Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Diplomasi Spiritual untuk Kemaslahatan Seluruh Umat Manusia di Bumi

7
×

Diplomasi Spiritual untuk Kemaslahatan Seluruh Umat Manusia di Bumi

Share this article

Penulis: jacob ereste|Editor:asyary

Banten|PPMIndonesia.comPolitik luar negeri Indonesia sejatinya dapat beranjak dari kesadaran akan peran spiritual yang telah lama mengakar dalam kepribadian bangsa. Kesadaran ini bukan sekadar ornamen moral, melainkan sumber nilai yang memberi makna, arah, dan daya pembeda dalam tata pergaulan internasional. Di tengah dunia yang kian pragmatis dan transaksional, kecerdasan spiritual bangsa Indonesia dapat menjadi nilai tambah yang khas—melengkapi identitas Indonesia sebagai bangsa religius yang mewarisi kebudayaan Timur yang santun, inklusif, dan menjunjung harmoni.

Religiusitas yang hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia dapat tercermin dalam politik diplomasi yang berwawasan spiritual. Diplomasi semacam ini tidak berhenti pada retorika moral, melainkan hadir dalam kerja nyata di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan keagamaan. Ia menembus sekat-sekat sempit kepentingan, tanpa kehilangan pijakan pada prinsip etika dan akhlak. Dalam dunia yang semakin terbuka dan saling terhubung, pendekatan spiritual justru menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan.

Indonesia memiliki pengalaman historis yang unik: masyarakat majemuk yang memberi ruang setara bagi umat beragama dan organisasi keagamaan untuk hidup rukun dan harmonis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Warisan budaya para leluhur Nusantara yang memadukan keberagaman dalam persatuan adalah modal sosial yang tak ternilai. Modal inilah yang dapat diterjemahkan ke dalam wajah diplomasi luar negeri yang lebih berkarakter dan berkepribadian.

Dalam percaturan global, Indonesia berpotensi menempati posisi strategis dengan mengusung politik luar negeri yang sarat nilai spiritual. Dunia saat ini tengah mencari bentuk baru peradaban—di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melesat cepat, namun sering kali tertinggal dalam tuntunan etika dan moral. Di sinilah diplomasi spiritual dapat berperan: memastikan bahwa kemajuan sains dan teknologi tetap berpijak pada kesadaran manusia sebagai ciptaan Tuhan, sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.

Ajaran agama-agama samawi—Abrahamik—mengandung pesan universal tentang rahmatan lil ‘alamin: kasih sayang yang meliputi seluruh alam. Prinsip ini menegaskan adanya keselarasan antara Tuhan, manusia, dan alam dalam satu siklus harmoni. Manusia, sejauh apa pun melangkah dan setinggi apa pun pencapaiannya, pada akhirnya akan kembali kepada sumber asalnya. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi fondasi etik dalam membangun tata dunia yang adil dan beradab.

Diplomasi spiritual global yang telah mulai dirintis oleh Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) patut dipandang sebagai langkah awal menuju percakapan global yang lebih bermakna. Gagasan ini dapat dikembangkan menjadi skenario besar—sebuah pakem bersama—yang mengajak umat manusia menyadari bahwa eksistensinya di bumi bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling melengkapi. Gerakan kesadaran spiritual perlu diimplementasikan dalam berbagai sektor kehidupan agar tatanan dunia bergerak menuju harmoni, kenyamanan, dan kebahagiaan bersama, tanpa monopoli oleh kekuatan mana pun.

Pada akhirnya, diplomasi spiritual bukan sekadar jurus dalam strategi hubungan internasional. Ia adalah landasan pijak dan arah gerak seluruh aktivitas kebangsaan dalam relasinya dengan dunia. Diplomasi ini menempatkan nilai kemanusiaan sejati sebagai pusat orientasi—menguatkan persahabatan hingga persaudaraan lintas bangsa, budaya, dan agama.

Jika Indonesia mampu merumuskan dan menjalankan diplomasi spiritual secara konsisten, maka bangsa ini tidak hanya hadir sebagai kekuatan politik atau ekonomi, tetapi sebagai penuntun moral yang menawarkan keseimbangan di tengah kegelisahan global. Dan dari sanalah, kemaslahatan bagi seluruh umat manusia di bumi dapat menemukan maknanya yang paling dalam: hidup bersama dalam harmoni, dengan kesadaran bahwa kita semua adalah bagian dari satu ciptaan yang sama. (Jacob Ereste)

Example 120x600