Bantul. PPMIndonesia.com — Madrasah Aliyah (MA) Ummatan Wasathan di Imogiri, Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah simpul sejarah, ikhtiar keluarga, gerakan intelektual, dan eksperimen sosial yang menautkan iman, ilmu, dan kemandirian ekonomi umat.
Cikal bakal MA Ummatan Wasathan dirintis pada tahun ajaran baru 1995 oleh Trah Keluarga Ibu penulis, Bani Ruslan Sokopuro, sebagai bagian dari gerakan pendidikan Pusat Pengembangan Masyarakat (PPM). Pada fase awal perintisan, pengelolaan dan penguatan kelembagaan madrasah dilakukan oleh Bapak Farid Ishak, paman dari Ibu Nuniek Tasnim Haryani (penulis ), yang saat itu menjabat sebagai Ketua PPM Kawasan Imogiri dan berdomisili di Kerten, Imogiri.
Dalam perjalanannya, madrasah ini sempat beberapa kali berpindah lokasi hingga akhirnya menetap di lokasi yang digunakan hingga hari ini. Bapak Farid Ishak wafat pada masa pandemi Covid-19 tahun 2022, dan estafet kepemimpinan PPM Kawasan Imogiri kemudian dilanjutkan oleh H. Surajiman Ali Rahman, S.H., M.Pd.I, dengan Nurul Imam, S.E. sebagai sekretaris—kepengurusan yang masih berjalan hingga saat ini.
Jejak Intelektual Nasional dan Restu Sejarah
MA Ummatan Wasathan Imogiri berdiri dalam satu tarikan sejarah dengan Madrasah Aliyah Wasathiyah lain di Imogiri yang dirintis oleh Prof. Dr. Dawam Rahardjo bersama para aktivis PPM. Madrasah-madrasah ini pernah diresmikan langsung oleh Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, Presiden Republik Indonesia ke-3.
Dalam peresmian tersebut, Habibie menegaskan pesan strategis yang hingga kini tetap relevan:
penyatuan iman dan takwa (IMTAK) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sebagai fondasi kesejahteraan bangsa.
Sejarah mencatat, salah satu madrasah yang diresmikan Habibie—MA Insan Cita, Serpong—berhasil menorehkan prestasi sebagai sekolah terbaik nasional tahun 2022, sejajar dengan sekolah-sekolah unggulan dan bergengsi lainnya di Indonesia.
Para Perintis dan Warisan Pemikiran
Di antara tokoh perintis Madrasah Ummatan Wasathan adalah Adi Sasono, Menteri Koperasi RI (1998–1999), seorang pemikir ekonomi kerakyatan, sekaligus cucu dari Mr. Mohammad Roem, pimpinan Delegasi Indonesia dalam Perjanjian Roem–Royen.
Spirit perjuangan intelektual dan kebangsaan inilah yang kembali dihidupkan dalam sebuah momentum penting.
Reborn: Madrasah dan Pesantren dalam Satu Tarikan Napas
Pada Ahad, 11 Januari 2026, MA Ummatan Wasathan Imogiri menerima kunjungan Prof. Ahmad Soebardjo, juga cucu dari Mr. Mohammad Roem. Kunjungan ini menjadi bagian dari deklarasi “kelahiran kembali” (reborn) Madrasah Ummatan Wasathan dengan semangat dan format baru.
Dalam konsep pembaruan ini, MA Ummatan Wasathan tetap berfungsi sebagai madrasah aliyah (sekolah pagi), namun para siswa juga akan merangkap sebagai santri pesantren (mondok).
Fokus pendidikan pesantren diarahkan pada:
- Pengkajian dirasah Islamiyah
- Pengamalan iman, etika, dan nilai kemanusiaan
- Penguatan literasi digital
- Eksplorasi teknologi baru dan tren industri masa depan
Para santri akan didampingi oleh Pesantren Mahasiswa Usman, yang diasuh oleh para akademisi dan praktisi lintas disiplin, di antaranya:
- Prof. Zaenal Bachruddin
- Dr. Ahmad Diponegoro
- Satya Pradana, M.Sc.
- Muhammad Abdul Qoni Akmaluddin
- Dr. Janatarum dan tokoh-tokoh lainnya.
Pendidikan Gratis, Mandiri, dan Berbasis Usaha Nyata
Mulai tahun ajaran 2026, MA Ummatan Wasathan akan menerima siswa dari keluarga dhuafa, khususnya dari daerah tertinggal, tanpa dipungut biaya sama sekali.
Pendanaan seluruh kegiatan pendidikan tidak bergantung pada bantuan konvensional, melainkan berasal dari hasil bisnis kolektif, di mana sejumlah pengusaha berkomitmen mendirikan “sister company” di kompleks madrasah.
Lebih jauh, Prof. Ahmad Soebardjo menyatakan kesediaannya untuk mewakafkan sebagian temuan, inovasi, dan teknologi karyanya demi mendukung kemandirian pangan dan kesehatan warga madrasah dan pesantren.
Seluruh siswa akan menjalani program magang sejak dini, dengan target jelas:
memiliki kemandirian mata pencaharian bahkan sebelum lulus.
Dukungan Lintas Generasi dan Jejaring PPM
Acara deklarasi reborn MA Ummatan Wasathan dihadiri oleh para kolega, murid, sahabat, dan jejaring tokoh yang memiliki ikatan sejarah dengan almarhum Adi Sasono dan Prof. Dawam Rahardjo, antara lain:
Abdul Haris (MTI DIY), Prof. Zaenal Bachruddin, Muslich Zainal Asikin (Perguruan PIRI), Dr. Muntafiah (internis), Nurul Imam, SE (PPM Imogiri), Toni Isbandi (PPM DIY), Prof. Ida Rochani (JFA), Zulkifli Halim (Pesantren Budi Mulya), Tri Wahyuni (MAUW), Qosim Aushat (Al-Furqon), Ki Mujar Sankerta (PPM), Aris Roso (STM), Lutfatul Muclas (IMSA), Utami (PPTA), Dr. Ahmad Diponegoro (UAD), Nova Indri (BMJ), Mukti Asikin (PMU), dan lainnya.
Menyemai Ummatan Wasathan untuk Masa Depan
Dengan semangat wasathiyah—moderasi, keadilan, dan keseimbangan—MA Ummatan Wasathan Imogiri menegaskan kembali posisinya sebagai laboratorium peradaban, tempat iman, ilmu, teknologi, dan ekonomi kerakyatan bertemu dalam praktik nyata.
Bukan hanya mendidik murid, tetapi menyiapkan manusia merdeka, beretika, dan mandiri—sebagaimana cita-cita besar para perintisnya. (nuniek tasnim haryani)



























