ppmindonesia.com.Jakarta– Mengenang Abdurrahman Wahid—Gus Dur—selalu berarti memutar ulang serpihan sejarah intelektual Indonesia yang hidup, jenaka, sekaligus berani. Bagi penulis, ingatan itu berjejak sejak dekade 1980-an, ketika masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta dan terlibat sebagai redaktur budaya Majalah Muhibbah, majalah kampus Universitas Islam Indonesia (UII) yang sempat dibredel rezim Orde Baru karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap kebijakan negara yang tak berpihak pada rakyat.
Akibat pembredelan tersebut, Muhibbah terhenti selama beberapa edisi sebelum akhirnya terbit kembali dengan nama baru, Himmah. Dari majalah kampus inilah terjalin pertautan intelektual mahasiswa dengan sejumlah tokoh nasional, yang dihadirkan bergiliran sebagai narasumber Laporan Utama. Gus Dur menjadi salah satu figur sentral, bersama Adi Sasono, Habib Chirzin, Arief Budiman, hingga sastrawan besar W.S. Rendra.
Saat itu, Muhibbah dikenal memiliki selera intelektual yang tinggi dan bahkan tercatat sebagai salah satu majalah kampus dengan oplah terbesar. Redaksi diasuh oleh Machfud MD sebagai ketua umum, Anang Eko Priyono sebagai pemimpin redaksi, serta Hamid Basyaib dan kawan-kawan—aktivis mahasiswa yang keras ditempa situasi politik represif. Mereka adalah bagian dari generasi demonstran 1978 yang menentang kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK), sebuah masa ketika panser militer dapat memasuki kampus Universitas Gadjah Mada.
Relasi mahasiswa UII dan UGM kala itu membentuk poros penting gerakan mahasiswa Yogyakarta. Dukungan Rektor UII, GBPH Prabuningrat—saudara Sultan Hamengku Buwono IX—memberi ruang aman bagi aktivitas mahasiswa. Bahkan, UII kala itu memiliki pemancar radio yang beroperasi langsung dari Kampus Pusat di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta.
Dalam konteks itulah, perjumpaan dengan Gus Dur menjadi pengalaman yang tak sekadar intelektual, tetapi juga personal. Diskusi tidak hanya berlangsung di kantor redaksi, melainkan berlanjut di berbagai forum—dari Taman Ismail Marzuki hingga rumah Gus Dur di Jalan Warung Sila, Jakarta, yang kala itu masih sederhana dan belum sepenuhnya rampung, namun sudah ditempati. Kesederhanaan itu menjadi penanda awal kepribadian Gus Dur yang bersahaja, tanpa jarak sosial.
Interaksi berlanjut di kediaman Soedjatmoko, di Kantor PB Nahdlatul Ulama di Jalan Kramat Raya (kini Matraman), Jakarta Pusat, ketika Gus Dur menjabat Ketua Umum PBNU. Ia hadir sebagai pemikir publik yang tak terikat sekat ideologis, sekaligus pemimpin ormas Islam terbesar di Indonesia dengan keberanian moral yang khas.
Gus Dur juga akrab dengan dunia seni dan budaya. Dalam sebuah perhelatan di Gedung Seni Sono, Yogyakarta, ia tampil bersama para seniman dan budayawan, bahkan menjadi “bintang panggung”. Kejadian itu konon sempat mengundang olok-olok bersahabat dari Emha Ainun Nadjib—sama-sama dari Jombang, tetapi berbeda mazhab politik dan estetika. Gus Dur menanggapinya dengan tawa, sebab humor baginya adalah cara paling jujur menyampaikan kebenaran.
Tulisan-tulisan Gus Dur—termasuk ulasannya tentang sepak bola—menunjukkan keluasan referensi dan ketajaman rasa. Ia mampu menempatkan politik, budaya, dan agama dalam satu tarikan napas yang luwes. Humor politiknya bukan sekadar kelakar, melainkan kritik bernas yang sering kali lebih mengena daripada pidato serius.
Pengalaman bersama Gus Dur berlanjut ketika penulis aktif di Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) dan Forum Demokrasi (Fordem) yang digagas Gus Dur bersama Marsilam Simanjuntak. Forum ini kerap menjadi ruang temu lintas ide, dihadiri tokoh-tokoh seperti Rocky Gerung dan Bondan Gunawan, dengan diskursus yang bebas dan berani.
Di Dewan Kesenian Jakarta, publik semakin mengenal keunikan Gus Dur: ia kerap tampak tertidur dalam forum diskusi, namun mampu menyimpulkan pembicaraan dengan presisi. Foto Gus Dur tertidur di tengah diskusi, yang diabadikan pelukis Hardi (wartawan Horison), menjadi simbol paradoks kecerdasan—menyimak dalam diam, berbicara dengan kejernihan.
Gus Dur kerap menggoda audiens dengan ide-ide nyentrik, termasuk melontarkan konsep “Marxisme yang Islami”—sebuah provokasi intelektual yang hingga kini tetap mengundang perdebatan. Di situlah daya Gus Dur: menjadikan politik sebagai humor, dan humor sebagai jalan menuju kebenaran.
Gus Dur telah pergi, tetapi jejaknya tetap hidup—dalam ingatan, dalam tawa, dan dalam keberanian berpikir. Ia bukan sekadar tokoh, melainkan pengalaman intelektual yang terus menggoda dan menginspirasi Indonesia.



























