Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Menggali Makna Jumu‘ah Melalui Jejak Kata J-M-‘ dalam Al-Qur’an

6
×

Menggali Makna Jumu‘ah Melalui Jejak Kata J-M-‘ dalam Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida-Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap kata dalam Al-Qur’an mengandung makna yang presisi. Karena itu, salah satu metode paling aman dalam memahami istilah Qur’ani adalah membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri—Qur’an bil Qur’an.

Dalam pendekatan syahida, kita “menyaksikan” bagaimana sebuah kata digunakan di seluruh ayat, lalu menarik makna berdasarkan konsistensi penggunaannya.

Tulisan ini mencoba menggali makna al-jumu‘ah (الجمعة) dengan menelusuri seluruh jejak akar katanya: ج م ع (jīm–mīm–‘ayn).

Akar Kata J-M-‘: Selalu Tentang Pengumpulan

Secara konsisten, seluruh derivasi akar kata J-M-‘ dalam Al-Qur’an bermakna:

  • Mengumpulkan
  • Menghimpun
  • Menyatukan
  • Berkumpul bersama

Mari kita saksikan beberapa penggunaannya.

a. Pengumpulan Manusia

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia pada suatu hari yang tidak ada keraguan padanya.”
(QS 3:9)

Kata جَامِعُ (jāmi‘u) jelas berarti Yang Mengumpulkan.

b. Berkumpul Secara Bersama-sama

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS 3:103)

Kata جَمِيعًا (jamī‘an) berarti semuanya, bersama-sama.

c. Hari Perhimpunan

ذَٰلِكَ يَوْمُ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ
“Itulah hari perhimpunan, tidak ada keraguan padanya.”
(QS 11:103)

Istilah يَوْمُ الْجَمْعِ (yawm al-jam‘) berarti hari pengumpulan—merujuk pada Hari Kiamat.

d. Menghimpun dan Menimbun

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ
“Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”
(QS 104:2)

Di sini, جَمَعَ (jama‘a) bermakna mengumpulkan atau menimbun.

Al-Jumu‘ah dalam QS 62:9

Satu-satunya ayat yang menggunakan bentuk al-jumu‘ah adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk shalat pada hari al-jumu‘ah, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS 62:9)

Jika kita kembali kepada pola penggunaan akar kata J-M-‘, maka secara leksikal:

al-jumu‘ah = hari perhimpunan / hari berkumpul

Tidak ada penggunaan lain dalam Al-Qur’an yang menunjukkan makna angka atau urutan hari dalam satu pekan.

Fakta Tekstual yang Dapat Disaksikan

Dengan metode syahida (menyaksikan langsung jejak kata dalam Al-Qur’an), kita menemukan:

  1. Akar J-M-‘ selalu berkaitan dengan pengumpulan.
  2. Tidak pernah digunakan untuk menunjuk “hari keenam” atau “Friday” dalam arti kalenderik.
  3. Al-Qur’an tidak merinci sistem pekan tujuh hari secara eksplisit.

Namun demikian, QS 62:9 menunjukkan bahwa:

  • Ada momentum kolektif.
  • Ada penghentian aktivitas ekonomi.
  • Ada prioritas menuju dzikrullah secara bersama.

Ini menunjukkan dimensi sosial-spiritual yang kuat.

Seruan Universal: Bukan Soal Gender

Ayat ini diawali dengan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman”

Seruan ini bersifat umum—sebagaimana seruan puasa Ramadan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…”
(QS 2:183)

Maka secara teks, syarat utama adalah keimanan, bukan jenis kelamin.

Antara Teks dan Tradisi

Kajian Qur’an bil Qur’an tidak bertujuan menggugurkan tradisi, melainkan menempatkan teks sebagai rujukan utama.

Pertanyaan yang perlu terus direnungkan:

  • Apakah al-jumu‘ah menunjuk pada nama hari tertentu?
  • Ataukah ia menunjuk pada momentum perhimpunan iman?

Jawaban atas pertanyaan ini membutuhkan keluasan ilmu dan kerendahan hati.

Kembali kepada Al-Furqan

Allah mengingatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS 17:36)

Dan juga:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”
(QS 4:82)

Menggali makna Jumu‘ah melalui jejak kata J-M-‘ adalah bagian dari upaya tadabbur itu.

Boleh jadi, Jumat bukan sekadar nama hari—melainkan simbol pertemuan hati, penghimpunan iman, dan prioritas kolektif menuju dzikrullah.

Wallāhu a‘lam bi murādih.
Allah lebih mengetahui maksud firman-Nya.

Penulis adalah pemerhati kajian Qur’an bil Qur’an dan refleksi sosial-keagamaan.

Example 120x600