Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Beragama Fast Food: Saatnya Kembali ke Bahan Baku Wahyu

4
×

Beragama Fast Food: Saatnya Kembali ke Bahan Baku Wahyu

Share this article

Kajian Syahida-Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Di tengah derasnya arus media sosial, keberagamaan sering kali berubah menjadi konsumsi cepat saji. Potongan ayat beredar tanpa konteks, kutipan hadis dipakai tanpa penjelasan, dan kesimpulan hukum dibagikan tanpa proses pendalaman. Agama menjadi seperti fast food: cepat, praktis, tetapi minim nutrisi reflektif.

Padahal Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa wahyu diturunkan untuk direnungi secara mendalam:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
(QS. Shad [38]: 29)

Kata liyaddabbarū (agar mereka mentadabburi) menunjukkan proses, bukan hasil instan.

Qur’an bil Qur’an: Membaca Secara Menyeluruh

Pendekatan Qur’an bil Qur’an berarti memahami satu ayat dalam cahaya ayat lainnya. Metode ini menjaga agar makna tidak terlepas dari bangunan utuh wahyu.

Al-Qur’an menantang manusia untuk membaca secara integral:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”
(QS. An-Nisa [4]: 82)

Ayat ini menegaskan koherensi internal Al-Qur’an. Memotong ayat dari keseluruhannya berisiko melahirkan pemahaman yang timpang.

Ketika Ayat Dipakai Tanpa Ruhnya

Beragama secara instan sering kali menjadikan ayat sebagai alat pembenaran. Padahal Al-Qur’an juga mengingatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra [17]: 36)

Ayat ini mengajarkan tanggung jawab epistemik: berbicara atas nama agama memerlukan dasar ilmu dan kesadaran.

Wahyu sebagai Petunjuk, Bukan Slogan

Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai petunjuk universal:

هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
(QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Petunjuk menuntut keterlibatan aktif manusia. Ia bukan sekadar slogan yang diulang, melainkan cahaya yang membimbing proses berpikir dan bertindak.

Dalam ayat lain ditegaskan:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra [17]: 9)

Jalan yang lurus (aqwam) mengisyaratkan keseimbangan, bukan ekstremitas.

Perspektif Syahida: Kesaksian yang Sadar

Kajian Syahida memandang Al-Qur’an sebagai kesaksian ilahi yang mengajak manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri. Wahyu bukan sekadar dibaca, tetapi disaksikan dalam realitas hidup.

Al-Qur’an menggambarkan relasi ini:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah adalah cahaya langit dan bumi.”
(QS. An-Nur [24]: 35)

Cahaya tidak hanya dilihat, tetapi menerangi. Begitu pula wahyu: ia memberi orientasi moral dan spiritual.

Dari Konsumen ke Mujtahid Kesadaran

Beragama fast food menjadikan umat sebagai konsumen pasif. Kembali ke bahan baku wahyu berarti menjadi subjek yang berpikir, menimbang, dan memahami secara utuh.

Allah menegaskan prinsip tanggung jawab personal:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang beban hukum, tetapi juga tentang kapasitas akal dan hati dalam memahami wahyu.

Membangun Keberagamaan yang Matang

Agama tidak diturunkan untuk menjadi komoditas instan. Ia adalah jalan pembentukan karakter, kesadaran, dan tanggung jawab sosial. Membaca Al-Qur’an dengan Al-Qur’an menghadirkan keluasan perspektif dan kedalaman makna.

Di era digital ini, tantangannya bukan kekurangan informasi, tetapi kelangkaan refleksi. Maka saatnya kembali ke bahan baku wahyu—membuka mushaf, menautkan ayat dengan ayat, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber kesadaran, bukan sekadar kutipan.

Karena keberagamaan yang matang lahir dari tadabbur, bukan dari potongan-potongan yang dikonsumsi tanpa pemahaman. (syahida)

Example 120x600