Scroll untuk baca artikel
BeritaInternasional

Venezuela, Minyak, dan Runtuhnya Ilusi Kedaulatan

39
×

Venezuela, Minyak, dan Runtuhnya Ilusi Kedaulatan

Share this article

Penulis: acank | Editor: asyary |

ppmindonesia.com,Jakarta  — Intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026 telah mengguncang tatanan politik dan hukum internasional serta menghidupkan kembali perdebatan seputar kedaulatan negara, geopolitik energi, dan batas intervensi oleh negara adidaya. Trump bahkan menyatakan akan mengendalikan cadangan minyak Venezuela, negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sebagai bagian dari strategi baru AS. (Wikipedia)

Intervensi AS di Tengah Krisis Venezuela

Operasi militer AS di Caracas dilancarkan dini hari dengan kekuatan signifikan, termasuk serangan presisi dan pengerahan pasukan elite. Dalam serangan itu, Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, ditangkap oleh pasukan AS dan kemudian dibawa keluar negeri, meskipun pejabat Venezuela mempertanyakan lokasi dan keselamatan mereka. (Antara News)

Pemerintah AS menuding Maduro terlibat dalam jaringan kriminal dan kartel narkoba yang mengancam keamanan Amerika. Trump kemudian mengumumkan bahwa setelah penangkapan, AS akan memantau dan memanfaatkan sektor minyak Venezuela, termasuk potensi penjualan hingga puluhan juta barel minyak untuk pasar global. (ANTARA News)

Minyak Venezuela, Target Strategis Global

Venezuela dikenal memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, diperkirakan lebih dari 300 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total cadangan global. Meski produksi aktual negara ini relatif kecil akibat kurangnya investasi dan sanksi internasional sebelumnya, cadangan tersebut tetap menjadi incaran strategis karena potensinya memengaruhi dinamika pasokan energi global. (Wikipedia)

Langkah AS mengambil alih kendali energi Venezuela dipandang sebagai manuver geopolitik besar. Selain menekan persaingan dari negara lain di kawasan, strategi ini juga memberi AS peluang untuk memperluas dampaknya terhadap harga energi dunia, sekaligus membuka pintu bagi perusahaan-perusahaan energi besar AS untuk masuk dan memperbaiki infrastruktur industri minyak Venezuela yang rusak. (Axios)

Reaksi Dunia dan Kritik Terhadap AS

Langkah AS telah memicu gelombang kritik internasional. Rusia menilai penangkapan Maduro sebagai “bencana bagi hubungan internasional” karena dinilai melanggar prinsip kedaulatan negara berdaulat dan norma hukum internasional yang melarang penggunaan kekuatan militer tanpa mandat internasional. (Antara News)

Negara-negara lain serta akademisi hukum juga menekankan bahwa intervensi tersebut melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurut pakar hukum, tindakan tersebut bisa dianggap sebagai agresi dan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara, yang seharusnya diselesaikan melalui jalur hukum internasional, bukan operasi militer unilateral. (detikcom)

Selain itu, pemerintah China secara tegas menyatakan bahwa AS tidak berhak mengatur hubungan luar negeri Venezuela dan intervensi semacam ini dapat merusak stabilitas regional. (Editor Indonesia)

Dampak Ekonomi dan Energi Global

Dampak atas krisis ini juga dirasakan di pasar energi global. Harga minyak mengalami volatilitas, meski disebabkan oleh campuran reaksi geopolitik dan fakta produksi yang saat ini masih rendah. Para analis memperingatkan bahwa meskipun cadangan Venezuela besar, infrastruktur yang lemah serta konflik politik dapat menunda pemulihan penuh industri minyaknya. (Reuters)

Beberapa perusahaan energi besar seperti Chevron bahkan melihat potensi peningkatan produksi jika kondisi politik memungkinkan, meski ada tantangan besar dalam hal legal, komersial, dan risiko investasi di negara yang infrastruktur energinya telah lama melemah. (Reuters)

Pelajaran dari Venezuela: Kedaulatan di Era Geopolitik Energi

Kasus Venezuela menunjukkan bahwa negara yang secara simbolis berdaulat pun dapat kehilangan kendali nyata atas sumber daya strategisnya ketika tekanan politik dan militer global bertemu. Meski hukum internasional secara tegas melindungi kedaulatan setiap negara, realitas geopolitik menunjukkan bahwa kekuatan adidaya tetap mampu menentukan arah politik dan energi global.

Bagi banyak negara berkembang lainnya, peristiwa ini layak menjadi refleksi tentang pentingnya mempertahankan kemandirian dalam pengelolaan sumber daya alam dan memperkuat posisi diplomatik serta hukum internasional sebagai penopang kedaulatan yang sejati. (acank)

Example 120x600