapakah yang lebih baik dīnnya daripada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah?”
(QS An-Nisā’ 4:125)
Ayat ini tidak menyebut nama agama tertentu. Yang membedakan seseorang adalah: apakah ia berserah diri atau tidak.
Islam dalam perspektif Qur’ani adalah mode keberadaan spiritual, bukan keanggotaan institusional.
Ibrahim Disebut Muslim sebelum ‘Islam’ Menjadi Nama Komunitas
Ketika berbicara tentang Ibrahim, Al-Qur’an menegaskan bahwa beliau bukan Yahudi, bukan Nasrani, dan bahkan bukan anggota kelompok manapun. Namun Allah menyebutnya muslim.
﴿مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَـٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا﴾
“Ibrahim bukan Yahudi, bukan Nasrani, tetapi ia adalah seorang yang hanif, seorang muslim.”
(QS Āli ‘Imrān 3:67)
Jika Islam adalah nama agama baru, lalu bagaimana Ibrahim bisa muslim?
Jawabannya jelas:
Islam bukan nama institusi, tetapi sikap kepasrahan universal yang telah ada sejak awal risalah para nabi.
Semua Nabi Adalah Muslim: Kesaksian Qur’an
Al-Qur’an bukan hanya menyebut Ibrahim sebagai muslim; ia juga menyebut para nabi lain sebagai pembawa “Islam” dalam arti ketundukan kepada Tuhan.
1. Nabi Nuh dan pengikutnya
﴿وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾
“…dan aku diperintahkan supaya termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (muslimin).” (QS Yunus 10:72)
2. Musa dan Bani Israil
﴿فَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ﴾
“Musa berkata: ‘Jika kalian beriman kepada Allah, bertawakallah kepada-Nya jika kalian benar-benar muslim.’” (QS Yūnus 10:84)
3. Hawariyyin pengikut Nabi Isa
﴿قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ… وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾
“Para hawariyyin berkata: Kami adalah penolong-penolong Allah… dan saksikanlah bahwa kami adalah muslim.”
(QS Āli ‘Imrān 3:52)
Semua ini terjadi sebelum Nabi Muhammad. Maka jelas, status muslim adalah kategori moral-spiritual, bukan identitas komunal.
Islam Sebagai Jalan Universal: Dari Nabi ke Nabi
Dalam Al-Qur’an, misi para nabi selalu satu:
﴿أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ﴾
“…tegakkanlah dīn dan jangan bercerai-berai di dalamnya.” (QS Asy-Syūrā 42:13)
Misinya bukan membentuk kelompok agama baru, tetapi: mengajak manusia kembali tunduk kepada Tuhan, menegakkan keadilan, melawan kezaliman, dan memurnikan tauhid.
Inilah Islam dalam definisi Qur’ani:
sebuah nilai, bukan sekte. Sebuah misi, bukan identitas.
Ketika Islam Direduksi Menjadi Doktrin Komunal
Hari ini, Islam sering dipersempit: menjadi identitas etnis, menjadi simbol politik, menjadi batas “kami” vs “mereka”, menjadi ritual tanpa kesadaran, menjadi sistem keulamaan yang dipandang sakral.
Padahal Al-Qur’an berkali-kali memperingatkan bahwa dīn tidak boleh dijadikan sumber sektarianisme:
﴿وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا﴾
“Janganlah kalian menjadi orang-orang musyrik; yaitu mereka yang memecah belah dīn mereka dan menjadi golongan-golongan.” (QS Ar-Rūm 30:31–32)
Al-Qur’an menyebut perpecahan keagamaan sebagai ciri kemusyrikan, bukan tanda kesalehan.
Nabi Muhammad Melanjutkan, Bukan Memulai
Dalam kerangka Qur’ani:
- Muhammad tidak membawa agama baru,
- Ia melanjutkan risalah Ibrahim,
- Ia menyeru pada Islam dalam arti ketundukan universal, bukan nama komunitas.
﴿مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ﴾
“(Ikutilah) millah ayah kalian, Ibrahim. Dia-lah yang menamai kalian ‘muslim’ sejak dahulu…” (QS Al-Hajj 22:78)
Nama “muslim” bukan diberikan pada abad ke-7.
Nama itu sudah ada sejak Ibrahim.
Islam sebagai Spirit Universal Umat Manusia
Jika membaca Al-Qur’an secara jernih, kita menemukan bahwa:
- Islam adalah sikap batin, bukan sekte formal.
- Muslim adalah orang yang berserah diri, bukan anggota kelompok.
- Semua nabi mengajarkan Islam dalam makna kepasrahan.
- Perpecahan komunal adalah penyimpangan dari risalah.
Maka, tugas umat hari ini bukan memperluas identitas, tetapi memperdalam ketundukan kepada Allah.
Inilah Islam yang diajarkan Al-Qur’an — Islam yang universal, abadi, dan melampaui sekat doktrin komunal.



























