Scroll untuk baca artikel
Nasional

PPM Nasional Dorong Penguatan Dryer, Resi Gudang, dan Sinergi Kopermas untuk Petani NTB

16
×

PPM Nasional Dorong Penguatan Dryer, Resi Gudang, dan Sinergi Kopermas untuk Petani NTB

Share this article

Penulis:acank| Editor: asyary

Jakarta/Lombok Timur, PPMIndonesia.com— Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Nasional terus memperkuat perannya dalam mendorong kemandirian ekonomi rakyat berbasis koperasi. Hal ini mengemuka dalam Rapat Rutin Darling Reboan PPM Nasional yang digelar pada Rabu (14/1/2026), sebagai tindak lanjut kunjungan Ketua Presidium PPM Nasional ke PPM Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) sehari sebelumnya di Lombok Timur.

Rapat yang dipandu Sekretaris Jenderal PPM Nasional, Anwar Hariyono, tersebut dihadiri Ketua Presidium PPM Nasional Eko Suryono, Bendahara PPM Nasional sekaligus pengembangan usaha Kopermas Nusantara Bambang Sumaedji, Pupun Purwana, serta perwakilan PPM NTB dan Kopermas Sejahtera NTB, yakni Lalu Khalid Tarmidzi dan Lalu Gafar Ismail.

Dalam pengantarnya, Anwar Hariyono menegaskan bahwa rapat ini bertujuan memilah hasil diskusi lapangan agar dapat ditentukan langkah-langkah teknis yang paling strategis dan berdampak langsung bagi petani dan masyarakat NTB. Fokus utama diarahkan pada penguatan rantai produksi, bukan semata aktivitas perdagangan.

Jagung, Porang, dan Persoalan Pascapanen

Ketua Kopermas Sejahtera NTB, Lalu Khalid Tarmidzi, memaparkan potensi besar komoditas jagung di Lombok Timur yang hingga kini belum dinikmati optimal oleh petani. Persoalan utama terletak pada ketiadaan fasilitas pengering (dryer), terutama pada musim hujan, yang menyebabkan petani terpaksa menjual jagung basah dengan harga rendah.

“Tanpa dryer, posisi petani sangat lemah. Harga ditentukan pedagang, sementara biaya produksi tidak tertutup,” ujarnya.

Selain jagung, potensi porang juga menjadi perhatian. Meski sempat naik daun, budidaya porang di Lombok Timur belum berkembang secara sistematis. Pasokan bahan baku pabrik masih bergantung pada hasil hutan sehingga tidak stabil. Kondisi ini membuka peluang bagi koperasi untuk masuk sebagai pengelola budidaya porang berbasis masyarakat yang lebih terencana dan berkelanjutan.

Fokus Produksi, Bukan Sekadar Trading

Menanggapi paparan tersebut, Bambang Sumaedji menekankan bahwa persoalan benih jagung relatif dapat diatasi karena ketersediaan produsen benih nasional. Namun, persoalan krusial justru berada pada fasilitas pascapanen.

“Kalau kita ingin koperasi benar-benar menyentuh hajat hidup petani, maka kuncinya ada di dryer dan huller. Di situlah koperasi masuk ke wilayah produksi, bukan hanya trading,” ujar Bambang.

Sejalan dengan itu, Anwar Hariyono mengingatkan pentingnya fokus dan tahapan dalam pengembangan usaha koperasi. Ia mendorong agar Kopermas Sejahtera NTB memprioritaskan pembangunan fasilitas produksi yang terintegrasi dan disiapkan secara matang melalui perencanaan dan business plan yang layak.

Peran Kopermas Nusantara sebagai Jejaring Usaha

Dalam rapat tersebut juga ditegaskan peran Kopermas Nusantara sebagai badan otonom PPM Nasional yang berfungsi memberikan layanan usaha sekaligus membangun jejaring ekonomi antar-koperasi. Kopermas Nusantara diposisikan sebagai simpul penghubung bagi Kopermas-Kopermas di daerah yang menjadi binaan dan jejaring usaha ekonomi PPM.

Melalui peran tersebut, diharapkan terbangun kolaborasi dan sinergi antar-Kopermas sesuai fungsi, peran, dan tanggung jawab masing-masing. Sinergi ini diarahkan untuk memperkuat usaha bersama yang berkelanjutan, sekaligus menciptakan keterpaduan gerak antara PPM Nasional dan daerah, Kopermas Nusantara, serta Kopermas daerah dalam membangun ekosistem ekonomi rakyat yang kokoh dan mandiri.

Resi Gudang dan Peluang Pembiayaan

Rapat juga membahas peluang pengembangan sistem resi gudang di Lombok Timur. Menurut Lalu Khalid Tarmidzi, skema ini relatif tidak membutuhkan dana besar, kecuali dana penjaminan awal. Setelah proses perdagangan berjalan, dana jaminan tersebut dapat ditarik kembali.

“Resi gudang ini penting untuk menjaga stabilitas harga dan memperkuat posisi tawar petani. Secara kelembagaan sangat memungkinkan jika persyaratannya kita lengkapi,” jelasnya.

PPM Nasional menilai sistem resi gudang dapat menjadi instrumen strategis yang saling melengkapi dengan pembangunan dryer dan fasilitas pascapanen lainnya.

Arahan Ketua Presidium

Ketua Presidium PPM Nasional, Eko Suryono, dalam penutup rapat menegaskan bahwa hasil diskusi di Lombok Timur telah membuka banyak peluang konkret yang perlu segera diformalkan dalam bentuk perencanaan yang matang.

“Saya kira teman-teman di NTB perlu segera merumuskan business plan, baik untuk dryer jagung, resi gudang, porang, maupun kemungkinan kolaborasi di sektor peternakan. Tanpa perencanaan yang rapi, kita akan sulit melangkah ke pembiayaan dan dukungan kementerian,” tegasnya.

Eko Suryono menyatakan keyakinannya bahwa pengurus PPM dan Kopermas di NTB memiliki pengalaman lapangan yang memadai untuk mempercepat proses tersebut. PPM Nasional, lanjutnya, siap mengawal dan mendukung melalui pendampingan serta jejaring kementerian terkait.

Rapat Reboan ini menegaskan kembali posisi PPM sebagai gerakan masyarakat yang tidak berhenti pada wacana, tetapi terus mendorong solusi konkret melalui penguatan kelembagaan ekonomi rakyat berbasis koperasi dan produksi. (acank)

Example 120x600