Washington–Teheran, PPMIndonesia — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik rawan di tengah gelombang protes besar-besaran yang mengoyak Republik Islam sejak akhir Desember 2025. Situasi yang awalnya dipicu krisis ekonomi telah berubah menjadi tantangan politik dan diplomasi yang kompleks, di mana ancaman militer dan keterbukaan dialog berjalan beriringan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington tengah mempertimbangkan “opsi sangat kuat” sebagai respons atas kekerasan yang terjadi di Iran, termasuk potensi tindakan militer, meskipun belum ada keputusan final yang diambil. Trump mengatakan berbagai pilihan sedang ditinjau dengan serius oleh militer dan pemerintahan, tetapi ia juga menegaskan bahwa negosiasi masih mungkin dilakukan. (Hürriyet Daily News)
Protes Meluas dan Tekanan Internasional
Gelombang protes yang dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial serta lonjakan harga kebutuhan pokok telah berkembang menjadi aksi penolakan langsung terhadap rezim. Bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran di berbagai kota dikabarkan telah menyebabkan ratusan korban jiwa dan ribuan penangkapan, meski angka pastinya masih sulit dipastikan akibat pemadaman internet nasional yang diberlakukan otoritas Iran sejak awal Januari. (Wikipedia)
Presiden Trump pernah mengancam bahwa AS akan “bertindak sangat keras” terhadap Iran jika kekerasan terhadap para demonstran berlanjut, dan menyebut situasi tersebut sebagai masalah besar yang harus direspons. Sekalipun demikian, Gedung Putih menyatakan bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan pertama, meski opsi militer seperti serangan udara tetap “di atas meja”. (detiknews)
Teheran Siap untuk Semua Opsi, tapi Juga Buka Ruang Dialog
Menanggapi tekanan AS, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa negaranya siap menghadapi semua skenario, termasuk kemungkinan konflik bersenjata, tetapi juga menegaskan kesiapan untuk berdialog jika perundingan dilakukan secara adil, saling menghormati, dan tanpa syarat yang merugikan. Ia mengklaim situasi keamanan kini berada di bawah kendali pemerintah Iran, meskipun tuduhan mengenai eskalasi kekerasan digunakan oleh pihak luar sebagai justifikasi intervensi masih diperdebatkan. (TIME)
Araghchi bahkan menuding bahwa klaim ancaman AS telah dimanfaatkan untuk memperburuk keadaan dalam negeri dan memicu kekerasan yang lebih jauh. Pemerintah Tehran juga memperingatkan bahwa setiap tindakan militer terhadap Iran akan direspons, termasuk dengan menargetkan pangkalan-pangkalan AS dan sekutu di kawasan jika diperlukan. (Jawa Pos)
Diplomasi Dibuka Meski Ancaman Meningkat
Di tengah ketegangan yang meningkat, kedua negara disebut-sebut tengah mengatur pertemuan diplomatik. Trump menyebut bahwa para pemimpin Iran telah melakukan kontak awal dan menginginkan negosiasi, termasuk soal isu-isu strategis seperti program nuklir dan hubungan bilateral lebih luas. Namun ia menambahkan bahwa Amerika mungkin “bertindak sebelum pertemuan” jika situasi tak kunjung membaik. (The Guardian)
Para analis mengatakan bahwa ketegangan ini mencerminkan dilema besar dalam hubungan internasional: bagaimana menyeimbangkan dukungan terhadap hak asasi dan aspirasi rakyat Iran tanpa memicu konflik militer yang lebih luas di kawasan Timur Tengah yang saat ini sudah penuh risiko geopolitik. (emha)



























