Scroll untuk baca artikel
Berita

Kesalahan Fatal Umat: Menyebut Nasib Buruk sebagai Takdir

9
×

Kesalahan Fatal Umat: Menyebut Nasib Buruk sebagai Takdir

Share this article

Penulis: syahida| Editor: asyary|

Meluruskan Cara Beriman agar Tuhan Tidak Dijadikan Kambing Hitam

Jakarta|PPMIndonesia.com- Dalam percakapan sehari-hari, kata takdir sering menjadi jawaban cepat atas berbagai persoalan hidup. Ketika kemiskinan menjerat, pendidikan tertinggal, atau moral masyarakat merosot, tidak sedikit yang berkata, “Ini sudah takdir Allah.” Kalimat itu terdengar religius, tetapi jika tidak ditempatkan secara tepat, ia justru berisiko menggeser tanggung jawab manusia dan secara tidak sadar menuduh Tuhan sebagai penyebab kegagalan.

Pendekatan Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan sikap pasrah yang membutakan akal. Sebaliknya, kitab suci ini berkali-kali menegaskan bahwa banyak kesulitan hidup justru lahir dari perbuatan manusia sendiri.

Al-Qur’an Membongkar Mentalitas Menyalahkan Takdir

Salah satu ayat yang paling tegas tentang hal ini adalah:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Musibah apa pun yang menimpamu adalah akibat perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syura [42]: 30)

Ayat ini menjadi kritik keras terhadap kecenderungan manusia memindahkan kesalahan ke langit. Tidak semua penderitaan berasal dari ketetapan mutlak Allah; sebagian besar adalah konsekuensi dari pilihan, sistem sosial, dan tindakan manusia.

Dalam ayat lain, Al-Qur’an menegaskan prinsip yang sama:

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah sama sekali tidak zalim terhadap hamba-hamba-Nya.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 182)

Jika setiap nasib buruk disebut takdir, maka secara tidak langsung manusia sedang menuduh Allah tidak adil. Padahal Al-Qur’an justru menegaskan keadilan-Nya.

Mengapa Kesalahan Ini Terus Terulang?

Secara psikologis, menyebut semua hal sebagai takdir memang terasa menenangkan. Ia menghapus rasa bersalah dan menutup ruang evaluasi diri. Namun secara teologis, sikap ini berbahaya karena mengaburkan batas antara ketetapan Allah dan tanggung jawab manusia.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan sosial tidak datang dari langit, tetapi dari tindakan manusia sendiri:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum [30]: 41)

Ayat ini relevan untuk membaca berbagai krisis modern—dari kerusakan lingkungan hingga ketimpangan sosial—yang sering dibungkus dengan narasi takdir, padahal jelas merupakan akibat dari pilihan kolektif manusia.

Antara Iman dan Tanggung Jawab

Para ulama klasik maupun modern telah mengingatkan bahaya memahami takdir secara keliru. Imam Al-Ghazali menulis bahwa memahami takdir tanpa usaha adalah bentuk ketidaksempurnaan akal, karena syariat selalu mengaitkan iman dengan amal.

Sementara itu, Nurcholish Madjid pernah mengatakan:

“Keimanan yang benar tidak menjadikan manusia pasif, tetapi justru mendorongnya menjadi agen perubahan.”

Pernyataan ini sejalan dengan prinsip Al-Qur’an bahwa perubahan sosial tidak akan terjadi tanpa perubahan manusia itu sendiri.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)

Ayat ini bukan berarti Allah mengikuti kehendak manusia, melainkan menunjukkan bahwa Allah menetapkan hukum perubahan yang harus dijalani manusia melalui usaha dan kesadaran.

Iman yang Meluruskan, Bukan Melemahkan

Menyebut semua nasib buruk sebagai takdir adalah kesalahan fatal karena ia mematikan semangat perbaikan. Padahal Al-Qur’an memanggil manusia untuk menjadi subjek sejarah, bukan sekadar korban keadaan.

Takdir memang ada, tetapi ia bukan alasan untuk berhenti berikhtiar. Nasib buruk yang lahir dari kelalaian manusia harus diakui sebagai tanggung jawab manusia, bukan dialihkan kepada Tuhan.

Iman yang matang justru lahir ketika manusia mampu berkata jujur: ada hal yang memang ditetapkan Allah di luar pilihan kita, tetapi ada pula hal yang sepenuhnya merupakan hasil dari langkah yang kita ambil sendiri.

Artikel ini bagian dari serial kajian “Takdir, Nasib, dan Tanggung Jawab Manusia” dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an.

 

Example 120x600