Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Antara Jabariyah, Qadariyah, dan Jalan Tengah Al-Qur’an

8
×

Antara Jabariyah, Qadariyah, dan Jalan Tengah Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran| Editor: asyary

Menemukan Keseimbangan antara Kehendak Allah dan Ikhtiar Manusia

Jakarta|PPMIndonesia.com- Perdebatan tentang takdir dan kehendak manusia bukanlah tema baru dalam sejarah Islam. Sejak masa awal, muncul dua kecenderungan ekstrem: kelompok yang meniadakan peran manusia karena semua dianggap sudah ditentukan, dan kelompok yang menekankan kebebasan manusia secara mutlak hingga seolah-olah Tuhan hanya menjadi penonton.

Namun ketika Al-Qur’an dibaca dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, tampak bahwa kitab suci ini tidak berdiri di salah satu kutub ekstrem tersebut. Ia menghadirkan jalan tengah: Allah berkehendak atas segala sesuatu, tetapi manusia tetap memiliki ruang memilih yang menjadi dasar tanggung jawabnya.

Ketika Takdir Dipahami sebagai Paksaan

Sebagian orang memandang hidup sepenuhnya digerakkan oleh takdir. Dalam pandangan ini, manusia seperti wayang yang tidak memiliki peran apa pun selain menjalani skenario yang sudah selesai ditulis. Padahal Al-Qur’an berkali-kali memanggil manusia untuk berpikir, memilih, dan bertanggung jawab.

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
(QS. Al-Insan [76]: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk diberikan, tetapi respons terhadap petunjuk itu tetap menjadi wilayah pilihan manusia. Jika manusia sepenuhnya dipaksa, maka seruan untuk memilih tidak memiliki makna.

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan:

“Seandainya manusia dipaksa, niscaya gugurlah pahala dan siksa.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa tanggung jawab moral hanya mungkin jika ada ruang kebebasan.

Ketika Kebebasan Manusia Dianggap Mutlak

Di sisi lain, ada pandangan yang menempatkan manusia sebagai penentu mutlak nasibnya. Dalam cara pandang ini, seolah-olah segala sesuatu bergantung sepenuhnya pada usaha manusia. Namun Al-Qur’an tidak pernah meniadakan kehendak Allah.

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. At-Takwir [81]: 29)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kebebasan manusia tidak berdiri sendiri. Kehendak manusia berada dalam sistem kehendak Allah yang lebih luas.

Imam Al-Ghazali pernah menulis bahwa memahami takdir tanpa mengakui peran usaha manusia adalah kekeliruan, tetapi menganggap usaha manusia sepenuhnya berdiri sendiri juga merupakan penyimpangan dari tauhid.

Jalan Tengah Al-Qur’an

Al-Qur’an tidak memihak ekstrem determinisme maupun kebebasan mutlak. Ia menggabungkan keduanya dalam keseimbangan yang unik: manusia memiliki pilihan nyata, tetapi pilihan itu berlangsung dalam kehendak Allah.

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ
“Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan lurus.”
(QS. At-Takwir [81]: 28)

Ayat ini memberi ruang bagi kehendak manusia. Namun ayat berikutnya langsung mengingatkan batasnya—bahwa kehendak itu tetap berada dalam kehendak Allah. Inilah keseimbangan Qur’ani yang sering hilang ketika perdebatan teologi berubah menjadi pertarungan konsep.

Ibnu Taimiyah pernah merumuskan secara ringkas:

“Hamba memiliki kehendak yang nyata, dan Allah adalah Pencipta kehendak itu.”

Rumusan ini menunjukkan bahwa jalan tengah bukan kompromi, melainkan integrasi antara iman kepada takdir dan tanggung jawab moral manusia.

Tanggung Jawab sebagai Inti Jalan Tengah

Al-Qur’an mengarahkan manusia agar tidak menyalahkan takdir atas kesalahan yang lahir dari pilihan sendiri.

مَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Apa saja keburukan yang menimpamu adalah dari dirimu sendiri.”
(QS. An-Nisa [4]: 79)

Ayat ini tidak meniadakan peran Allah, tetapi mengingatkan bahwa banyak masalah hidup adalah konsekuensi dari tindakan manusia. Jalan tengah Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar: percaya pada ketetapan Allah tanpa kehilangan rasa tanggung jawab.

Penutup

Perdebatan antara Jabariyah dan Qadariyah mungkin tidak pernah benar-benar selesai dalam sejarah teologi. Namun Al-Qur’an menawarkan perspektif yang melampaui dikotomi itu. Allah Maha Berkehendak, tetapi manusia tetap diberi ruang memilih. Dari ruang itulah lahir pahala, dosa, dan makna kehidupan.

Iman yang dewasa bukan iman yang pasrah tanpa usaha, dan bukan pula iman yang merasa mampu berdiri tanpa Tuhan. Ia adalah iman yang berjalan di tengah—mengakui kehendak Allah sekaligus berani memikul tanggung jawab sebagai manusia. (syahida)

Artikel ini merupakan bagian dari serial kajian “Takdir, Nasib, dan Tanggung Jawab Manusia” dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an.

Example 120x600