Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap Ramadhan, masjid-masjid dipenuhi oleh jamaah tarawih. Semangat ibadah malam begitu terasa. Namun pertanyaannya: apakah ibadah malam Ramadhan telah kita pahami sesuai dengan struktur ayat-ayat Al-Qur’an? Apakah ia berdiri sebagai kewajiban, atau sebagai ruang spiritual yang fleksibel dan penuh hikmah?
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an—membaca ayat dengan ayat—serta kajian atas kata kunci syahida (menyaksikan/menghadiri), kita dapat menata ulang pemahaman tentang tarawih dan ibadah malam dalam bingkai yang lebih utuh.
Struktur Puasa dalam Al-Qur’an: Siang dan Malam yang Seimbang
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 187:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ…
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun pakaian bagi mereka…” (QS 2:187)
Ayat ini menunjukkan bahwa malam Ramadhan bukan hanya ruang ritual, tetapi juga ruang relasi keluarga. Ada keseimbangan antara spiritualitas dan kemanusiaan.
Selanjutnya Allah menegaskan:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS 2:187)
Perintah “sempurnakan puasa sampai malam” menunjukkan bahwa inti kewajiban ada pada puasa siang hari. Malam bukan diperintahkan sebagai kewajiban ibadah khusus yang memberatkan, melainkan ruang yang diberi keleluasaan dengan batas-batas tertentu (tilka hududullah).
Tujuan Puasa: Takwa, Bukan Beban
Struktur ayat puasa dimulai dari QS Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ… لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa… agar kamu bertakwa.” (QS 2:183)
Dan ditutup pada ayat 187 dengan:
كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.” (QS 2:187)
Awal dan akhir ayat puasa sama-sama menegaskan tujuan: takwa. Bukan sekadar memperbanyak ritual malam, bukan pula menjadikan Ramadhan sebagai bulan kelelahan fisik yang mengganggu keseimbangan hidup.
Bagaimana Teladan Nabi tentang Ibadah Malam?
Dalam riwayat yang masyhur, Nabi Muhammad ﷺ pernah shalat malam Ramadhan di masjid beberapa malam. Jamaah semakin banyak setiap malam. Namun pada malam berikutnya beliau tidak keluar.
Ketika ditanya, beliau menjelaskan bahwa beliau khawatir ibadah tersebut dianggap wajib oleh umatnya.
Pesan yang dapat dibaca dari peristiwa ini sangat jelas: ibadah malam Ramadhan bukanlah kewajiban kolektif yang harus dijalankan dengan tekanan sosial. Ia adalah ruang kesadaran spiritual yang sifatnya sukarela.
Jika dikaitkan dengan QS 2:187, maka malam Ramadhan memiliki tiga dimensi:
- Ruang relasi keluarga
- Ruang ibadah personal
- Ruang i’tikaf bagi yang mampu
Bukan ruang pemaksaan ritual yang melampaui batas keseimbangan.
Kajian “Syahida”: Menyaksikan Bulan atau Menghadiri Kesadaran?
Allah berfirman:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Barang siapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” (QS 2:185)
Kata syahida berarti menyaksikan, menghadiri, atau mengalami secara sadar. Puasa bukan hanya soal melihat hilal secara fisik, tetapi menyaksikan hadirnya bulan Ramadhan dengan kesadaran penuh.
Maka ibadah malam pun seharusnya lahir dari kesadaran, bukan sekadar mengikuti tradisi. Tarawih yang dilakukan tanpa memahami struktur ayat-ayat puasa berisiko menjadi rutinitas tanpa ruh.
Menata Ulang Makna Tarawih
Tarawih secara istilah tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Yang ada adalah perintah umum tentang qiyamullail, seperti dalam Surah Al-Muzzammil:
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ…
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau bangun (shalat) kurang dari dua pertiga malam…” (QS 73:20)
Ayat ini menunjukkan fleksibilitas. Bahkan Allah memberi keringanan karena mengetahui kondisi manusia.
Maka, menata ulang makna tarawih berarti:
- Tidak menjadikannya beban sosial
- Tidak menganggapnya kewajiban setara puasa
- Tidak mengabaikan fungsi malam sebagai ruang keluarga
- Tidak melupakan tujuan utama: takwa
Antara Masjid dan Rumah: Dimensi yang Terlupakan
Jika malam Ramadhan dihabiskan seluruhnya di masjid tanpa keseimbangan, sementara QS 2:187 justru menegaskan fungsi relasi keluarga, maka perlu ada perenungan ulang.
Islam bukan agama yang memutus hubungan keluarga demi ritual. Justru keluarga adalah bagian dari ibadah itu sendiri.
Di sinilah letak kebijaksanaan Nabi: beliau mencontohkan ibadah malam, tetapi tidak membebani umatnya. Beliau menjaga keseimbangan antara masjid dan rumah.
Kembali pada Spirit Ayat
Ramadhan bukan bulan kompetisi ritual, melainkan bulan pembentukan takwa. Ibadah malam adalah sarana, bukan tujuan.
QS 2:187 ditutup dengan peringatan:
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا
“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.” (QS 2:187)
Batas itu bukan hanya tentang makan dan hubungan suami-istri, tetapi juga tentang keseimbangan. Jangan sampai semangat ibadah melampaui hikmah yang telah Allah tetapkan.
Menata ulang makna tarawih berarti kembali kepada Al-Qur’an. Membaca ayat dengan ayat. Memahami struktur puasa secara utuh. Dan menjadikan Ramadhan sebagai ruang pembentukan manusia bertakwa—bukan sekadar manusia yang sibuk beribadah, tetapi lupa tujuan ibadah itu sendiri. (syahida)



























