Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ramadan dan Krisis Pemahaman: Membaca Kembali QS Al-Baqarah 183–185

6
×

Ramadan dan Krisis Pemahaman: Membaca Kembali QS Al-Baqarah 183–185

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Setiap tahun, umat Islam menyambut Ramadan dengan gegap gempita. Masjid ramai, kajian marak, dan semangat berbagi meningkat. Namun di tengah ritual yang terus berulang, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar memahami pesan Al-Qur’an tentang puasa?

Tulisan ini mencoba membaca kembali tiga ayat kunci tentang puasa dalam QS Al-Baqarah 183–185 melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, yakni menafsirkan ayat dengan merujuk kepada ayat lain yang relevan dalam Al-Qur’an. Pendekatan ini juga memanfaatkan analisis makna kata, khususnya pada istilah kutiba, syahida, dan syahr, yang kerap disederhanakan dalam praktik.

Puasa sebagai Ketetapan Universal (QS Al-Baqarah: 183)

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Kata kutiba (كُتِبَ) berarti “ditetapkan” atau “ditetapkan secara sistemik”. Dalam Al-Qur’an, kata ini juga digunakan dalam konteks hukum yang pasti, seperti:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ
“Diwajibkan atas kamu berperang…”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Artinya, puasa bukan sekadar anjuran spiritual, melainkan ketetapan yang menjadi bagian dari sistem pembinaan umat. Bahkan ayat ini menegaskan kesinambungan sejarah: puasa bukan hanya milik umat Nabi Muhammad SAW, tetapi tradisi kenabian sebelumnya.

Tujuannya jelas: la‘allakum tattaqūn — agar lahir kesadaran takwa. Takwa bukan sekadar menahan lapar, tetapi kesadaran moral yang hidup.

Syahr dan Bilangan: Struktur Waktu dalam Puasa (QS Al-Baqarah: 184–185)

Allah melanjutkan:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ
“(Yaitu) beberapa hari yang tertentu.”
(QS. Al-Baqarah: 184)

Puasa ditegaskan sebagai sistem waktu yang terhitung (ma‘dūdāt). Ini selaras dengan ayat lain:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا
“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah dua belas bulan.”
(QS. At-Taubah: 36)

Al-Qur’an memandang waktu sebagai sistem teratur. Ketika sampai pada ayat 185, Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Istilah yang digunakan adalah syahr (bulan sebagai periode waktu), bukan qamar (bulan sebagai benda langit). Ini penting: Ramadan adalah struktur waktu yang telah ditetapkan dalam sistem ilahi.

Ayat lain menegaskan bahwa peredaran bulan tunduk pada perhitungan:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”
(QS. Ar-Rahman: 5)

Maka Ramadan bukan sekadar momentum emosional, melainkan bagian dari sistem kosmik yang presisi.

“Man Syahida Minkumusy-Syahra”: Menyaksikan atau Menyadari?

Ayat yang sering menjadi perbincangan adalah:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Maka barang siapa di antara kamu yang menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Kata syahida tidak selalu berarti “melihat dengan mata”. Dalam Al-Qur’an, kata ini juga bermakna memberi kesaksian dengan kesadaran dan pengetahuan yang pasti, seperti:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia…”
(QS. Ali ‘Imran: 18)

Dalam konteks Ramadan, frasa syahida asy-syahr dapat dipahami sebagai menyadari atau memastikan masuknya periode Ramadan dalam sistem waktu yang telah Allah tetapkan.

Pendekatan Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa ayat ini tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan ayat tentang hisab (QS. Yunus: 5) dan bilangan waktu.

Krisis Pemahaman: Ritual atau Transformasi?

Bagian akhir ayat 185 sering terabaikan:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“…Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ada tiga tujuan utama:

  1. Menyempurnakan bilangan (disiplin waktu)
  2. Mengagungkan Allah (kesadaran teologis)
  3. Bersyukur (transformasi batin)

Krisis pemahaman muncul ketika puasa direduksi menjadi sekadar menahan lapar, tanpa kesadaran sistemik dan transformasi moral.

Kembali pada Petunjuk

QS Al-Baqarah 183–185 membangun kerangka puasa yang utuh:

  • Ia adalah ketetapan ilahi (kutiba)
  • Ia berlangsung dalam sistem waktu yang terhitung (syahr, ma‘dūdāt)
  • Ia harus disadari secara penuh (syahida)
  • Tujuannya adalah takwa dan syukur

Dengan membaca ayat-ayat ini melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita diajak keluar dari krisis pemahaman menuju kedalaman makna.

Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah madrasah waktu yang Allah tetapkan untuk membentuk manusia bertakwa. (syahida)

Example 120x600