Jakarta.PPMindonesia.com– Selama ini, Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha hampir selalu dipahami secara geografis semata. Keduanya diposisikan sebagai dua titik lokasi dalam kisah Isra’ Mi‘raj yang diceritakan berulang-ulang dalam peringatan tahunan. Akibatnya, pembacaan terhadap QS Al-Isrā’ [17]:1 sering berhenti pada romantisme perjalanan, bukan pada pesan epistemologis dan transformasional yang dikandung ayat tersebut.
Tulisan ini mengajak pembaca meninjau kembali makna Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an (kajian Syahida), dengan menempatkan Al-Qur’an sebagai penafsir utama atas istilah-istilahnya sendiri.
QS Al-Isrā’ Ayat 1: Lebih dari Sekadar Perjalanan
Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Mahasuci Dia yang telah asrā hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS Al-Isrā’ [17]:1)
Ujung ayat ini memberikan kunci penafsiran yang sering terabaikan:
“li nuriyahu min āyātinā”—agar dia melihat ayat-ayat Kami.
Dengan demikian, fokus utama ayat ini bukan pada jarak tempuh, melainkan pada proses kesadaran yang membuat seseorang mampu melihat ayat-ayat Allah dalam kehidupan.
Masjidil Haram: Titik Berangkat Kebenaran
Secara bahasa, haram bermakna sesuatu yang dijaga, dilindungi, dan tidak boleh dilanggar. Dalam kerangka Qur’an bil Qur’an, Masjidil Haram dapat dipahami sebagai ruang kebenaran absolut—tempat berpijak yang kokoh dan tidak boleh ditawar.
Al-Qur’an menyebut:
الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
“Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS Al-Baqarah [2]:147)
Dan ditegaskan kembali:
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ
“Dari mana pun engkau keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Sesungguhnya itu benar-benar kebenaran dari Tuhanmu.”
(QS Al-Baqarah [2]:149)
Dengan demikian, Masjidil Haram bukan sekadar lokasi fisik, melainkan simbol titik berangkat kesadaran yang berpijak pada al-haqq min rabbika—kebenaran yang bersumber dari Allah.
Masjidil Aqsha: Ufuk Terjauh Kesadaran Manusia
Kata Aqsha berarti “yang paling jauh”. Dalam bahasa Al-Qur’an, “jauh” tidak selalu berarti jarak geografis, melainkan sering menunjuk pada batas capaian pandangan, nalar, dan kesadaran manusia.
Masjidil Aqsha dalam QS 17:1 dapat dipahami sebagai tujuan pembacaan realitas kehidupan hingga ke ufuk terjauhnya—tempat manusia diuji sejauh mana ia mampu melihat tanda-tanda Allah dalam kompleksitas sosial, sejarah, dan peradaban.
Menariknya, Allah menyebut kawasan sekitar Masjidil Aqsha sebagai wilayah yang diberkahi:
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“yang Kami berkahi sekelilingnya”
Keberkahan dalam Al-Qur’an kerap berkaitan dengan bertambahnya kebaikan, pengetahuan, dan manfaat, bukan semata-mata kesakralan tempat.
Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha: Gerak Kesadaran
Jika dibaca secara utuh, QS 17:1 menggambarkan gerak kesadaran manusia:
- berangkat dari kebenaran Ilahi (Masjidil Haram),
- bergerak dalam ketertautan pengabdian kepada Allah (asrā bi‘abdihī),
- menuju pembacaan kehidupan hingga ke ufuk terjauh (Masjidil Aqsha),
- agar mampu melihat ayat-ayat Allah dalam realitas nyata.
Inilah jalan yang melahirkan manusia-manusia berdaya nalar dan berdaya ubah—yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai Ulil Abshār dan Ulil Albāb.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَبْصَارِ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang memiliki penglihatan.”
(QS Āli ‘Imrān [3]:13)
Dimensi Sosial: Dari Kesadaran ke Peradaban
Kesadaran yang lahir dari proses ini tidak berhenti pada pengalaman spiritual personal. Ia berdampak langsung pada kehidupan sosial. Manusia yang mampu melihat ayat-ayat Allah dalam realitas akan lebih peka terhadap keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan umum.
Inilah fondasi lahirnya kepemimpinan yang berorientasi maslahat, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an:
الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ
“(Yaitu) orang-orang yang apabila Kami beri kedudukan di bumi, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS Al-Ḥajj [22]:41)
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam QS Al-Isrā’ [17]:1 bukan sekadar dua titik geografis, melainkan dua poros kesadaran: titik berangkat kebenaran dan tujuan ufuk pembacaan kehidupan. Ketika ayat ini direduksi menjadi kisah perjalanan semata, umat kehilangan panduan strategis untuk membangun peradaban.
Sudah saatnya QS 17:1 dibaca kembali sebagai peta kesadaran manusia, bukan hanya cerita ritual tahunan. Dari sanalah Al-Qur’an menuntun manusia untuk benar-benar melihat ayat-ayat Allah—bukan hanya membacanya. (syahida)



























