Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Shalat sebagai Sistem Etika Peradaban

8
×

Shalat sebagai Sistem Etika Peradaban

Share this article

Kajian Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta.PPMIndonesia.com – Dalam wacana keislaman populer, shalat sering direduksi menjadi ritual individual yang diukur dari ketepatan waktu, jumlah rakaat, dan kesempurnaan gerak. Reduksi ini secara perlahan menggeser shalat dari posisinya yang hakiki dalam Al-Qur’an: bukan sekadar ibadah personal, melainkan sistem etika peradaban yang membentuk manusia, masyarakat, dan arah sejarah.

Al-Qur’an tidak pernah memisahkan shalat dari dampak sosial, moral, dan struktural. Justru, shalat selalu dihadirkan sebagai instrumen transformasi: membangun kesadaran, mencegah kerusakan, dan menegakkan keadilan.

Shalat dan Pencegahan Kerusakan Moral

Al-Qur’an secara eksplisit menyebut fungsi etis shalat:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45)

Ayat ini menegaskan bahwa shalat yang tidak melahirkan pencegahan terhadap kezaliman, kebohongan, dan kerusakan sosial adalah shalat yang kehilangan substansinya. Dalam kerangka Qur’an bil Qur’an, fungsi pencegahan ini selaras dengan misi kerasulan:

لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Agar manusia menegakkan keadilan.” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 25)

Shalat, dengan demikian, bukan tujuan akhir, melainkan alat pembentuk kesadaran etis untuk menegakkan keadilan di ruang sosial.

Shalat sebagai Penjaga Kesadaran Kolektif

Shalat dalam Al-Qur’an sering dipasangkan dengan dzikrullah (mengingat Allah):

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Ṭāhā [20]: 14)

Dzikrullah bukan sekadar ingatan verbal, tetapi kesadaran eksistensial bahwa manusia hidup dalam pengawasan nilai ilahi. Kesadaran inilah yang melahirkan tanggung jawab sosial.

Sebaliknya, Al-Qur’an mengkritik shalat yang kehilangan kesadaran:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai terhadap shalatnya.” (QS. Al-Mā‘ūn [107]: 4–5)

Kelalaian ini bukan soal teknis ibadah, melainkan kegagalan shalat menghadirkan kepedulian sosial, sebagaimana lanjutan surah tersebut mengaitkannya dengan pengabaian terhadap yatim dan fakir miskin.

Shalat dan Penolakan terhadap Spirit Kapitalisme Rakus

Al-Qur’an mengaitkan shalat dengan kritik atas mentalitas menumpuk harta:

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ ۝ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Sekali-kali tidak! Sungguh manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa dirinya cukup.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 6–7)

Shalat hadir sebagai mekanisme pengingat keterbatasan manusia. Karena itu, dalam banyak ayat, shalat selalu digandengkan dengan zakat—dimensi ekonomi keadilan sosial:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Shalat tanpa komitmen distribusi keadilan ekonomi adalah spiritualitas kosong yang mudah bersekutu dengan ketimpangan struktural.

Shalat sebagai Pilar Peradaban Damai

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, shalat berkorelasi langsung dengan perdamaian dan keselamatan sosial:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang beriman, (yaitu) mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minūn [23]: 1–2)

Khusyu’ bukan semata kondisi batin, melainkan ketundukan pada nilai kebenaran yang melahirkan integritas pribadi dan sosial. Dari sinilah shalat membentuk manusia beradab, bukan sekadar manusia religius simbolik.

Mengembalikan Shalat ke Poros Peradaban

Al-Qur’an tidak menempatkan shalat sebagai ritual privat yang terpisah dari realitas dunia. Shalat adalah sistem etika peradaban—alat pembentuk kesadaran, pengendali moral, dan fondasi keadilan sosial.

Ketika shalat gagal mencegah korupsi, kekerasan, ketimpangan, dan penindasan, yang bermasalah bukan Al-Qur’an, melainkan cara manusia mereduksi shalat menjadi rutinitas kosong.

Sudah saatnya shalat dikembalikan ke fungsi asalnya: menghadirkan Tuhan dalam sejarah manusia, bukan sekadar dalam ruang ibadah. (syahida)

Example 120x600