Jakarta.PPMIndonesia.com- Peristiwa Isra’ Mi‘raj merupakan salah satu narasi keagamaan yang paling populer dalam tradisi Islam, khususnya di Indonesia. Ia diperingati secara luas melalui ceramah, perayaan, dan ritual tahunan. Namun menariknya, popularitas tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan pijakan tekstual Al-Qur’an. Di sinilah kajian Qur’an bil Qur’an menjadi penting: menimbang ulang narasi dominan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama, bukan sekadar legitimasi kisah yang telah mapan.
Tulisan ini berupaya menempatkan Isra’ Mi‘raj dalam sorotan Al-Qur’an secara kritis, bukan untuk menafikan nilai spiritualnya, melainkan untuk memulihkan pesan Al-Qur’an dari reduksi mitologis yang berpotensi menjauhkan umat dari misi etis dan peradabannya.
QS Al-Isrā’ Ayat 1: Titik Awal yang Diperdebatkan
Narasi Isra’ Mi‘raj hampir selalu didasarkan pada QS Al-Isrā’ ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Dia yang telah melakukan asrā terhadap hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS Al-Isrā’ [17]: 1)
Persoalan mendasarnya bukan pada ayat tersebut, melainkan pada cara membacanya. Kata asrā secara otomatis dipahami sebagai “memperjalankan secara fisik”, lalu digabungkan dengan narasi Mi‘raj yang sama sekali tidak disebutkan dalam ayat ini.
Asrā Bukan Isrā’: Membaca Al-Qur’an dengan Al-Qur’an
Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, makna sebuah istilah harus dirujuk pada penggunaannya di ayat-ayat lain. Istilah asrā hanya muncul tiga kali dalam Al-Qur’an, yaitu QS 17:1, QS 8:67, dan QS 8:70. Menariknya, pada QS 8:67 dan 8:70, bentuk kata yang sama—asrā—secara konsisten diterjemahkan sebagai tawanan:
مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ
Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. (QS Al-Anfāl [8]: 67)
Konsistensi bahasa Al-Qur’an menuntut kejujuran ilmiah: asrā tidak identik dengan perjalanan, melainkan berkaitan dengan kondisi keterikatan, keterbatasan, atau “tawanan”. Dengan demikian, QS 17:1 lebih tepat dibaca sebagai gerak kesadaran hamba Allah dalam keterikatan pengabdian, bukan perjalanan fisik melintasi ruang angkasa.
Mi‘raj dan Problem Antropomorfisme Ketuhanan
Narasi Mi‘raj kemudian diarahkan pada kisah Nabi Muhammad “naik” menemui Allah di Sidratul Muntaha. Di sinilah muncul problem teologis serius. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak terikat ruang dan arah:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
Dia bersama kamu di mana pun kamu berada. (QS Al-Ḥadīd [57]: 4)
Mengarahkan kesadaran umat seolah-olah Allah berada di satu titik kosmik tertentu justru berisiko melahirkan antropomorfisme yang bertentangan dengan tauhid Al-Qur’an.
Tawar-Menawar Shalat: Ujian bagi Ketetapan Ilahi
Salah satu bagian paling problematik dari narasi Isra’ Mi‘raj adalah kisah tawar-menawar jumlah shalat. Padahal Al-Qur’an secara tegas menyatakan:
مَّا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ
Tidak ada keberatan bagi Nabi terhadap apa yang telah Allah tetapkan baginya. (QS Al-Aḥzāb [33]: 38)
Dan:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
Tidak patut bagi seorang mukmin, laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada pilihan lain bagi mereka. (QS Al-Aḥzāb [33]: 36)
Narasi tawar-menawar bukan hanya problematis secara logika wahyu, tetapi juga mereduksi kemuliaan ketetapan Ilahi menjadi negosiasi manusiawi.
Shalat dalam Perspektif Al-Qur’an
Al-Qur’an justru menunjukkan bahwa shalat adalah realitas kosmik yang telah dikenal seluruh makhluk:
كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ
Masing-masing telah mengetahui shalat dan tasbihnya. (QS An-Nūr [24]: 41)
Dan fungsi hakikinya ditegaskan:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (QS Al-‘Ankabūt [29]: 45)
Shalat bukan “dijemput” melalui peristiwa kosmik, melainkan ditegakkan sebagai sistem etika yang melahirkan kedamaian sosial:
إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ
Sesungguhnya shalatmu menjadi ketenteraman bagi mereka. (QS At-Taubah [9]: 103)
Memulihkan Al-Qur’an dari Dominasi Narasi
Kritik atas narasi Isra’ Mi‘raj bukanlah penolakan spiritualitas, melainkan upaya memulihkan Al-Qur’an sebagai pusat rujukan. Ketika kisah-kisah dominan menggeser pesan etik, sosial, dan peradaban Al-Qur’an, maka yang lahir bukan kesalehan transformatif, melainkan ritualisme tanpa daya ubah.
Al-Qur’an tidak mengajak manusia terpesona pada perjalanan langit, tetapi mengajak melihat ayat-ayat Allah dalam realitas kehidupan, membebaskan manusia dari kezaliman, dan membangun peradaban yang berkeadilan. Di situlah Isra’ sejati berlangsung: dalam kesadaran, pengabdian, dan tanggung jawab kemanusiaan. (syahida)



























