Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Ketika Jantung Menyerah Tanpa Rasa Sakit: Bahaya Serangan Jantung Senyap pada Diabetisi

67
×

Ketika Jantung Menyerah Tanpa Rasa Sakit: Bahaya Serangan Jantung Senyap pada Diabetisi

Share this article

Penulis: emha | Editor: asyary

ppmindonesia.com,Jakarta – Seorang pria berusia awal 50-an dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada malam hari. Napasnya tersengal, tubuhnya dibasahi keringat dingin. Keluarga mengira ia hanya mengalami “masuk angin” atau gangguan asam lambung setelah muntah kecil pascapraktik makan malam.

Di ruang IGD, dokter jaga segera memasang oksigen.
“Dadanya sakit, Pak?” tanya dokter.

Pria itu menggeleng lemah.
“Enggak, Dok… cuma sesak banget… kayak tenggelam.”

Tak lama kemudian, monitor elektrokardiogram (EKG) berbunyi nyaring. Irama jantung tampak kacau. Tim medis bergerak cepat melakukan resusitasi jantung paru (RJP). Namun, kurang lebih 30 menit sejak masuk IGD, monitor jantung menunjukkan satu garis lurus panjang — indikator bahwa jantung telah berhenti. Pasien dinyatakan mengalami serangan jantung masif dan nyawanya tak tertolong.

Invisible Danger: Serangan Jantung Senyap

Kasus itu mengungkap suatu fenomena medis yang kurang dikenal masyarakat, namun nyata dan mematikan: Silent Myocardial Infarction atau serangan jantung senyap — serangan jantung tanpa nyeri dada khas.

Kondisi ini sangat mungkin terjadi pada penderita diabetes menahun. Kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol merusak saraf — termasuk saraf otonom yang memberi sinyal rasa sakit saat jantung kekurangan oksigen atau aliran darah terhambat. Akibatnya, pasien tidak merasakan sakit dada meskipun jantungnya sedang kritis.

Tanpa alarm nyeri, gejala yang muncul justru ringan atau mudah disalahartikan, seperti:

  • Sesak napas mendadak tanpa sebab
  • Keringat dingin berlebihan
  • Rasa tidak nyaman di ulu hati
  • Lemas ekstrem

Karena tidak sakit, pasien sering menunda pemeriksaan medis, mengira keluhan hanya gangguan ringan, hingga kesempatan golden period penanganan cepat hilang — waktu di mana penyelamatan nyawa paling efektif.

Diabetes dan Risiko Kardiovaskular di Indonesia

Di Indonesia, prevalensi diabetes dan penyakit jantung menunjukkan tren kenaikan yang mengkhawatirkan. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat bahwa prevalensi diabetes mellitus meningkat dari 6,9 persen pada 2013 menjadi 8,5 persen pada 2018. Jumlah ini berarti lebih dari jutaan warga Indonesia hidup dengan diabetes dan berisiko tinggi mengalami komplikasi serius termasuk penyakit jantung dan stroke. (Jurnal Universitas Pahlawan)

Selain itu, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia tercatat sekitar 1,5 persen pada 2018, menunjukkan beban nyata penyakit kardiovaskular di masyarakat. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Secara global, diabetes merupakan salah satu dari sepuluh penyebab kematian tertinggi dunia, dengan angka kematian akibat komplikasi diabetes diperkirakan mencapai jutaan orang setiap tahunnya menurut World Health Organization (WHO). (Jurnal Universitas Pahlawan)

Serangan Jantung Senyap: Tidak Boleh Dianggap Remeh

Serangan jantung — baik yang klasik dengan nyeri dada maupun yang senyap — tetap merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan cepat. Bahkan tanpa nyeri dada, kerusakan otot jantung dapat berlangsung tanpa disadari, meningkatkan risiko gagal jantung atau kematian mendadak.

Bagi penderita diabetes, tubuh yang “tidak memberi alarm” membuat kewaspadaan ekstra menjadi penting. Ibu atau ayah yang merasa:

  • Sesak napas tiba-tiba tanpa alasan yang jelas
  • Keringat dingin berlebih tanpa demam atau aktivitas berat
  • Rasa tidak nyaman di ulu hati atau dada yang menetap

sebaiknya segera mencari pertolongan medis, meskipun tidak ada rasa sakit dada khas.

Pencegahan: Kunci Menyelamatkan Nyawa

Data epidemiologis nasional dan global mempertegas bahwa diabetes bukan sekadar “gula darah tinggi” tetapi merupakan kondisi kronis yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan.

Untuk itu, langkah pencegahan sangat penting:

  • Kontrol gula darah secara konsisten sesuai panduan medis
  • Cek kesehatan rutin, termasuk pemeriksaan jantung dan profil lipid
  • Gaya hidup sehat dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan manajemen stres
  • Pendidikan kesehatan keluarga untuk mengenali gejala awal gangguan kardiovaskular

Karena ketika alarm nyeri tubuh sudah hilang, satu-satunya pertahanan pasien adalah kesadaran diri dan respons cepat keluarga.(emha)

Example 120x600