Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Oleh Oleh Dari Pekalongan

115
×

Oleh Oleh Dari Pekalongan

Share this article

Penulis: guntoro soewarno| editor: asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Kajen, ibu kota Kabupaten Pekalongan, dikenal sebagai kota batik yang teduh—bukan riuh seperti kota tetangganya di pesisir. Sudut-sudutnya tenang, dan ada satu titik yang menarik perhatian saya: Titik Nol. Sebuah tugu menjulang yang seolah menuding lurus ke langit. Titik rujukan arah, seperti Kilometer Nol di Jakarta.

Saya sempat bertanya dalam hati: Seurgen apa? Seberapa mendesak? Hingga perlu ada Titik Nol di selatan Pekalongan ini?

Namun, perjalanan kali ini bukan tentang tugu itu. Sebenarnya saya datang untuk agenda skill up alumni BSM Pekalongan Raya. Tapi badai katalis datang tiba-tiba—acara batal. Meski begitu, janji adalah janji. Saya tetap harus menemui Bu Tri, seorang alumni lama yang sejak awal begitu gigih ingin menjadi petani tangguh.

Saya masih ingat betul, suatu ketika ia dan suaminya mendadak hadir pada kopdar Semarang Raya—mengendarai motor dari Pekalongan hanya untuk bertanya hal kecil yang sebetulnya bisa ia sampaikan lewat telepon. Tapi begitulah orang yang haus ilmu—tidak mau kehilangan satu peluang pun.

“Aset saya banyak, Pak,” ujarnya saat kami berkeliling. “Sawah berhektar-hektar, kebun ada dua. Saya ingin sukses… supaya anak-anak saya mau jadi petani.”

Petani Merugi, Tengkulak Menguasai

Kami berhenti di hamparan sawah yang luasnya total mencapai 300 hektare. Alih-alih hijau menyejukkan, yang tampak justru kegelisahan yang mengering bersama malai padi yang pendek dan banyak yang kosong.

“Setiap kali panen, rugi lagi, rugi lagi…” keluh Bu Tri pelan.
Harga GKP hanya Rp 5.500. Tengkulak menekan seenaknya dengan dalih hasil panen buruk.

Yang bertani tak pernah merasa menang.
Yang menunggu di ujung rantai, selalu berjaya.

Saya tatap wajah-wajah yang menjemput saya tadi: muram, memerah menahan getir.

Semua ini bukan sekadar masalah teknis pertanian. Ini tragedi yang dibiarkan berjalan dari musim ke musim.

Saya sempat bertanya pada Pak Yos, alumni BSM yang mengantar saya sejauh 26 km dari titik jemput, “Pak Yos… emang tim Pak Prabowo nggak sampai ke sini ya? Kok petani dibuat miskin dan menderita begini, seolah dibiarkan?”

Ia menghela napas panjang, “Ada yang datang, Pak… tapi tidak peduli.”

Sederhana, tapi pedih bukan main.

Tanah yang Pingsan

Saya mencoba menusuk tanah itu dengan sebilah bambu.
Tembus 20 cm.
Lumayan… dibanding Pemalang yang 10 cm, Cilongok Tegal 5 cm, dan Pati yang cuma 2–5 cm.

“Tapi hamanya ganas sekali, Pak,” kata Pak Yos.

Yang lebih menyulitkan:
Petani di sini masih mengandalkan racikan kimia.

Pestisida mahal—ganti merek tiap musim—hasil tetap nihil.
Urea subsidi semakin banyak—hasil tetap 3–4 ton per hektar.

Mereka pernah mencoba pupuk organik pabrikan BUMN. Tapi alih-alih pulih, tanaman justru memerah lalu mati.
Kepercayaan pada kata organik langsung rontok.

Modal semuanya berasal dari utang pada tengkulak.
Gagal panen = utang menumpuk → sawah dijual atau digadai.

Siklus kemiskinan berlangsung mulus.
Seperti mesin yang bekerja terlalu baik.

Harapan Itu Mesti Diciptakan

Kami akhirnya kumpul bersama para alumni BSM Pekalongan Raya.
Banyak lahan yang ingin mereka sewakan murah—karena setiap musim hanya menambah pusing.

Saya akhirnya bilang pada mereka:

“Kita buat demplot. Dari kecil dulu.
Satu hektare di dua lokasi:
milik Pak Yos dan milik Bu Tri.”

Jika satu lahan berhasil…
harapan bisa menular secepat penyakit.

“Kalau demplot organik sukses,” saya meyakinkan,
“Insya Allah semua petani akan ikut.”

Inilah tugas kita sebagai alumni BSM—membuka jalan perubahan, bukan menunggu keajaiban.

Saya paham, pemerintah sudah berusaha menjaga ketersediaan stok beras nasional sampai 4,2 juta ton.
Tapi bagi petani di Kajen, Cilongok, Pemalang, Kudus, Pati…
nasib mereka tetap sama:

Gagal panen.
Harga ditekan tengkulak.
Utang menggunung.
Masa depan makin menggelap.

Perlawanan dalam Senyap

Sayup-sayup, di kejauhan, saya mendengar Iwan Fals—suara yang lahir dari luka dan kejujuran. Lagu Swami yang seperti mengalir dari dada para petani ini:

Aku tak mau terlibat segala macam tipu menipu
Aku tak mau terlibat segala macam omong kosong
Aku mau wajar-wajar saja
Aku mau apa adanya
Aku tak mau mengingkari hati nurani

Aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi
Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan
Aku mau jujur-jujur saja
Bicara apa adanya
Aku tak mau mengingkari hati nurani

Lagu itu seperti doa—nyaring namun pelan.
Perlawanan dalam sunyi.
Jeritan yang kehilangan ruang untuk didengar.

Hal yang paling menyakitkan dalam pertanian kita adalah ini:
Petani tetap menanam nasi untuk kita makan…
tapi mereka sendiri kekurangan nasi untuk dihidangkan di rumah.

Dan ketika saya meninggalkan Kajen hari itu, saya tahu:
perjuangan baru saja dimulai.

Catatan Perjalanan Guntoro Soewarno

Example 120x600