ppmindonesia.com.Jakarta– Krisis energi global, kebutuhan listrik yang terus meningkat, serta eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali menjadi persoalan peradaban modern. Namun Al-Qur’an telah memberikan gambaran ekologis jauh sebelum manusia mengenal konsep energi fosil, deforestasi, dan kerusakan lingkungan. Melalui ayat-ayat yang tersebar, Al-Qur’an bukan hanya bicara tentang penciptaan alam, tetapi juga menawarkan model pengelolaan energi sekaligus etika kebun yang lestari.
Apakah kita akan terus menggali bumi hingga kosong, atau menumbuhkan kembali kehidupan yang memperbarui dirinya?
Energi dalam Perspektif Qur’an: Diberi Agar Dimanfaatkan, Bukan Dieksploitasi
Al-Qur’an menegaskan bahwa bumi, gunung, lautan, dan material energi adalah anugerah. Namun anugerah ini datang dengan aturan moral: jangan merusak keseimbangan yang telah diciptakan Allah.
Allah berfirman:
﴿ وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ ﴾
“Dan Dia menundukkan bagi kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya dari-Nya.” (QS Al-Jatsiyah 45:13)
Ayat ini bukan legitimasi eksploitasi bebas. “Sakhkhara” mengandung makna “pemanfaatan dengan tanggung jawab”.
Dalam kajian Syahida, pemanfaatan alam harus tunduk pada mīzān—keseimbangan ekologis.
Energi fosil, mineral tambang, kayu, atau panas bumi: semuanya adalah amanah, bukan objek kerakusan industri.
Kerusakan di Darat dan Laut: Diagnosis Qur’ani terhadap Krisis Energi
Eksploitasi sumber daya energi modern—mulai dari minyak hingga batu bara—menimbulkan kerusakan ekologis yang meluas. Al-Qur’an membaca fenomena ini sebagai hasil tangan manusia sendiri:
﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ ﴾
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia.” (QS Ar-Rum 30:41)
“Fasād” dalam tafsir Syahida tidak hanya bermakna moralitas yang rusak, tetapi kerusakan ekologis: tanah kritis, sungai tercemar, udara penuh asap industri, dan persaingan energi yang menghancurkan ekosistem.
Jika energi dikelola tanpa batas moral, maka peradaban bukan lagi membangun kehidupan, tetapi mengarah pada kehancuran.
Kebun yang Lestari: Model Energi yang Diperbarui Qur’an
Salah satu metafor paling ekologis dalam Al-Qur’an adalah gambaran tanah yang baik dan kebun yang subur. Qur’an menempatkan tanah, air, dan tanaman sebagai sumber energi yang diperbarui, berbeda dari sumber daya yang habis karena diambil tanpa regenerasi.
Allah berfirman:
﴿ وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ﴾
“Tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya.” (QS Al-A’raf 7:58)
Tanaman—kebun, lahan pangan, pohon peneduh—adalah energi terbarukan.
Ia tumbuh kembali, memperbaiki diri, membersihkan udara, menghidupkan tanah, memberikan makanan, kayu, dan oksigen.
Dalam metodologi Qur’an bil Qur’an, ayat ini terhubung dengan ayat lain:
﴿ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا ﴾
“Dia menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian memakmurkannya.” (QS Hud 11:61)
“Ista‘marakum”—Allah memerintahkan manusia membangun peradaban yang memakmurkan, bukan merusak, tidak menghabiskan yang tidak dapat diperbarui.
Model energi Qur’ani adalah energi kebun, bukan energi tambang tanpa batas.
Keseimbangan sebagai Prinsip Energi
Sumber energi apa pun harus tunduk pada prinsip keseimbangan.
Allah menegaskan:
﴿ وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ ١ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ ﴾
“Dan langit Dia tinggikan, dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kalian tidak merusak keseimbangan itu.” (QS Ar-Rahman 55:7–8)
“Al-Mīzān” adalah kerangka ekologi: keseimbangan atmosfer, stabilitas tanah, siklus air, suhu bumi, vegetasi yang menopang kehidupan.
Eksploitasi energi yang melampaui batas adalah ṭughyān, pelanggaran terhadap mīzān.
Bumi merespons ketidakseimbangan itu dalam bentuk bencana, kekeringan, dan krisis pangan.
Air sebagai Variabel Utama Energi Hayati
Kebun yang hidup tidak mungkin tanpa air.
Al-Qur’an menegaskan bahwa sumber energi terbesar kehidupan adalah air—unsur yang memperbarui diri.
﴿ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ﴾
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS Al-Anbiya 21:30)
Ayat ini menjadi dasar bahwa peradaban harus berorientasi pada: pemulihan sumber air, irigasi lestari, pengelolaan sungai, perlindungan mata air, penghijauan lahan kritis.
Energi yang dihasilkan dari tanah yang basah adalah energi kehidupan, bukan energi kematian.
Eksploitasi yang Menghancurkan: Ketika Energi Menjadi Dosa Sosial
Al-Qur’an menggambarkan tipe manusia yang membangun energi tetapi meninggalkan kehancuran sosial-ekologis:
﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ … وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ﴾
“Ada manusia yang memukau ucapannya… tetapi ketika berkuasa, ia membuat kerusakan di bumi dan membinasakan tanaman serta keturunan.”
(QS Al-Baqarah 2:204–205)
“Harth wa nasl” = pertanian dan generasi.
Dua sumber kehidupan ini rusak ketika energi dikelola secara rakus.
Kebun yang Memberi Energi Berkelanjutan: Model Qur’ani untuk Ekonomi Hijau
Al-Qur’an mengarahkan manusia pada model energi yang kembali kepada prinsip dasar:
- Ditumbuhkan, bukan digali
(energi biomassa, agroforestri, kebun produktif) - Diperbarui, bukan dihabiskan
(pohon, air, tanaman, tanah subur) - Bersih, bukan merusak
(energi surya, angin, ekologi pertanian) - Memperbaiki, bukan menghancurkan
(rehabilitasi lahan, penghijauan, restorasi hutan)
Inilah yang dalam kajian Syahida disebut sebagai “Ekologi Qur’ani”:
membangun peradaban energi berdasarkan ayat-ayat alam.
Antara Eksploitasi dan Kebun Lestari, Qur’an Meminta Kita Memilih
Peradaban hari ini berada di persimpangan.
Apakah kita memilih energi yang menghabiskan bumi, atau energi yang menumbuhkan kehidupan?
Qur’an telah memberi panduan:
﴿ وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ﴾
“Carilah kebahagiaan akhirat dengan apa yang Allah berikan kepadamu, jangan lupakan bagianmu di dunia, dan janganlah membuat kerusakan di bumi.” (QS Al-Qashash 28:77)
Kerusakan bukan takdir.
Ia adalah pilihan.
Begitu juga kelestarian.
Dan peradaban yang menang menurut Qur’an adalah peradaban yang memperbaiki bumi, bukan peradaban yang menghabisinya.



























