Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Saat Mazhab Lebih Diutamakan dari Al-Qur’an: Mengapa Umat Islam Terus Berpecah?

118
×

Saat Mazhab Lebih Diutamakan dari Al-Qur’an: Mengapa Umat Islam Terus Berpecah?

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Redaksi; ppmindonesia

ppmindonesia.com.Jakarta – Perpecahan internal dunia Islam terus berlanjut, dari Suriah hingga Irak, dari perdebatan teologi di kampus hingga konflik identitas di akar rumput.

Di baliknya, ada satu ironi besar: umat Islam kerap menjadikan mazhab sebagai pijakan utama, sementara Al-Qur’an—kitab yang sama-sama mereka akui suci—sering ditempatkan sekadar sebagai legitimasi tambahan.

Padahal, Al-Qur’an justru memberi peringatan keras tentang bahaya membiarkan agama terfragmentasi oleh jalan-jalan selain jalan-Nya.

Mazhab Sebagai Identitas Sosial, Bukan Sekedar Fiqih. 

Di banyak negara Muslim, mazhab telah berubah menjadi identitas yang sebanding dengan suku, golongan, atau bahkan partai politik. Sunni mengklaim otoritas melalui “sunnah dan ulama”; Syiah menegaskannya melalui “Ahlul Bait dan imamah”.

Perpecahan itu sendiri sesungguhnya telah diingatkan oleh Al-Qur’an:

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An’am 6:153)

Ayat ini bukan sekadar peringatan moral, tetapi peta konflik umat sepanjang sejarah. Jalan Allah hanya satu—tetapi mazhab berkembang menjadi puluhan, bahkan ratusan cabang.

Akar Keretakan: Ketika Narasi Hadis Mengalahkan Nash Qur’an.

Salah satu sumber keretakan Sunni–Syiah adalah dua versi hadis mengenai pidato Nabi pada Haji Wada’.

Versi Sunni → “Al-Qur’an dan Sunnahku”

Versi Syiah → “Al-Qur’an dan Ahlul Baitku”

Pertanyaan kritis pun muncul:
Bagaimana mungkin Nabi menyampaikan dua pesan berbeda dalam satu momentum yang sama?

Lebih jauh, keduanya tidak memiliki penguatan dari Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak pernah menyebut sunnah Nabi sebagai pegangan utama; bahkan Al-Qur’an menyatakan bahwa peringatan Nabi hanya melalui wahyu, bukan teks lain:

إِنَّمَا أُنذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ
“Aku hanyalah memberi peringatan kepadamu dengan wahyu.” (QS. Al-Anbiya 21:45)

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُم بِهِ
“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan kepada kalian dengannya.” (QS. Al-An’am 6:19)

Tidak ada ayat lain yang mengatakan Nabi memberi peringatan melalui kitab atau catatan selain Al-Qur’an.

Mazhab kemudian tumbuh di atas legitimasi teks-teks sekunder yang sering saling bertentangan—sementara Al-Qur’an sebagai sumber primer justru tidak diposisikan sebagai rujukan tunggal.

Definisi Ahlul Bait: Quran Vs Narasi Sektarian. 

Syiah menganggap Ahlul Bait terbatas pada keturunan biologis Nabi dari jalur Fatimah. Sementara hadis-hadis tertentu mengecualikan istri-istri Nabi meski mereka adalah “penghuni rumah” Nabi secara nyata.

Namun Al-Qur’an menggunakan istilah Ahlul Bait dalam konteks yang sangat jelas:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ… إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ…
“Wahai istri-istri Nabi… Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab 33:32–33)

Dalam teks Qur’ani, Ahlul Bait adalah istri-istri Nabi, bukan klaim eksklusif garis keturunan.

Inilah bentuk ketegangan antara nash (teks wahyu) dan narrative (konstruksi kelompok). Ketika narasi mazhab mengungguli nash Qur’an, konflik pun menjadi tak terhindarkan.

Nabi Bukan Raja dan Islam Bukan sistim Dinasti. 

Salah satu landasan teologi Syiah adalah imamah berdasarkan garis keturunan Ali. Namun Al-Qur’an menolak konsep pewarisan spiritual melalui nasab:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad bukanlah ayah seorang laki-laki di antara kalian, tetapi ia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab 33:40)

Ayat ini menutup ruang bagi klaim pewarisan kekuasaan religius melalui keluarga Nabi. Rasul bukan pendiri dinasti, dan risalah bukan sistem kerajaan.

Solusi Qur’ani : Kembali Kepada Allah dan Kitab-nya.

Al-Qur’an memuat jawaban tegas atas perdebatan “berpegang kepada apa”:

1. Berpegang kepada Allah

وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Barang siapa berpegang teguh kepada Allah, maka ia benar-benar telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran 3:101)

2. Berpegang kepada Kitab

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ… لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ
“Dan orang-orang yang berpegang teguh kepada Kitab… Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Al-A’raf 7:170)

Ayat-ayat ini tidak menyebut mazhab, tokoh, ulama, keluarga Nabi, atau kitab tambahan apa pun sebagai pegangan utama. Pegangan itu hanyalah Allah dan Kitab-Nya.

Mengapa Umat Tidak Ingin Kembali Pada Qur’an ? 

Masalahnya bukan sekadar ketidaktahuan, tetapi preferensi. Umat sering merasa lebih dekat dengan mazhab daripada dengan Al-Qur’an.

Al-Qur’an telah menggambarkan fenomena psikologis ini:

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ
“Dan apabila Allah disebut satu-satunya, hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat menjadi sempit.” (QS. Az-Zumar 39:45)

Ayat ini sangat relevan: banyak orang lebih antusias membahas imam mazhab, ahlul bait, guru tarekat, atau ulama besar dibandingkan membahas Allah dan ayat-ayat-Nya.

Saat Kitab Menjadi Pelengkap, Buka Penguji. 

Umat Islam akan terus berpecah jika posisi Al-Qur’an tetap berada di bawah mazhab, bukan di atasnya. Selama rujukan agama ditentukan oleh loyalitas golongan, bukan oleh teks wahyu yang satu, konflik akan terus berulang dalam bentuk baru.

Al-Qur’an telah menawarkan jalan pemersatu yang sederhana namun tegas:
kembali kepada Allah, kembali kepada Kitab-Nya.
Di luar itu, yang tersisa hanyalah persaingan mazhab yang tak pernah berakhir.

Example 120x600