Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Sikap Pengkhianat Akan Tercatat dalam Ingatan Sejarah dan Menjadi Kutukan hingga ke Liang Kubur

31
×

Sikap Pengkhianat Akan Tercatat dalam Ingatan Sejarah dan Menjadi Kutukan hingga ke Liang Kubur

Share this article

Penulis: jacob ereste| Editor: asyary|

Banten,PPMIndonesia.com- Perseteruan itu dimenangkan oleh si penipu dari sang pengkhianat—sebuah tontonan yang kini disaksikan rakyat di dunia, dan mungkin juga oleh mereka yang telah berada di akhirat. Konon, sebagaimana kisah yang dilontarkan seorang komika, para malaikat pun terkejut hingga merasa perlu beristigfar secara massal.

Kisah perseteruan yang sempat menghebohkan jagat negeri ini seolah menjadi bagian dari skenario pengalihan perhatian rakyat miskin yang tengah dilanda bencana akibat ulah manusia sendiri. Bencana itu bukan hanya baru saja terjadi, tetapi masih terus berlangsung dan belum sepenuhnya dapat diatasi bersama rakyat. Penolakan bantuan dari negara lain membuat derita kemanusiaan kian berlarut, sehingga simpati dan solidaritas global yang seharusnya menopang peradaban manusia justru terhambat. Setidaknya, empati itu gagal berkembang secara maksimal di tengah peralihan siklus peradaban manusia yang kini memasuki abad keempat dari tujuh abad perubahannya.

Kemenangan si penipu atas sang pengkhianat sangat mungkin merupakan bagian dari fenomena zaman yang sedang terguncang oleh benturan peradaban yang terus mencari bentuk dan model paling “ngetren” di era milenial—era yang melompat liar seperti kuda binal yang sulit dijinakkan. Ironisnya, korban justru banyak bergelimpangan di luar pusat gelanggang konflik. Dalam peristiwa semacam ini, dampak sering kali lebih dahsyat daripada titik awal malapetaka itu sendiri. Banyak hal lain ikut tenggelam, seperti naskah buku yang telah siap cetak, namun entah ke mana rimbanya.

Peristiwa serupa tengah melanda Indonesia hari ini. Sejumlah kasus korupsi dan penyelewengan seakan lenyap dari perhatian publik karena tertindih oleh isu-isu sensasional yang sesungguhnya tidak lebih urgen. Janji-janji politik untuk menekan harga kebutuhan pokok pun terus didengungkan, sementara realitas ekonomi rakyat semakin terhimpit dan daya beli kian melemah.

Tak mengherankan bila jauh sebelum rangkaian malapetaka ini terjadi, telah muncul gagasan untuk menggelar doa bersama berskala nasional—sebuah seruan untuk taubat nasuha secara kolektif. Taubat nasuha bukan sekadar pengakuan atas kesalahan dalam memilih jalan hidup, tetapi kesadaran mendalam untuk kembali berpegang pada etika, moral, dan akhlak mulia manusia sebagai khalifatullah di muka bumi. Lebih dari itu, taubat nasuha adalah sumpah dan janji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Taubat sejati lahir dari kerendahan hati terdalam: memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan, baik disadari maupun tidak, agar tidak menuai bala dan azab yang lebih pedih. Dera dan derita yang kini dialami saudara-saudara kita di berbagai daerah akibat bencana ulah manusia seharusnya menjadi cermin yang jujur bagi bangsa ini.

Pertobatan nasional dalam bentuk doa bersama dapat dimaknai sebagai ikhtiar kolektif memohon ampun kepada Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi, agar murka-Nya tidak terus diturunkan akibat keculasan segelintir manusia yang ingin hidup nyaman dan berkuasa tanpa menimbang hak serta kepentingan orang lain. Keserakahan itu menjelma dalam sikap sewenang-wenang yang mengabaikan keadilan.

Para pelaku perusakan bumi—yang mengumbar konsesi hutan dan lahan, membiarkan penggundulan alam demi imbalan kotor—niscaya akan menerima ganjaran yang setimpal. Harta yang diperoleh dari penjarahan semacam itu tidak akan menjadi berkah, melainkan racun bagi diri dan keluarga mereka. Kekayaan yang dibangun di atas perampasan hak orang lain hanya melahirkan kehancuran batin dan sosial.

Ketamakan manusia yang bejat etika dan moralnya bukan hanya tertuju pada harta, tetapi juga pada kekuasaan, agar dapat mengangkangi hak dan kepentingan sesama. Inilah inti dari pengkhianatan yang paling menyakitkan.

Pengkhianat bukan sekadar memanipulasi kata dan citra, tetapi juga membodohi publik dengan menyitir fatwa dan petuah langit untuk membenarkan kepentingan diri. Kesadaran banyak orang disihir, padahal pada akhirnya terbukti bahwa semua itu palsu. Tesis moral yang pernah ditulisnya tak sejalan dengan perilaku nyata: transaksi menjual diri demi kuasa—sebuah kehinaan yang bahkan melampaui martabat pelacur yang selama ini dicemooh.

Pengkhianat sejatinya telah kehilangan martabat. Yang tersisa hanyalah harta dan posisi semu yang memberi rasa aman palsu. Azab atas sikap dan perilaku degil semacam itu niscaya datang sebagai konsekuensi: kenikmatan surga dunia yang diraih dengan mengabaikan surga langit hanya akan berujung pada bala yang menemani hingga ke liang lahat.

Ingatan sejarah akan mencatat semuanya. Catatan itu penting agar peristiwa serupa tak terulang, setidaknya bagi anak, istri, dan keluarga kita sendiri. Tak seorang pun ingin menjadi olok-olok dan kutukan yang diwariskan turun-temurun.

Sikap khianat, meski tampak tidak selalu merugikan secara langsung, sejatinya adalah pandemi moral yang menular. Ia mempengaruhi orang lain untuk melakukan pengkhianatan serupa, meski dengan bentuk dan modus berbeda. Karena itu, secara etika dan moral, pengkhianatan adalah perbuatan yang pantas dikutuk. (jacob ereste)

Example 120x600