Jakarta|PPMIndonesia.com- Setiap Ramadhan, umat Islam memasuki bulan suci dengan semangat yang sama, tetapi sering kali dengan perbedaan cara pandang. Dari penentuan awal puasa hingga praktik ibadahnya, perbedaan tafsir kerap muncul. Sebagian menjadikannya kekayaan intelektual, tetapi tidak jarang pula berubah menjadi perdebatan yang melelahkan.
Padahal, jika kembali langsung kepada Al-Qur’an, puasa bukan sekadar ritual yang diwariskan dalam bentuk “masakan siap saji” dari tradisi fikih masa lalu. Ia adalah ajakan untuk membaca, memahami, dan menyaksikan (syahida) makna wahyu secara sadar. Di sinilah pentingnya pendekatan Qur’an bil Qur’an: membiarkan ayat-ayat Al-Qur’an saling menjelaskan dirinya sendiri.
Seruan kepada Orang Beriman
Ayat puasa dimulai dengan panggilan yang sangat spesifik:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Menariknya, Al-Qur’an tidak menggunakan panggilan “wahai orang-orang yang berislam”, tetapi “orang-orang yang beriman”. Ini menunjukkan bahwa puasa berangkat dari kesadaran iman, bukan sekadar identitas formal.
Penegasan ini selaras dengan ayat lain:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا
“Orang-orang Arab Badui berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah berislam.’”
(QS. Al-Hujurat: 14)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa tidak semua yang berislam otomatis telah mencapai kualitas iman. Puasa, dengan demikian, adalah proses menuju kedalaman spiritual itu.
Makna “Kutiba”: Ketika Puasa Dituliskan
Frasa “kutiba ‘alaikumus siyām” bukan sekadar bahasa hukum biasa. Kata kutiba berarti “dituliskan”, memberi kesan adanya ketetapan ilahi yang kokoh dan berkesinambungan. Istilah serupa digunakan dalam ayat lain:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ
“Diwajibkan atas kamu berperang…”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Penggunaan kata ini menunjukkan bahwa puasa adalah bagian dari sistem pendidikan spiritual yang terstruktur dalam wahyu, bukan hanya perintah sesaat. Bahkan, Al-Qur’an menegaskan bahwa praktik ini telah ada pada umat-umat sebelumnya:
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
“Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu…”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Syekh Muhammad Abduh pernah menekankan bahwa bahasa Al-Qur’an sering mengandung pesan etika yang melampaui sekadar legalitas hukum. Puasa bukan hanya kewajiban formal, tetapi sarana pembentukan kesadaran manusia.
La‘allakum Tattaqūn: Taqwa sebagai Kesadaran Hidup
Tujuan puasa dirumuskan dalam kalimat yang singkat namun mendalam:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kamu bertakwa.”
Sering kali takwa dipahami sebagai kesempurnaan menjalankan semua perintah dan menjauhi seluruh larangan. Namun akar kata waqā justru menunjuk pada makna menjaga diri, waspada, dan membangun kesadaran. Puasa melatih manusia untuk berhenti sejenak, menimbang setiap langkah, dan menyadari keterbatasan dirinya.
Cendekiawan Muslim Fazlur Rahman menilai bahwa etika Al-Qur’an bukanlah sistem yang kaku, melainkan proses moral yang hidup dan kontekstual. Dalam kerangka itu, takwa adalah perjalanan, bukan label yang selesai sekali jadi.
Syariat yang Berpihak pada Kemudahan
Ayat-ayat puasa tidak hanya berbicara tentang kewajiban, tetapi juga tentang keringanan:
فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Barang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka (ganti) pada hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 184–185)
Kemudian ditegaskan prinsip universal syariat:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menjadi landasan penting bahwa hukum Islam tidak dimaksudkan untuk memberatkan manusia. Perbedaan tafsir yang lahir sepanjang sejarah justru mencerminkan upaya para ulama membaca realitas kehidupan yang terus berubah.
Nurcholish Madjid pernah menegaskan bahwa esensi agama adalah kemanusiaan yang memuliakan, bukan sistem yang memenjarakan.
Kedekatan Ilahi di Tengah Lapar dan Dahaga
Di tengah rangkaian ayat puasa, Al-Qur’an menyisipkan pesan spiritual yang sangat intim:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Kedekatan ini bukan soal jarak fisik, melainkan kedalaman rasa. Puasa membuka ruang sunyi di dalam diri manusia, tempat doa dan harapan menemukan maknanya.
Dari Ritual ke Kepedulian Sosial
Ramadhan tidak hanya melatih kesabaran individu, tetapi juga menumbuhkan empati sosial. Lapar mengajarkan rasa; dahaga menumbuhkan kepedulian. Tidak heran jika di bulan puasa, masyarakat lebih mudah berbagi, lebih ringan membantu tetangga, dan lebih peka terhadap penderitaan sesama.
Di sinilah makna takwa menjadi nyata: bukan sekadar ritual, tetapi tindakan sosial yang menghadirkan rahmat.
Penutup
Mungkin selama ini kita terlalu sering mengonsumsi hasil tafsir yang sudah matang tanpa berani kembali membaca sumbernya. Padahal Al-Qur’an mengajak setiap orang beriman untuk menyaksikan sendiri maknanya. Kata kutiba dalam ayat puasa mengingatkan bahwa ibadah ini bukan hanya perintah formal, melainkan undangan untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih sadar.
Puasa yang “dituliskan” bukanlah beban, tetapi jalan pembebasan — dari ego, dari kesombongan, dan dari ketidakpedulian sosial. Sebab pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, melainkan tentang belajar menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama. (syahida)



























