Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Orang Mati dan Dunia yang Telah Terputus:

61
×

Orang Mati dan Dunia yang Telah Terputus:

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh; syahida

ppmindonsia.com.JakartaKematian merupakan salah satu tema sentral dalam Al-Qur’an. Namun ironisnya, pemahaman tentang apa yang terjadi setelah wafat justru sering dibangun dari tradisi, asumsi, dan keyakinan turun-temurun yang tidak selalu memiliki dasar Qur’ani yang utuh.

Salah satu keyakinan yang paling umum adalah anggapan bahwa orang mati masih dapat mendengar, merespons salam, bahkan menjadi perantara doa manusia yang hidup.

Tulisan ini berupaya menelaah persoalan tersebut melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, yaitu membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara saling menjelaskan (tafsîr al-Qur’ân bi al-Qur’ân), guna memahami bagaimana Al-Qur’an menggambarkan kondisi manusia setelah wafat dan hubungannya dengan dunia yang ditinggalkan.

Kematian sebagai Pemutusan Total dari Dunia

Al-Qur’an menegaskan bahwa kematian bukan sekadar perubahan keadaan fisik, melainkan pemutusan eksistensial dari dunia kehidupan. Orang mati tidak lagi berada dalam sistem komunikasi duniawi.

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ ٱلْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ ٱلصُّمَّ ٱلدُّعَآءَ إِذَا وَلَّوْا۟ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya engkau tidak dapat membuat orang-orang mati mendengar, dan engkau tidak dapat membuat orang-orang tuli mendengar seruan apabila mereka berpaling dan pergi.” (QS. An-Naml [27]: 80)

Ayat ini menegaskan keterbatasan manusia—termasuk para nabi—dalam menjalin komunikasi dengan orang yang telah wafat. Kematian menjadi batas yang tidak dapat ditembus oleh relasi duniawi.

Penegasan ini kembali diulang secara eksplisit:

وَمَا يَسْتَوِى ٱلْأَحْيَآءُ وَلَا ٱلْأَمْوَٰتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُسْمِعُ مَن يَشَآءُ ۖ وَمَآ أَنتَ بِمُسْمِعٍۢ مَّن فِى ٱلْقُبُورِ

“Tidaklah sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi kemampuan mendengar kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan engkau tidak dapat membuat orang-orang yang ada di dalam kubur mendengar.” (QS. Fathir [35]: 22)

Dengan demikian, Al-Qur’an secara tegas menutup kemungkinan adanya komunikasi dua arah antara orang hidup dan orang mati.

Kehidupan Setelah Wafat: Transisi Tanpa Waktu

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa setelah kematian, manusia memasuki fase penantian menuju Hari Kebangkitan. Fase ini tidak berlangsung dalam persepsi waktu duniawi.

وَمَآ أَمْرُ ٱلسَّاعَةِ إِلَّا كَلَمْحِ ٱلْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ

“Dan urusan Hari Kiamat itu hanyalah seperti sekejap mata atau bahkan lebih dekat.” (QS. An-Nahl [16]: 77)

Bagi manusia yang telah wafat, rentang waktu antara kematian dan kebangkitan tidak dirasakan sebagai penantian panjang. Dunia yang terus berjalan bagi orang hidup tidak lagi relevan bagi mereka yang telah meninggal.

Hal ini ditegaskan pula dalam peristiwa tiupan sangkakala:

وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا مَن شَآءَ ٱللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ

“Sangkakala pun ditiup, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkit dan menunggu.” (QS. Az-Zumar [39]: 68)

Kesalahpahaman tentang ‘Orang Mati yang Hidup’

Sebagian kalangan menggunakan ayat tentang para syuhada untuk menyimpulkan bahwa orang mati masih hidup secara aktif dan sadar terhadap dunia.

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۭا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 169)

Namun ayat ini berbicara tentang kedudukan mereka di sisi Allah, bukan tentang kemampuan mereka berinteraksi dengan dunia manusia. Mereka hidup dalam realitas akhirat, bukan dalam sistem kehidupan dunia.

Fakta kematian tetap berlaku secara duniawi:

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti merasakan kematian.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 35)

Larangan Memohon kepada yang Telah Wafat

Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap praktik berdoa atau memohon kepada selain Allah, termasuk kepada orang-orang yang telah meninggal.

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَآئِهِمْ غَٰفِلُونَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, yang tidak dapat mengabulkan doanya sampai Hari Kiamat, dan mereka tidak menyadari doa itu?” (QS. Al-Ahqaf [46]: 5)

Ayat ini menegaskan bahwa orang mati tidak memiliki kesadaran terhadap doa manusia hidup, sehingga menjadikan mereka sebagai perantara spiritual bertentangan dengan prinsip tauhid.

Tauhid dan Kesadaran Akhirat

Al-Qur’an mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan orang-orang beriman yang telah wafat bukanlah melalui komunikasi duniawi, melainkan melalui harapan akan pertemuan di akhirat kelak.

وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا

“Kami hilangkan segala kedengkian dari hati mereka. Mengalirlah sungai-sungai di bawah mereka dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami petunjuk.’” (QS. Al-A’raf [7]: 43)

Kematian adalah pemisah yang tegas antara dunia dan akhirat. Menghormati orang mati adalah adab, namun menjadikan mereka sebagai objek komunikasi spiritual bukanlah ajaran Al-Qur’an. Tauhid menuntut agar doa, harapan, dan permohonan hanya ditujukan kepada Allah—Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat.

Example 120x600