Scroll untuk baca artikel
BeritaInternasional

Protes Iran, Ancaman Trump, dan Ketegangan Baru Timur Tengah

36
×

Protes Iran, Ancaman Trump, dan Ketegangan Baru Timur Tengah

Share this article

Penulis; acank| Editor; asyary

Teheran.PPMIndonesia.com — Gelombang protes besar-besaran yang mengguncang Iran sejak akhir Desember 2025 terus berlanjut pekan ini, menimbulkan ketegangan baru di Timur Tengah dan memicu respons keras dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Aksi unjuk rasa yang bermula dari gejolak ekonomi kini telah berubah menjadi tantangan politik serius terhadap Republik Islam Iran, dengan ancaman intervensi dari luar negeri dan meningkatnya tekanan domestik terhadap pemerintah Tehran. (Al Jazeera)

Protes ini pertama kali pecah setelah nilai tukar rial Iran anjlok drastis, memicu kemarahan pedagang dan warga yang terdampak lonjakan harga kebutuhan pokok. Demonstrasi yang menyebar dari bazar besar di Teheran itu kini telah terjadi di banyak kota besar, termasuk Mashhad dan Isfahan. Meskipun pemerintah memberlakukan pemadaman internet nasional, ribuan warga tetap berusaha berkomunikasi melalui video dan media sosial yang bocor dari dalam negeri. (The Times)

Seiring protes meluas, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan tegas kepada pejabat Iran. Trump menyatakan bahwa Washington “siap membantu” rakyat Iran dan memperingatkan pemimpin Iran untuk tidak menembaki demonstran. Ia mengatakan Amerika Serikat akan merespons “sangat keras” terhadap tindakan kekerasan terhadap warga sipil, meskipun ia menegaskan tidak akan mengirimkan pasukan darat ke Iran. (Reuters)

Trump bahkan dikabarkan akan berdiskusi dengan Elon Musk untuk memulihkan akses internet di Iran melalui layanan satelit, sebagai upaya membantu warga tetap terhubung dengan dunia luar di tengah pemadaman layanan telekomunikasi. (Reuters)

Respons keras Washington ini menuai reaksi dari pemerintahan Iran. Tokoh-tokoh Republik Islam membela tindakan pemerintah terhadap demonstran, menuduh AS dan sekutunya mencoba mencampuri urusan dalam negeri Iran serta memanfaatkan gelombang protes untuk melonggarkan legitimasi rezim yang berkuasa. (Al Jazeera)

Internet Diputus, Demonstrasi Tetap Meluas

Pihak berwenang Iran memberlakukan shutdown internet nasional sejak 8 Januari 2026 untuk membatasi koordinasi demonstran dan informasi keluar dari negeri tersebut. Pemutusan layanan ini memengaruhi akses ke situs berita, media sosial, serta komunikasi telepon internasional. (Wikipedia)

Namun demikian, meskipun terputus dari jaringan global, para demonstran terus turun ke jalan. Video yang tersebar menunjukkan massa yang berkumpul di Teheran dan kota-kota lain, beberapa menyalakan api dan meneriakkan slogan anti-pemerintah. (Wikipedia)

Korban dan Ketegangan Meningkat

Lembaga pemantau hak asasi manusia melaporkan bahwa puluhan hingga ratusan demonstran dan anggota aparat keamanan telah tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan sejak protes dimulai. Angka pasti masih sulit diverifikasi karena keterbatasan komunikasi akibat blackout internet. (Financial Times)

Situasi ini juga telah memicu reaksi internasional. Sejumlah negara Eropa mengecam penggunaan kekuatan berlebihan terhadap demonstran dan menyerukan dialog politik untuk meredakan krisis. Sementara itu, Iran memperingatkan bahwa setiap negara asing yang mencoba campur tangan akan menghadapi konsekuensi geopolitik serius. (Financial Times)

Ketegangan Baru di Timur Tengah

Protes Iran dan respons Trump mencerminkan ketegangan geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah, di mana konflik internal dan persaingan kekuatan global saling bersinggungan. Situasi di Iran menjadi sorotan global karena implikasinya terhadap stabilitas kawasan, hubungan AS–Iran, serta peran aktor regional lain seperti Israel dan blok negara-negara Teluk. (Al Jazeera)

Protes yang semula menyoroti masalah ekonomi kini telah menyentuh persoalan legitimasi politik dan hubungan internasional, menjadikan Iran salah satu titik panas geopolitik di awal 2026.

Sumber berita utama:

.

Example 120x600