Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Shalat dan Ritme Kehidupan: Telaah Qur’an bil Qur’an atas Ayat-Ayat Waktu

4
×

Shalat dan Ritme Kehidupan: Telaah Qur’an bil Qur’an atas Ayat-Ayat Waktu

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor: asyary

 

Jakarta, PPMIndonesia.com- Dalam praktik keagamaan umat Islam, shalat sering dipahami terutama sebagai ritual yang terikat waktu. Pagi, siang, sore, dan malam diperlakukan sebagai jadwal kewajiban yang harus ditunaikan. Sejumlah ayat Al-Qur’an kemudian dipahami sebagai penetapan langsung waktu-waktu shalat. Namun, pendekatan Qur’an bil Qur’an—yakni menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an—mengajak kita meninjau ulang pemahaman tersebut.

Apakah ayat-ayat waktu dalam Al-Qur’an semata-mata mengatur jadwal ibadah, ataukah ia sedang membangun ritme kehidupan beriman, di mana shalat menjadi bagian dari kesadaran hidup yang menyeluruh?

Waktu sebagai Ritme Kesadaran dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an berulang kali menyebut waktu bukan dalam bentuk jam dan hitungan, melainkan sebagai fase dan peralihan kehidupan. Hal ini tampak jelas dalam QS Ar-Rum (30): 17–18:

فَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ
وَلَهُ ٱلْحَمْدُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَعَشِيًّۭا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

“Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kamu memasuki malam dan ketika kamu memasuki pagi. Dan bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi, pada waktu petang dan ketika kamu berada di waktu zuhur.”

Ayat ini tidak menyebut perintah shalat secara eksplisit, melainkan mengajak manusia menjaga kesadaran ilahiah sepanjang perputaran waktu. Tasbih dan hamd menjadi bahasa spiritual untuk merespons perubahan fase kehidupan.

Shalat dalam Rentang Waktu, Bukan Sekadar Jadwal

Perintah shalat dalam Al-Qur’an juga disampaikan dengan bahasa rentang, bukan rincian teknis. QS Hud (11): 114 menyatakan:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ

“Dirikanlah shalat pada dua ujung siang dan pada bagian-bagian malam.”

Pendekatan Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa ayat ini berbicara tentang kesinambungan relasi dengan Allah dalam alur kehidupan, bukan pembagian matematis waktu. Al-Qur’an tidak menyebut jumlah rakaat atau jam tertentu, melainkan menekankan kehadiran shalat dalam ritme hidup manusia.

QS 24:58 dan Dimensi Manusiawi Waktu

Makna waktu sebagai kondisi manusia juga tampak dalam QS An-Nur (24): 58:

ثَلَـٰثُ عَوْرَٰتٍۢ لَّكُمْ

“…Itulah tiga waktu aurat bagimu.”

Ayat ini menjelaskan pagi, tengah hari, dan malam sebagai fase kerentanan dan privasi manusia—waktu istirahat, kelelahan, dan keintiman. Dengan demikian, waktu dalam Al-Qur’an dipahami sebagai situasi manusiawi yang membutuhkan adab, bukan sekadar titik ritual.

Shalat hadir di tengah ritme itu sebagai penjaga kesadaran, bukan sebagai beban yang terpisah dari kehidupan.

Shalat dan Tujuan Etis Kehidupan

Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat memiliki tujuan etis yang jelas, sebagaimana QS Al-‘Ankabut (29): 45:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat seharusnya membentuk karakter dan perilaku, bukan berhenti pada ketepatan waktu dan gerakan. Ketika shalat dipisahkan dari ritme kehidupan nyata, maka tujuan etis ini berisiko tidak tercapai.

Waktu sebagai Amanah dan Ujian

Al-Qur’an bahkan menjadikan waktu sebagai objek sumpah, sebagaimana QS Al-‘Ashr (103): 1–2:

وَٱلْعَصْرِ ۝ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”

Ayat ini menegaskan bahwa cara manusia mengelola waktu menentukan kualitas iman dan amalnya. Shalat, dalam konteks ini, menjadi penanda kesadaran terhadap nilai waktu, bukan sekadar rutinitas yang terlepas dari kehidupan.

Pendekatan Qur’an bil Qur’an memperlihatkan bahwa ayat-ayat waktu dalam Al-Qur’an tidak semata-mata menetapkan jadwal ibadah, melainkan membangun ritme kehidupan beriman. Dari pagi hingga malam, shalat dihadirkan sebagai poros kesadaran, yang menautkan aktivitas manusia dengan nilai ilahiah.

Dengan memahami shalat sebagai bagian dari ritme kehidupan, umat Islam diajak untuk menjadikan seluruh waktu—kerja, istirahat, relasi sosial, dan ibadah—sebagai ruang pengabdian yang bermakna. Di situlah shalat tidak berhenti sebagai kewajiban ritual, tetapi benar-benar menjadi jalan pembentukan manusia yang beriman dan berakhlak. (syahida)

Example 120x600